Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Dua garis biru


__ADS_3

Pagi hari yang cerah akhirnya Naya sadar membuat Raka merasa lega dan tentunya perasannya kawatirnya seketika hilang melihat Naya sudah membuka kedua matanya.


"Mas....." suara lirih Naya terdengar masih lemas, Raka mengusap pucuk kepala Naya sambil tersenyum.


"Iya sayang, ini mas...." tutur Raka suaranya terdengar lembut.


"Peluk aku....!!" pinta Naya, seketika Raka langsung menuruti perintah dari istri kecilnya itu.


Naya-Naya baru sadar saja sudah minta di peluk-peluk sama suami, membuat Raka itu meronta-ronta dan tentunya ingin Naya cepat pulih agar bisa diajak main kuda-kudaan.


Raka memeluk Naya dengan hangat, berada di dalam pelukan suaminya rasanya sangat nyaman sekali.


"Mas baik-baik saja?" tanya Naya, mengingat kejadian di pesta malam itu.


"Mas baik-baik saja sayang, sekarang kamu sarapan dulu ya, biar kamu cepat sehat dan kamu cepat pulang dari rumah sakit," kata Raka dan Naya mengangguk pelan.


Raka melepaskan Naya dari pelukannya, lalu dia mengambil makanan yang ada di atas meja di dekat tempat tidur Naya.


Raka mengambil mangkok yang berisi bubur, lalu dengan telaten dan penuh perhatian Raka menyuapi Naya.


Setelah selesai menyuapi Naya, Raka mengompres Naya dan menganti pakaian Naya, sungguh Raka itu selalu berperan sebagai suami yang siaga dan penuh perhatian, membuat Naya tentunya semakin mencintainya.


Setelah selesai semuanya, Raka kembali duduk di kursi, lalu dia membacakan novel kesukaan Naya agar Naya tidak jenuh di rumah sakit.


*****


Pagi-pagi Tania sudah heboh, bahkan suaminya yang masih tertidur pulas di atas kasur bahkan masih selimutan dengan begitu tenang tapi Tania membuat Evan terbangun.


"Mas....."


"Mas....Evan...!!"

__ADS_1


Evan hanya bergulat, sangat malas sekali untuk bangun, apalagi semalam Evan tidak bisa tidur dengan tenang karena harus bergonta-ganti baju tidur, entah berapa kali?


"Mas Evannn.... bangun.....!!!"


Evan masih bergulat saja, hingga Tania menggoyang-goyangkan tubuh Evan agar terbangun dari tidurnya, karena Tania terus rusuh akhirnya Evan terbangun.


"Apa sih sayang?" tanya Evan, terdengar suaranya masih mengantuk.


"Buka mata mas...!!" seru Tania antusias.


Evan menghela nafas pelan, istrinya ini kenapa? Pagi-pagi sudah heboh tidak jelas.


"Iya sayang, ini mas buka. Katakan ada apa?" tanya Evan, kini kedua matanya menatap wajah cantik Tania yang saat ini terlihat kesal.


"Lihat ini.....!!" Tania menunjukkan sebuah tespeck yang menunjukkan dua garis biru.


Evan mengambil tespeck itu, lalu memperhatikan dua garis kecil itu, seketika mata Evan membulat sempurna tidak percaya.


"Sayang ini.....?"


"Mas, ini bukan mimpi, aku memang hamil mas......!!!" seru Tania, lalu langsung memeluk Evan dengan erat.


"Sayang, kamu sungguh hamil?" Evan masih belum percaya.


"Sungguh mas." Tania menyakinkan Evan, Evan yang tidak tahu harus menjawab apa? Akhirnya Evan membalas pelukan Tania dengan erat.


Semalam waktu Evan sudah tertidur nyenyak, tidak sengaja Tania melihat kalender dan Nia melihat kalau datang bulannya itu sudah telat satu minggu lebih, Tania terdiam lalu dia berpikir apakah aku sudah hamil? Akhirnya Tania memutuskan pagi-pagi sekali untuk mengetes kehamilannya, untung saja waktu itu Evan iseng membeli satu pak tespeck hanya untuk mengetes kehamilan Tania dan akhirnya tespeck yang Evan beli waktu itu hari ini menunjukkan kabar bahagia.


"Aku harus memberitahu Raka dan Reza, mereka harus tahu kalau aku akan menjadi seorang ayah......!!" Evan melepaskan Tania dari dalam pelukannya, sungguh pagi ini Evan sangat bahagia sekali.


"Kita juga harus kasih tau mama....!!" sambung Evan, kali ini wajah Evan benar-benar bahagia sekali.

__ADS_1


Tania hanya mengangguk, tidak menyangka kalau suaminya akan seantusias ini saat mendengar kabar kehamilannya.


Pagi ini Evan langsung mengajak Tania mandi bersama, karena ingin buru-buru pergi ketemu dengan Raka, Naya dan Ibunya. Rasanya tidak sabar memberitahu kabar bahagia ini pada semuanya.


*****


Di hotel tempat Reza dan Amel menginap, Reza dan Amel baru saja selesai sarapan berdua sebagai sepasang suami-istri.


Kini mereka berdua kembali ke kamar, di dalam kamar keduanya hanya sama-sama duduk. Mungkin disini Amel terlihat canggung dan gerogi.


"Sayang...." Reza menyentuh lembut bagian paha Amel, apalagi pagi ini Amel memakai dress selutut, sungguh ini membuat Reza tidak sabar menyusup masuk ke rumah siput Amel.


"Emm mas...." Amel terlihat malu-malu, bahkan pipinya sudah memerah.


"Kok aku deg-deggan ya?" batin Amel dalam hatinya.


"Emm sayang...." Balas Reza, kini tangannya sudah menyusup masuk agak dalam, Reza mengelus-elus lembut paha Amel.


Reza terus melakukan hal itu hingga tangannya mulai nakal mengelus-elus bagian rumah siput Amel.


"Ahh.... emmm....." terdengar lembut tapi Reza mengerti kalau Amel sudah mulai menikmati perlakuannya.


Reza tersenyum, lalu melanjutkan niatnya, Reza mengeluarkan tangannya dari dalam rumah siput itu, lalu beranjak dari tempat duduknya dan kini Reza mendorong tubuh Amel dengan lembut agar Amel berbaring.


Setelah Amel berbaring, Reza menindih tubuh Amel dengan hati-hati, kini tangan Reza menyangga tubuhnya agar Amel tidak terlalu keberatan.


Tatapan mata mereka saling menatap penuh cinta, hingga bibir mereka saling bertemu dan akhirnya berciuman dengan lembut, hingga ciuman itu menjadi panas.


Pergulatan panas di pagi hari menjelang siang ini menjadi pegulatan yang begitu indah, bercak merah di sprei warna putih kini menjadi saksi bisu untuk dua pasangan pengantin baru ini.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


Apa kabar semuanya? Mudah-mudahan kakak-kakak semuanya sehat selalu 🙏😊


__ADS_2