
Pagi menunjukkan pukul 7 pagi, Naya sudah bangun dia juga sudah mandi dan berdandan cantik.
Raka juga rapi dengan setelan jas warna hitamnya.
Raka melihat dress hamil yang di pakai oleh Naya sudah mulai ketat, mungkin karena perut Naya yang semakin besar dan berat badan Naya juga naik hampir 10 kg.
Kandungan Naya juga tidak terasa sudah memasuki bulan kelima.
"Mas, tidak apa-apa jika aku ikut ke kantor? Nanti aku ganggu mas kerja," kata Naya sambil memeluk suaminya dengan manja.
Raka membalas pelukan Naya dengan manja, inilah hal yang Raka suka kalau istrinya sedang manja pada dirinya.
"Tidak sayang, mas malah semangat kerjanya," jawab Raka dengan senang hati.
Naya hanya tersenyum, iyalah senang karena kalau ada Naya di kantornya bukan kerjaan yang Raka kerjakan, tapi Naya yang Raka garap di dalam ruangannya.
Raka dan Naya langsung pergi ke kantor Raka, di perjalanan menuju ke kantor Raka, Naya terlihat bahagia melihat indahnya pemandangan pagi ini.
"Sayang, kamu tahu sepertinya Kak Evan, akan segera mengungkapkan perasaannya pada Tania," kata Raka membuat Naya menoleh ke arah Raka.
__ADS_1
"Sungguh mas? Mudah-mudahan saja di terima mas, aku pingin Kak Evan buru-buru menikah mas." Jawab Naya penuh harap.
"Entahlah sayang, kita doakan saja! Kak Evan juga belum memberikan kabar padaku," kata Raka dan Naya mengangguk pelan.
"Mudah-mudahan Kak Evan dan Dokter Tania berjodoh," doa Naya dalam hatinya.
******
Di sebuah toko bunga Evan baru saja membeli buket mawar merah untuk Tania, Evan tidak pandai bagaimana cara menyatakan perasaannya pada seorang gadis, apalagi sudah sekian lama Evan menjomblo untung tidak sampai karatan.
"Mudah-mudahan Tania tidak menolak aku, tapi selain mawar merah, kira-kira wanita itu sukanya apalagi?" Evan terlihat berpikir, haruskah dia menelpon Raka untuk meminta saran dari Raka?
"Sudahlah, cukup bunga mawar merah saja! Tidak mungkinkan aku berikan cincin juga? Lagian cinta saja belum tentu di terima," Evan terlihat sedih tapi dia harus semangat.
Evan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan agak tinggi menuju ke rumah sakit tempat Tania bekerja.
Sesampainya di rumah sakit, Evan langsung menunju ke ruangan Tania, kali ini hatinya terus beredar kencang, jantungnya juga berdetak lebih cepat dari biasanya. Sungguh Evan merasa sangat gigih, apalagi setelah sekian lama dirinya baru kembali jatuh cinta lagi.
Tiba-tiba Evan menghentikan langkah kakinya, kali ini tatapannya berubah menjadi garang melihat saingannya sudah berdiri di depan pintu ruangan Tania sambil membawa buket mawar putih.
__ADS_1
"Sial, Dokter itu sudah ada di situ, jangan harap kamu akan menang dariku!" Evan terlihat begitu yakin.
Evan menarik nafasnya dengan pelan, lalu dia melangkahkan kakinya menuju ke depan pintu ruangan kerja Tania.
Melihat kedatangan Evan, Bian terlihat kesal.
"Kenapa manusia ini datang di saat yang tidak tepat, sudah gitu pakai bawah-bawah buket mawar merah segala lagi," kesal Bian dalam hatinya.
"Sudahlah kamu menyerah saja! Lagian aku dan Tania itu sudah dekat dari dulu, sudah pasti dia tidak akan menerima kamu," kata Bian dengan begitu yakin.
"Kita lihat saja nanti, kamu jangan terlalu percaya diri!" Lawan Evan tidak mau kalah.
Tania beranjak dari kursi kerjanya, dia berjalan ke pintu ruangannya, betapa kagetnya Tania waktu membuka pintu ruangannya, melihat Bian dan Evan sudah sama-sama berdiri di depan ruangannya.
"Kalian sedang apa disini?" Tanya Tania dengan raut wajah terkejut.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1