
"Mas, aku aku butuh pekerjaan, apa aku boleh kerja di kantor kamu?" Jawab Elina, terlihat Mata Elina itu menyimpan banyak kesedihan.
Raka terkejut, ada apa dengan mantan istrinya ini? Kenapa tiba-tiba meminta pekerjaan pada Raka?
"Elin, aku minta maaf dalam hal ini aku harus bicarakan dulu dengan istriku, aku tidak mau dia sampai salah paham." Jawab Raka, dia tidak tahu jika dia main menerima Elina begitu saja, entah apa yang akan terjadi?
Elina terlihat kesal, dalam hatinya Elina. Haruskah masalah kantor seperti ini di bicarakan dengan istri? Hadeh Mas Raka sekarang sudah banyak berubah, perasaan dulu waktu denganku dia tidak seperti ini. Naya kamu adalah gadis kecil yang bisa benar-benar menaklukkan hati Mas Raka.
"Baiklah mas, kamu bicarakan pada istri kamu dulu. Aku sangat membutuhkan pekerjaan ini mas, aku tidak tahu aku harus meminta tolong kepada siapa lagi mas?" Kata Elina, matanya terlihat berkaca-kaca, seperti orang ingin menangis tapi Elina berusaha menahan air matanya.
"Bukankah, Rio sudah mencukupimu? Pekerjaan dia bagus," jelas Raka dengan kenyataan yang Raka lihat.
Elina hanya tersenyum kecil, tapi senyum itu menunjukkan kalau dirinya sedang menahan air matanya.
"Entahlah mas, aku juga tidak tahu." Hanya itu jawaban Elin, seolah-olah Elina terlalu malas untuk membicarakan tentang Rio.
Raka hanya mengangguk, dia melihat Elina terlihat kurusan, bahkan wajah cantiknya juga terlihat agak kusam.
"Apa terjadi sesuatu di antara Elina dan Rio? Ahh sudahlah, itu bukan urusanku," batin Raka dalam hatinya, dia buru-buru menepis pikiran yang ada.
"Baiklah mas, aku permisi dulu! Mas, aku sungguh membutuhkan pekerjaan ini," kata Elina dan dia berlalu keluar dari ruangan Raka.
__ADS_1
Elina menghentikan langkah kakinya, lalu dia melihat ke arah Raka.
"Jadi cleaning servis juga tidak apa-apa mas, yang penting aku bisa kerja!" Pinta Elina, dengan tatapan penuh harapan.
"Aku akan bicarakan dulu dengan Naya," jawab Raka dengan jawaban yang sama harus bicara dulu dengan Naya.
Raka melihat Elina tidak terlihat lagi, Elina terus melangkahkan kakinya dengan langkah gontai. Bahkan dia tidak tahu, apa yang harus dia lakukan untuk bertahan hidup?
"Elina, akhirnya hidup kamu hancur. Kamu meninggal Raka hanya karena laki-laki yang br*ngs*k seperti Rio."
"Sekarang kamu, nikmati pilihan kamu Elina. Kamu yang membuat dirimu sengsara."
Elina meneteskan air matanya sambil berjalan, sungguh hatinya sangat sedih tapi dia harus berbagi kesedihan ini dengan siapa?
Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Rio dan Elina? Hanya mereka berdua yang tahu.
Raka sibuk dengan pekerjaannya, hari ini juga Raka sibuk menemui klien penting dari beberapa perusahaan besar.
Rasa lelah menggelayuti tubuhnya, Raka meletakkan berkas-berkas yang ada di tangannya di atas meja kerjanya, lalu dia merebahkan kepalanya di sandaran kursi kerjanya.
"Apa aku harus bicara dengan Naya? Tapi jika tidak, aku tanya akan marah."
__ADS_1
"Lagian mantan istriku, jika aku sembarangan menerima kerja di kantorku, nanti Naya pasti akan berpikir macam-macam."
"Aish Raka, bagaimana jika Naya tidak memperbolehkan kamu menyiram kecebong kecil kamu nanti, aish pasti itu akan kacau."
Raka terdiam, dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
*****
Malam menunjukkan pukul 7 malam, kerjaanya Raka sudah beres dan Raka langsung bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya.
Rasanya tidak sabar bertemu dengan istri kecilnya dan kecebong kecilnya yang masih ada di dalam perut Naya.
Sesampainya di rumah, Raka melihat Naya sedang mengobrol dengan seorang laki-laki, tapi laki-laki itu hanya kelihatan punggungnya saja jadi Raka tidak bisa melihat wajah laki-laki yang sedang mengobrol dengan istrinya.
Raka menghentikan mobilnya, lalu buru-buru dia turun dari dalam mobilnya, rasanya tidak sabar ingin melihat siapa laki-laki yang mengobrol dengan istrinya?
"Siapa laki-laki itu?" Gumam Raka sambil berjalan menuju ke tempat Naya dan laki-laki sedang berdiri.
BERSAMBUNG. 😊
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1