
"Mas, tapikan kita belum lama kenal dan kenapa mas memintaku, menikah dengan mas?" Tanya Naya penuh selidik.
"Karena aku......" Raka meyakinkan dirinya sendiri dan memantapkan hatinya. "Karena aku ingin menjadi pelindung dalam hidup kamu untuk selamanya, aku juga sejak awal melihat kamu aku sudah menyukaimu." Jawab Raka, matanya terlihat begitu tulus dan hatinya terus berdebar kencang.
Naya terdiam, apakah ini nyata? Atau hanya gurauan dari Raka saja?
"Mas menyukai Naya?" Naya menatap Raka dengan tatapan penuh makna.
"Iya mas menyukai kamu, apa kamu tidak menyukai mas?" Raka membalas tatapan Naya, hati Naya bergetar hanya saja dia tidak tahu apakah dirinya juga menyukai Raka Kumara?
"Tapi Naya belum menyukai mas, lalu jika menikah apa yang akan terjadi di antara kita?" Naya semakin bawel, hatinya masih agak ragu.
"Apa karena mas seorang duda? Mas seorang duda yang usianya hampir menginjak kepala tiga, wajar jika kamu tidak menyukai mas." Raka tersenyum, sungguh dia begitu sabar menghadapi gadis kecil yang dia sukai.
Raka paham Naya yang masih belasan tahun dan tentunya usianya terpaut jauh, pasti itu membuat Naya meragukan keseriusan Raka.
"Bukan mas, bukan seperti itu." Bantah Naya dengan sopan.
"Mas tanya sekali lagi, kamu mau menikah dengan mas? Kamu bisa belajar menyukai mas setelah kita menikah, mas juga tidak akan memaksamu untuk melayani mas jika kamu belum siap." Raka tersenyum, tatapan matanya begitu lembut.
"Mas Raka adalah laki-laki baik, haruskah aku menolaknya? Lagian jika aku terus hidup di rumah, kapan aku akan bahagia?" batin Naya dalam hatinya.
"Nay, terimalah Raka dia adalah laki-laki yang akan menjadi tameng dan kebahagiaan dalam hidup kamu nanti." Hati Naya berbicara*.
Naya terdiam, dia terlihat sedang berpikir hati dan batinnya saling berperang.
"Naya mau mas," jawab Naya sambil tersenyum. Menurut Naya ini adalah keputusan terbaik, apalagi hatinya sudah berbicara seperti itu.
"Sungguh?!" Raka masih tidak percaya.
"Sungguh mas," jawab Naya dan reflek Raka langsung memeluk Naya. Betapa bahagianya Raka akhirnya Naya menerima dirinya sebagai calon suaminya.
__ADS_1
"Mas, aku bisa sesak nafas jika mas terus memelukku dengan erat," kata Naya dengan suara pelan.
Buru-buru Raka melepaskan Naya dari pelukannya, sungguh Raka menjadi tidak bisa mengontrol tubuhnya untung bibirnya tidak main nyosor.
"Nanti mas akan memberikan nafas buatan buat kamu," canda Raka yang diiringi tawa kecil.
"Ayo mas kita pulang!" Ajak Naya mengalihkan pembicaraan Raka.
Raka tersenyum lalu tangan kekarnya mengacak-acak rambut Naya dengan pelan.
Kini mereka langsung menuju pulang ke rumah Naya. Di perjalanan menuju ke rumahnya Naya terlihat gugup, bahkan di benak wajahnya terlihat begitu takut.
"Nanti bagaimana kalau mama marah?" Batin Naya dalam hatinya.
Raka tahu Naya sedang menyimpan rasa takut dalam hatinya, tiba-tiba tangan kekar Raka menggenggam tangan Naya dengan erat.
"Jangan takut, ada mas percaya tidak akan ada yang berani menyentuhmu atau menyakitimu!" Raka meyakinkan Naya, dalam hati Naya begitu bahagia.
Naya menganggukkan kepalanya, lalu matanya melihat ke arah Raka yang sedang menyetir.
"Kenapa? Apa aku tampan? Biarpun duda wajahku ini masih terlihat imut," celetuk Raka membuat Naya tertawa kecil.
"Dasar, aku ingin bertanya pada mas." Kata Naya dengan nada lembut.
"Mau tanya apa?" Tanya Raka.
Belum sempat bertanya, tiba-tiba Raka menepikan mobilnya dan sudah sampai di rumah Naya.
"Sudah sampai di rumah kamu," kata Raka sambil tersenyum pada Naya.
"Aku takut bertemu mama, aku takut mama akan marah besar." Naya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Raka mengangkat wajah cantik Naya, lalu memegang kedua pipinya sambil tersenyum pada Naya.
"Kenapa? Kamu percaya kan sama mas?" Raka menatap Naya dengan tatapan lembut.
Naya mengangguk pelan yang artinya adalah percaya. "Jika kamu percaya, kenapa kamu harus takut?" Tanya Raka, meyakinkan Naya lagi.
"Kita turun sekarang mas!" Ajak Naya dan mereka akhirnya sama-sama turun dari dalam mobil.
Keduanya melangkahkan tangannya menuju ke rumah Naya.
Ratih mondar-mandir tidak jelas, dia sangat kesal pada Naya karena sudah jam 10 pagi lewat belum pulang juga.
"Kemana, anak sialan itu? Awas saja jika dia pulang, aku akan mengh*jar dia habis-habisan aku tidak akan mengampuni kamu Naya!" Ratih terus mondar-mandir menunggu Naya, tangannya sudah mengepal erat rasanya ingin sekali menj*mbak rambut Naya.
Emosi dan amarah kini sudah menguasai hatinya.
"Tok...tok..." suara ketukan pintu.
"Itu pasti, anak sialan itu pulang!"
Ratih melangkahkan kakinya untuk membuka pintu rumah.
"Ceklek....." Ratih menatap Naya dengan garang, apalagi melihat Naya pulang bersama Raka.
Entah apa yang akan terjadi?
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 😘
Maaf jika masih banyak typo, hp nya buat ngetik suka susah 🙏
__ADS_1