Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Lupa meminta no ponsel


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah Naya masih terlelap tidur, Ratih yang sudah selesai menyiapkan kue-kue untuk di jual merasa kesal, apalagi Naya belum keluar dari dalam kamarnya.


"Dasar anak sialan, jam segini dia belum bangun mau jadi apa dia?"


"Awas saja kamu kalau sudah bangun!"


Dengan perasaan kesal, Ratih berjalan menuju ke kamar Naya lalu menggedor-gedor kamar Naya dengan begitu kencang.


"Anak sialan bangun kamu! Tok...tok...tok..." Ratih terus menggedor-gedor pintu kamar Naya.


Perlahan-lahan Naya membuka matanya, kepalanya sangat pusing karena Naya menangis begitu lama.


"Iya ma..." sahut Naya, buru-buru dia keluar dari kamarnya.


"Ceklek, maaf ma Naya terlambat bangun." Naya menundukkan kepalanya di hadapan mamanya.


"Pergi mandi sekarang! Sama hasil uang jualan kue waktu itu mana? Jangan berani-berani ya kamu mengambilnya!" Tanya Ratih yang diiringi dengan ancaman.


"Tidak ma, nanti Naya kasih ke mama. Naya mandi sebentar ma," jawab Naya dan dia kembali masuk ke dalam kamarnya.


Naya buru-buru mandi, setelah selesai mandi Naya berganti pakaian. Tidak lupa sebelum keluar dari dalam kamarnya Naya membawa uang hasil jualan kue beberapa yang lalu waktu mamanya pergi ke tempat saudaranya.


Sesampainya di ruang makan, Ratih hanya duduk sendirian di kursi meja makan karena Evan sudah berangkat kerja.


"Mana uangnya?" Tanya Ratih begitu ketus.


Naya memberikan uangnya pada Ratih, Ratih langsung menerimanya dengan kasar.


"Sekarang, kamu pergi jualan kue! Ingat jangan pulang, sebelum kue-kue ini semuanya habis terjual!" Suruh Ratih, tutur katanya selalu ketus pada Naya.


"Iya ma. Mama, Naya lapar boleh tidak Naya makan sedikit saja?" Tanya Naya, raut wajah Naya terlihat ketakutan.


"Kerja dulu baru makan!" Sentak Ratih, membuat Naya tidak berani bicara lagi dan buru-buru pergi mengambil kue-kuenya untuk di jual.


****


Di kantor Raka, Raka duduk di ruangan kerjanya lalu mengambil ponselnya yang ada di atas meja.


"Pak Arif, ke ruangan saya sekarang!" Pinta Raka dari saluran telepon.


"Baik Tuan," jawab Pak Arif.


Pak Arif langsung berjalan menuju ke ruangan bosnya itu. Sesampainya di ruangan Raka. Pak Arif mengetuk pintu.


"Tok..tok..tok...!"


"Masuklah, pintunya tidak di kunci!"


Pak Arif membuka pintu ruangannya bosnya, lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Raka.


"Pak Arif, saya butuh bantuan bapak." Kata Raka.

__ADS_1


"Katakan Tuan, apa yang bisa saya bantu?" Tanya Pak Arif pada Raka.


"Pak, pasti Naya kalau pagi-pagi seperti ini sedang berjualan kue. Bapak cari dia terus beli semua kuenya, bagikan pada pegawai kantor!" Kata Raka dengan senang hati Pak Arif menganggukkan kepalanya.


"Sama, tolong mintakan saya no ponsel gadis itu pak!" Sambung Raka.


"Baik Tuan," jawab Pak Arif.


Raka merogoh kantong celananya, lalu mengambil dompet dan dia mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompet miliknya.


"Ini buat beli kue, yang ini buat bapak ya." Raka memberikan beberapa lembar uang pada Arif.


"Terimakasih Tuan, saya permisi dulu." Arif berlalu pergi dari ruangan Raka.


Sesampainya di parkiran, Arif langsung menyalakan mesin mobilnya dan melajukan ke komplek dekat rumah Raka, karena Naya biasanya berjualan kue keliling disitu.


Naya terus menelusuri jalanan demi jalanan, mulutnya tidak berhenti berteriak berharap ada orang yang mau membeli dagangan kuenya.


"Keu... kue, rasanya enak....." Teriak Naya, dalam hatinya selalu berdoa agar kue yang dia jual laris manis.


"Nak, ibu beli kuenya." Panggil seorang ibu-ibu.


Naya menghentikan langkah kakinya, tidak lupa dia mengucapkan rasa syukur di hatinya karena akhirnya ada membeli kue dagangannya.


"Berapa nak, harganya?" Tanyanya.


"2 ribuan, bu." Jawab Naya, tidak lupa dia menyunggingkan senyum manisnya pada pembelinya.


"Iya Bu," Naya memasukkan beberapa kue ke dalam plastik, lalu memberikan pada ibu itu. "Terimakasih bu," Naya memberikan kue yang ada di plastik pada ibu itu, sembari menerima uang 20 ribu dari ibu itu.


Kini Naya berjalan kembali, sudah mau jam 8 lewat tapi kue-kue jualan Naya masih banyak.


"Semangat Naya, jangan buat mama marah lagi." Batin Naya dalam hatinya.


"Kue...kue.... rasanya enak....." Naya kembali berteriak-teriak, mudah-mudahan ada pembeli yang mau membeli kue dagangannya lagi.


"Dek Naya...."


Naya menoleh ke sumber suara, lalu tersenyum pada Pak Arif yang berdiri di depan mobil.


"Bapak memanggil saya?" Tanya Naya dengan sopan.


"Iya dek, bapak mau borong kue jualan adek. Kata bos bapak kuenya rasanya enak, dan dia berniat membagikan kue-kue ini pada para pegawainya di kantor," jawab Pak Arif dan Naya tersenyum.


Naya menurunkan dagangannya. "Sungguh mau di borong pak? Tapi saya tidak mau di bayar banyak sekali seperti waktu itu, bapak bayarnya uang pas saja ya," kata Naya dengan nada lembut.


Sungguh Arif begitu kagum gadis kecil seperti Naya, tapi dia sudah pandai berjualan bahkan dia menolak di berikan bayaran lebih.


"Baiklah nak." Jawab Arif sambil tersenyum.


Naya memasukkan semua kue-kuenya ke dalam plastik, dia merasa senang sekali karena dagangannya habis terjual dan tentunya sampai rumah Naya pasti bisa langsung makan biarpun nasi sisa semalam yang penting kenyang dan Naya tidak sakit.

__ADS_1


Setelah selesai memasukkan semua kue ke dalam plastik, Naya memberikan kue yang ada di dalam plastik pada Pak Arif. "Pak, ini kue nya." Naya tersenyum sambil mengulurkan tangannya, "Terimakasih dek," Arif menerima kue itu dari tangan Naya.


"Berapa semuanya dek?" Tanya Arif.


"Sama-sama, 280 ribu semuanya pak." Jawab Naya.


Arif memberikan uang 300 ribu, lalu Naya memberikan kembalian pada Arif 20 ribu.


Arif berlalu pergi dia menaiki mobilnya dan langsung masuk ke dalam mobil, kemudian segera melajukan mobilnya ke kantor.


"Siapa kira-kira bosnya Pak Arif ini? Aku yakin bosnya adalah orang baik," batin Naya dalam hatinya.


Dengan perasaan senang, Naya melangkahkan kakinya menuju ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Ratih sudah duduk di kursi depan rumahnya dengan tatapan garang.


"Mama..." sapa Naya agak takut.


"Mana, uangnya?" Bukannya menjawab sapaan Naya, Ratih malah menanyakan uang.


"Ini ma, kuenya habis terjual." Naya memberikan uangnya pada Ratih. Seperti biasanya Ratih mengambil uang dari tangan Naya dengan kasar.


Ratih menghitung uang, lalu dia tersenyum senang.


"Bagus, sekarang kamu boleh makan. Ingat, makanan kamu makanan sisa yang di dapur!" Ratih menonyor kepala Naya dengan kasar.


"Habis makan, jangan lupa bersihkan rumah! Terus cucian juga banyak. Kamu cuci semua itu dengan bersih!" Sentak Ratih, dan berlalu pergi begitu saja.


Naya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, dia langsung menuju ke dapur untuk menikmati makanannya.


Di perjalanan menuju kantor, Arif merasa ada yang lupa dengan perintah bosnya.


"Aish, bos kan menyuruhku meminta no gadis itu." Arif menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, entah apa yang akan di lakukan oleh bos nya nanti?


Sesampainya di kantor, Arif langsung membawanya kue yang di borongnya tadi ke ruangan Raka.


"Pak bagikan saja kue-kue ini, oh iya mana no ponselnya?" Tanya Raka.


"Maaf Tuan, saya lupa memintanya." Arif menundukkan kepalanya merasa bersalah.


Raka berdecak kesal, bagaimana cara dia agar bisa menemui Naya lagi?


"Sudahlah pak tidak apa-apa, nanti saya akan memintanya sendiri. Besok saya yang akan datang langsung memborong kuenya." Kata Raka dengan begitu yakin.


"Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa bertemu dengannya lagi," batin Raka dalam hatinya.


"Iya Tuan, saya permisi dulu." Arif berlalu keluar dari ruangan Raka. Bersyukur Raka tidak marah pada dirinya.


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 😘

__ADS_1


__ADS_2