
Malam menunjukkan pukul 7 malam, Reza baru saja pulang dari kantor, Reza langsung masuk ke dalam kamar.
Mata Reza tertuju pada ranjang tempat tidur tapi di tempat tidur tidak tampak Amel di atas ranjang tempat tidur.
"Amel, dimana?"
"Biasanya dia berbaring di atas tempat tidur, tapi malam ini dia kemana?"
"Amel, sayangku, kamu dimana?"
"Ini mas bawakan somay kesukaan kamu sayang."
Reza melangkahkan kakinya menuju ranjang tempat tidur, lalu dia duduk di tepi ranjang sambil melepaskan sepatunya.
"Amelll...."
Reza terlihat gusar, apalagi Amel tidak kunjung menjawab panggilannya, hati Reza rasanya tidak tenang.
Reza beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi, Reza membuka pintu kamar mandi, betapa takutnya Reza melihat Amel pingsang di dalam kamar mandi.
"Sayang, kamu kenapa?" Reza mengecek denyut nadi Amel. "Amel sadarlah sayang!" buru-buru Reza mengangkat tubuh mungil Amel, menuju keluar kamar mandi. "Darah apa ini?" gumam Reza, saat membaringkan Amel di tempat tidur tangannya menyentuh darah di bagian kaki Amel.
Seketika Reza buru-buru membawa Amel ke mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya di mobil Reza membaringkan Amel di jok belakang, buru-buru Reza naik ke dalam mobil lalu menyalakan mesin mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Perasaan Reza sangat kawatir bahkan Reza pergi ke rumah sakit tidak memakai sandal, karena sanking takutnya istrinya kenapa-kenapa.
******
Tania terlihat santai sambil menonton televisi bahkan di atas meja yang ada di hadapannya banyak sekali toples berisi cemilan.
Tania itu suka sekali ngemil, berbagai cemilan ada di hadapannya, makanya saat sedang hamil ini berat badannya naik hampir 20 kg, padahal dulu waktu sebelum menikah dengan Evan, Tania terhitung gadis yang bertubuh langsing dan tentunya tidak sesemok yang saat ini sedang mengandung buah hatinya bersama Evan.
Tania yang sedang fokus dengan televisi, tiba-tiba matanya tertuju pada laki-laki tampan yang saat ini baru pulang kerja, siapa lagi kalau bukan Evan sang suami tercinta.
Tania beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berlari memeluk Evan, Evan yang terlihat panik dia buru-buru menangkap istrinya agar jatuh tepat di pelukannya.
"Habisan Nia merindukan mas sih," jawab Tania yang begitu erat memeluk Evan.
Nia begitu manja pada Evan, untung istri cuma satu-satunya, coba kalau ada istri lain entah apa yang akan terjadi di dalam rumah tangga mereka?
"Sayang, katanya orang hamil itu pada pinginnya jauh dari suaminya tapi kamu malah kebucinan sama suaminya," cibir Evan, lalu Nia melepaskan dirinya dari pelukan Evan.
"Wanita hamil itu bawaannya beda-beda mas," jawab Tania, sambil mencubit bibir dengan jarinya.
Evan hanya tersenyum kecil, otaknya saat ini sudah traveling kemana-mana, rasanya pingin cepat-cepat masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita ke kamar! Mas pingin menjenguk kecebong kita," goda Evan. Haduh Evan sekarang dia sama seperti Raka memanggil calon anaknya dengan sebutan kecebong kecil.
"Hush...jangan kecebong kecil, Mas Evan sudah ikutan gila seperti Raka," omel Tania dan dengan manja Tania langsung mengandeng tangan suaminya masuk ke dalam kamar.
Saat mendengar kata-kata menjenguk kecebong kecilnya, haduh Tania jadi pingin buru-buru di masukin, entah pingin di masukin apa? Hanya Tania yang tahu.
*****
Reza terdiam sendirian di ruang tunggu, perasaannya masih sangat takut, bahkan dia takut Amel akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Setelah beberapa lama Dokter melakukan pemeriksaan pada Amel, akhirnya selesai juga, Dokter itu langsung keluar dari dalam ruangan pemeriksaan lalu berjalan menghampiri Raka.
"Pak, saya......"
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Evan, rasanya hanya ingin cepat mendengar kabar dari istrinya.
"Istri bapak mengalami pendarahan....." Dokter menghentikan perkataannya.
"Pendarahan, maksud Dok?" tanya Reza, hati Reza semakin tidak tenang.
"Istri bapak....."
Bersambung
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia