
Evan hanya diam, hatinya mulai gelisah tidak tenang, apakah yang di cintai oleh Tania itu adalah Dokter Bian?
Jika tidak tapi dari tadi tangis Tania begitu pecah, bahkan Tania juga mengatakan belum sempat membalas cinta Bian.
Disini Evan merasa sedih tapi Evan juga tidak boleh egois dan harus bersikap tenang karena saat ini yang Tania butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang dari Evan.
Raka dan Naya juga hanya diam, mereka tidak tahu mau bicara apa? Karena Tania masih terus menangis dari tadi.
"Nia, jangan menangis terus! Kamu belum makan, kamu makan dulu ya!" kata Evan, dengan penuh perhatian.
"Aku tidak lapar mas, aku masih mikirinkan Dokter Bian," jawab Tania yang diiringi isak tangis.
"Baiklah, jika kamu hanya perduli dengan Dokter Bian, maka aku akan pulang saja!" ancam Evan, dia berusaha sabar tapi hatinya cukup lelah karena hanya Bian dan Bian saja yang di pikiran oleh Tania, bukankah Tania itu egois? Dia tidak memikirkan perasaan Evan sedikit saja.
Tania hanya menangis bahkan dia tidak menjawab ancaman dari Evan.
Evan beranjak dari tempat duduknya, dia sungguh pergi tapi tiba-tiba Naya beranjak dari tempat duduknya dan dia mengejar sang kakak.
Raka hanya melihat istrinya, dia tahu kalau istrinya tidak akan melakukan hal yang salah dalam keadaan seperti ini.
Naya menarik tangan kakaknya. "Kak Evan, jangan seperti ini! Bersikaplah dewasa saat ini Dokter Nia butuh kamu di sampingnya, aku mohon tahan amarah kakak!" pinta Naya dan Evan mengangguk, apalagi melihat mata polos Naya sungguh ini membuat Evan lemah dan menuruti apa kata adiknya ini.
Evan dan Naya saling diam, tapi mata Naya terus terpancar penuh ketulusan dan kasih sayang pada kakaknya ini.
__ADS_1
Raka mendekati Tania. "Nia, kamu jangan egois! Kasian Kak Evan, aku tahu kamu sedih karena Dokter Bian tapi kamu juga tidak boleh berlebihan, pikirkan perasaan Kak Evan." tutur Raka, sebagai sahabat Nia, Raka tidak mau kalau sampai Tania dan Evan saling berpisah.
"Kak Evan ada disini, tapi kenapa harus Dokter Bian yang terus kamu pikirkan? Kamu tidak boleh egois!" tanya Raka, dia tahu pasti Evan juga tidak suka dengan semua ini.
Tania terdiam, dia menghapus air matanya, benar kata Raka, kalau dirinya tidak boleh egois.
Tania berdiri, dia melihat Evan dan Naya yang sedang berdiri. Tania berjalan menuju ke tempat mereka berdiri.
Tania memeluk Evan dengan erat, Evan juga membalas pelukan dari Tania.
"Maafkan aku mas, aku tidak memikirkan kamu yang dari tadi sangat kawatir padaku, aku salah." Kata Tania disela-sela pelukannya.
"Mas mengerti sayang, sekarang kamu makan ya! Nanti kamu sakit, kita juga tetap menunggu kabar dari Dokter Bian," jawab Evan dengan nada lembut dan tatapan mata yang begitu tulus.
Kini mereka sudah duduk di meja makan, Evan juga langsung memesan makanan untuk mereka melalui aplikasi online.
Setelah beberapa lama akhirnya pesanan Evan datang, kini mereka menikmati makanan yang Evan pesan.
"Makan yang banyak!" pinta Evan dengan nada lembut, di anggukin oleh Tania.
"Maafkan aku Mas Evan, aku sudah terlalu egois tapi percayalah aku hanya mencintai kamu mas. Mungkin karena aku sanking dekatnya dengan Dokter Bian, jadi aku kawatir yang sangat berlebihan," batin Tania dalam hatinya.
Raka melihat Naya begitu makan begitu lahap, sungguh akhir-akhir ini ***** makan Naya memang bertambah bahkan sering sekali kalau Raka makan tidak habis, pasti Naya menghabiskan sisanya itu.
__ADS_1
"Pelan-pelan makannya sayang!" pinta Raka, melihat Naya makan terlalu lahap.
"Kecebong kita ini mas, lagi gampang lapar." Jawab Naya, sambil mengelus perutnya yang sudah terlihat semakin besar.
Dalam hati Naya, sebentar lagi 7 bulanan, rasanya tidak sabar sekali menanti kamu hadir di dunia ini nak.
Evan menatap Naya dengan tatapan penuh tanda tanya?
"Haahh.... kecebong, kamu memelihara kecebong Nay?" tanya Evan, membuat Naya tertawa kecil.
"Kak, kecebong ini bayi yang ada di dalam perut aku, Mas Raka menamainya kecebong kecil," jelas Naya dengan begitu polosnya.
Tania hampir saja tersedak mendengar penjelasan dari Naya, aish apakah Raka tidak ada nama lain?
"Nia, minumlah!" Evan menyodorkan segelas air putih pada Tania.
Tania meminum air putih itu, lalu dia melihat ke arah Evan.
"Sayang, kamu jangan gila seperti Raka ya! Apalagi memberi nama anak dengan nama kecebong," pinta Tania yang akhirnya mau tertawa.
Ternyata calon kecebong kecil Naya dan Raka bisa menghibur seseorang yang sedang sedih juga.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia