Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Ide cerdik Raka


__ADS_3

Raka dan Naya sama-sama kaget, melihat siapa yang sedang berada di ruangan Tania saat ini.


"Kak Evannn...." Naya terkejut, tapi Raka malah cengar-cengir tidak jelas.


"Aku kira bakalan lama, ternyata mereka cukup muda untuk di jodohkan," batin Raka dalam hatinya.


Raka dan Naya bergabung dengan dengan Evan dan Tania yang sedang duduk di sofa, yang ada di ruangan kerja Tania.


Evan menatap Naya dengan tatapan malu-malu. "Cie kakak, sudah punya gebetan," ledek Naya dengan jail.


"Asik....halalin dong! Sebelum di halalin sama yang lain," sambung Raka yang tidak kalah jail dari istrinya.


Tania dan Evan sama-sama memandang mereka berdua dengan tatapan mengajak perang.


"Kalian ini," omel Evan pada Naya dan Raka.


"Apa sih Ka? Main halalin aja, orang kita cuma ngobrol saja," kata Tania yang wajahnya sudah merah merona karena malu.


"Tunggu sebentar, Dokter Bian sedang memeriksa pasien yang lain." Kata Tania, membuat Raka menatapnya dengan penuh tanda tanya?


"Dokter Bian, untuk apa?" tanya Raka agak kesal.


"Untuk memeriksa istrimu, dia adalah Dokter kandungan terbaik. Tidak usah kawatir aku akan mengawasinya saat memeriksanya nanti," jawab Tania. Dia tahu, pasti Raka akan menyebalkan seperti yang sudah-sudah.


Bian keluar dari dalam ruangannya, menuju ke ruangan Tania.


"Tok...tok..." Bian mengetuk pintu ruangan kerja Tania.


"Masuk, tidak di kunci pintunya!" Sahut Tania dari dalam ruangannya.


Bian membuka pintu ruangan Tania, mata Evan langsung tertuju pada Bian, kali ini tatapan Evan begitu garang.


"Dokter ini tampan sekali, apa jangan-jangan dia mendekati Tania juga?" pikir Evan dalam otaknya.

__ADS_1


"Nia haruskah....."


"Raka, tidak usah kawatir aku akan mengawasi pemeriksaan Naya!" Potong Tania, sebelum Raka berbicara lebih lanjut.


Bian tahu, pasti setiap pemeriksaan Naya pasti suaminya ini akan sangat bawel, bahkan kalau melihat istrinya di sentuh saja tidak rela, tapi Nia tidak perduli karena di rumah sakit tempat dia kerja memang Bian lah Dokter kandungan terbaik.


Bian dan Tania mulai memeriksa Tania, kali ini Nia melarang Raka untuk masuk ke ruangan pemeriksaan, karena jika Raka masuk pasti akan terjadi perdebatan yang kacau.


Raka akhirnya menunggu dengan Evan, kini mereka saling mengobrol.


"Kakak ipar, Bian itu Dokter yang menyebalkan. Aku juga tidak tahu, Tania bukannya carikan Dokter kandungan yang wanita, ini malah laki-laki." Raka ngedumel, membuat Evan ingin tertawa.


Dasar duda bucin, usia sudah tua tapi ya seperti inilah Raka terlalu cemburuan pada istrinya yang begitu muda dan cantik.


"Raka, aturan yang patut kawatir itu aku. Aku takut Bian akan menjadi sainganku nanti," bukannya mendengarkan curhatan Raka, Evan malah balik bercurhat.


"Makanya kak, langsung tebak saja asal jangan di dalam, takut jadi balon," ledek Raka sambil tertawa.


Kini keduanya melanjutkan obrolan mereka dengan asik, hingga beberapa lama juga akhirnya Naya sudah selesai pemeriksaan.


Naya keluar dari ruangan pemerintah, kini Raka buru-buru berjalan menghampiri Naya lalu mengandengnya untuk duduk di sofa.


"Duduklah sayang, pasti kamu capek ya bawa-bawa perut yang sudah mulai besar ini," kata Raka membuat yang lain tertawa.


"Dasar duda bucin," cetus Evan.


"Cemburuan," sambung Tania sambil tertawa.


Bian hanya tersenyum sambil melihat wajah cantik Tania, Bian tidak sadar dari tadi Evan menatapnya dengan tajam.


"Nia, kamu malam ini ada acara?" tanya Bidan dan senyumnya begitu manis pada Tania.


Tania terdiam, dia sedang memikirkan apakah malam ini ada acara atau tidak? Matanya terlihat berbinar senang, bahkan senyumnya begitu manis pada Tania.

__ADS_1


"Apa mereka sedang curi-curi pandang? Jika aku tidak gesit, maka aku aku keduluan oleh Dokter genit ini," batin Evan dalam hatinya.


"Memangnya Kenapa, Ian?" tanya Tania pada Bian.


Raka melihat ke arah Evan, kali ini tatapan Raka begitu jail.


"Di bilang buruan di tembak, ini malah lelet banget kaya keong jalan saja," sindir Raka dengan cengiran jail.


Evan menatap Raka dengan tatapan kesal.


"Dasar duda bucin, berisik banget." Gerutu Evan dalam hatinya.


"Bagaimana, kalau kita makan malam bersama?" tanya Bidan pada Tania.


"Emm boleh," jawab Tania dengan nada lembut.


Raka geleng-geleng kepala, Naya hanya tersenyum pada kakaknya.


"Nia, bagaimana kalau kita makan bersama saja? Kita kan jarang sekali makan bersama," timpal Raka dengan sengaja.


Raka selalu saja punya ide cerdik agar Evan bisa dekat dengan Tania, karena menurut Evan. Tania adalah gadis yang cantik dan baik untuk Evan, dan menurut Raka mereka akan cocok.


"Boleh, Bian tidak apa-apakan?" tanya Tania.


"Iya tidak apa-apa," jawab Bian agak kecewa.


Akhirnya malam ini mereka pergi makan bersama, Evan dan Bian juga ikut dengan mereka.


Akan seperti apa makan malam mereka nanti?


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2