Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Kepolosan Naya


__ADS_3

Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama akhirnya Raka dan Naya sampai di sebuah hotel yang dekat dengan pantai, Raka sengaja mengajak Naya ke hotel yang dekat dengan pantai karena ingin mengajak Naya melihat matahari terbit besok pagi.


Perjalanan yang begitu jauh membuat Naya tampak lelah, Naya berbaring di atas tempat tidur sedangkan Raka duduk di tepi tempat tidur.


"Mas, kenapa kamu membeli baju tidur sexy begitu banyak?" Tanya Naya, dia mengingat baju tidur di dalam lemari itu sexy semua.


"Mau bagaimana lagi? Mas seorang laki-laki normal, jadi ya wajar saja." Jawab Raka, dengan santai.


Naya terdiam, dia sedang membayangkan jika dirinya memakai salah satu baju tidur sexy itu akan seperti apa dirinya nanti?


Naya tiba-tiba tertawa sendiri, membuat Raka melihatnya dengan tatapan bingung.


"Apa kamu salah minum obat, sayang?" Tanya Raka, tangan kekarnya menyentuh jidat Naya.


"Apasih mas, siapa juga yang salah minum obat." Bantah Naya, terlihat kesal pada Raka.


Raka tersenyum penuh arti, lalu dia membaringkan tubuhnya di sebelah Naya. Membuat Naya semakin deg-deggan, sungguh Raka bisa membuat jantung Naya copot.


"Mas, orang bulan madu itu biasanya ngapain saja?" Tanya Naya, raut wajahnya terlihat polos membuat Raka semakin gemas.


"Apa dia begitu bodoh? Padahal aku rasa dia sudah cukup umur," batin Raka dalam hatinya.


Wajar saja selama hidupnya, Naya jarang sekali melihat televisi, Naya juga tidak pernah punya ponsel dan tentunya Naya juga tidak paham tentang ehem-ehem. Beruntunglah laki-laki yang mendapatkan Naya, karena tubuh mulus miliknya belum pernah ada yang menyentuh sebelumnya.


Raka tampak berpikir, entah darimana dia harus menjelaskannya pada istri kecilnya ini?


"Bulan madu ya kita bisa jalan-jalan, menghabiskan banyak waktu dengan pasangan kita dan yang lebih intim kita bisa....." Raka menghentikan kata-katanya, akankah Naya paham jika Raka jelaskan sampai ke hal seperti itu?

__ADS_1


"Lebih intim apa mas?" Sambung Naya, terlihat penasaran di benak matanya.


"Ya seperti ehem-ehem," jelas Raka berharap Naya tidak bertanya lagi. Karena takut hasrat nya sebagai laki-laki bangkit.


Naya tampak kesal, lagi Raka bilang ehem-ehem. Sedangkan Naya saja tidak tahu ehem-ehem itu apa?


"Naya boleh ehem-ehem sama mas?" Tanya Naya, sungguh kepolosannya semakin menggoda Raka.


"Tentu, asalkan ehem-ehemnya bersama suamimu," jawab Raka sambil tersenyum.


"Haah... haruskah mas?" Tanya Naya lagi, rasanya Raka ingin sekali menerkamnya lalu memakannya saat ini juga.


"Sayang, ehem-ehem itu hubungan suami-istri, kenapa mas bilang ehem-ehem. Karena biar tidak terlalu vulgar," lagi-lagi Raka harus sabar memberikan penjelasan pada istrinya.


"Mas...." Naya ingin berbicara lagi, tapi jari telunjuk Raka sudah menutup mulutnya. "Hush, sudah jangan bicara lagi atau mas akan memakan kamu," Raka menatap Naya begitu dalam.


Naya hanya mengangguk pelan, dia tidak berbicara lagi karena takut di makan oleh suaminya. Sungguh kali ini Raka hanya bisa menahan tawanya.


"Istriku, apa kamu sepolos ini? Aku yakin, kesabaran aku buat tidak melakukannya itu tidak akan bertahan lama," batin Raka dalam hatinya.


"Kenapa kamu diam?" Tanya Raka.


"Kan mas yang nyuruh aku tidak boleh bicara," jawab Naya agak kesal.


"Itu kamu bicara, kan mas tidak nyuruh kamu bicara," Raka tersenyum jail, kali ini dia ingin menggoda istrinya.


"Kan Naya, jawab pertanyaan mas." Bantah Naya, dia memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Raka ingin sekali Raka mencium bibir Naya, tapi sayangnya tidak punya keberanian dan hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar saja.


"Kan mas tidak menyuruh kamu, untuk menjawab pertanyaan dari mas." Lawan Raka tidak mau kalah.


Beta kesalnya Naya, tiba-tiba Raka mencubit hidungnya dengan jail.


"Naya jelek, manyun saja terus!" Goda Raka dengan senyuman jail.


Raka beranjak dari tempat dia duduk, tapi tiba-tiba Naya menarik tangan Raka dengan tiba-tiba, posisi Raka yang berdirinya belum seimbang akhirnya jatuh dan jatuhnya tepat menjauhi tubuh Naya.


Naya terlihat gugup, tangannya terlihat ada di atas dadanya dan kedua tangan kekar Raka juga menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Naya yang mungil itu.


Kini mata manik mata mereka saling menatap satu sama lain, tatapan mereka juga terlihat penuh arti.


Raka memperdalam tatapannya, samar-samar terlihat senyum yang begitu manis di bibir Raka saat ini.


"Mas...." lirih Naya, malu-malu.


"Diamlah, kamu yang mulai." Kata Raka, semakin mendekatkan bibirnya.


Naya menarik nafas dalam-dalam, dia bisa merasakan hembusan nafas Raka.


"Mas, kamu mau apa?" Tanya Naya yang sudah mulai memejamkan matanya.


Raka semakin mendekatkan bibirnya, kini bibir mereka hanya beranjak beberapa senti saja.


BERSAMBUNG 🙏

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😘


__ADS_2