
Tania dan Naya duduk sedangkan Evan dan Raka bersama-sama mencari tahu tentang pesawat kecelakaan itu.
Setelah beberapa lama Raka dan Evan kembali, Naya dan Tania sama-sama melihat Evan dan Raka.
"Bagaimana mas?" tanya Naya pada suaminya, Naya terus memeluk Tania yang dari tadi terus menangis.
"Itu memang benar pesawat yang di naiki oleh Bian, sayang..." sambung Evan, belum sempat menyelesaikan kata-katanya Tania menangis kencang.
Tangis Tania semakin pecah, sungguh hatinya hancur berkeping-keping.
"Bian...."
"Dokter Bian...."
"Kenapa, kamu pergi meninggalkan aku? Dokter Bian, aku....."
Tania terus menangis, Naya menepuk-nepuk pundak Tania, berharap Tania berhenti nangis tapi tidak, Tania saat ini merasa sangat sedih sekali.
Evan berjongkok di hadapan Tania, lalu Evan memegang tangan Tania dengan erat.
__ADS_1
"Sayang, kamu harus sabar! Apapun yang terjadi, kamu harus kuat!" tutur Evan, matanya berbinar sedih.
"Dokter Bian, aku memang bahagia kamu mau mencari istri diluar negeri sana tapi jika ini yang terjadi pasti aku juga akan mencegah kamu untuk pergi Dok," batin Evan dalam hatinya.
Tania melepaskan pelukannya dari Naya, lalu dia langsung memeluk Evan dengan erat dan tangis Tania juga semakin tidak bisa di bendung lagi.
"Nia, sabar ya, nanti aku akan menurunkan seluruh tim sar dan rewalan lainnya untuk membantu pencarian pesawat dan semua korban," tutur Raka dalam hatinya juga sangat sedih sekali.
Seketika Raka mengingat waktu awal-awal Naya mempriksakan kandungan, waktu itu Raka sempat cemburu pada Bian, ya wajar cemburu karena Bian juga begitu tampan.
"Dokter Bian, kenapa kamu pergi dengan cara seperti ini?" batin Raka dalam hatinya.
"Raka, kamu tahu aku tidak pernah membalas cinta Bian."
Tangis Naya juga akhirnya pecah, apalagi Bian itu Dokter yang begitu baik.
"Dokter Nia, ini semua takdir, kita berdoa ya agar Dokter Bian baik-baik saja!" pinta Naya dengan nada lembut, air mata Naya mengalir membasahi pipi mulusnya.
Bayangkan di dalam lautan yang begitu dalam, akankah Bian bisa bertahan? Tapi itu semua takdir, Tania dan yang lainnya hanya berharap Bian selamat.
__ADS_1
Setelah beberapa lama di bandara, Raka juga sudah menyuruh bawahannya untuk mengurus rewalan dan tim sar yang khusus di datangkan dari perusahaan Kumara Group.
Kini Raka, Evan dan Naya mengajak Tania untuk pulang. Saat ini Tania juga lemas sekali apalagi dari tadi terus menangis, belum sempat sarapan juga.
"Aku mau menunggu Bian, aku mau bertemu dengan dia." Tania menggelengkan kepalanya dia menolak untuk pulang.
"Sayang, kita tunggu kabar ya! Jangan menangis terus, kita berdoa agar Dokter Bian baik-baik saja!" pinta Evan, dia memapah Tania dengan hati-hati.
Akhirnya mereka semua pulang dan hanya bisa berharap Bian akan baik-baik saja.
Kini mereka sudah masuk ke dalam mobil mereka masing-masing tapi kali ini Naya dan Raka ikut pulang ke rumah Tania.
"Mas, kasian Dokter Nia." Kata Naya, dia tidak tega karena melihat dari tadi Tania menangis.
"Sayang, kita doakan mudah-mudahan Dokter Bian baik-baik saja! Ya biarpun harapan itu sangat kecil yang penting kita berdoa," tutur Raka dengan nada lembut.
Naya mengangguk, Raka mengikuti mobil Evan di belakangnya.
Sesampainya di rumah Tania, mereka langsung turun dari dalam mobil dan mereka langsung masuk ke dalam rumah Tania.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia