Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Harus menahannya


__ADS_3

"Lalu aku tidur dimana?" tanya Reza, terlihat wajahnya Reza begitu polos dan sangat menggemaskan.


"Kamu tidur......" Amel berpikir, tapi dia tidak yakin melanjutkan kata-katanya.


"Kamu apa?" tanya Reza, detak jantungnya begitu kencang.


Tiba-tiba petir kembali terdengar begitu menggema, membuat Amel semakin ketakutan dan Amel makin mempererat pelukannya.


"Reza, kamu tidur di atas ranjang ya! Kamu temanin aku, aku takut sekali." Pinta Amel dengan nada takut.


Reza mengangguk, biarpun hatinya dan jantung masih berperang melawan perasaan yang saat ini ada tapi akhirnyan Amel dan Reza sama-sama membaringkan tubuhnya di atas kasur.


Sambil berbaring di atas ranjang tempat tidur Amel terus memeluk Reza, Reza juga memeluk Amel dengan erat.


"Jangan takut ada aku!" Kata Reza di sela-sela pelukannya, Reza berusaha menenangkan Amel..


Amel mengangguk lalu dia memejamkan matanya di pelukan Reza.


Sebagai laki-laki normal, tentu saja hasratnya Reza meronta-ronta, ingin menyentuh Amel dengan lebih, tapi Reza harus tahan karena belum halal.


Hingga beberapa jam berlalu, Reza masih terjaga sedangkan Amel sudah lelap tertidur.


Reza mengusap pipi mulus Amel, lalu mencium kening Amel dengan hangat.


Malam semakin larut gemuruh petir semakin menjadi-jadi, akhirnya Reza memejamkan matanya sambil menahan nafsunya agar tidak sampai berbuat lebih.


*****


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Raka dan Naya sudah bangun dari tidur mereka. Sambil duduk ditepi ranjang, Raka terus senyam-senyum sendiri.


Naya terlihat bingung sambil memegang sambil dielus-elus perutnya, lalu Naya duduk di sebelah Raka.

__ADS_1


"Mas, apa kamu salah minum obat?" tanya Naya dengan nada lembut.


"Sayang, mas sedang membayangkan apa yang terjadi, pada Amel dan Reza, bayangkan semalaman mereka berdua di kamar, mereka terkunci di dalam kamar berdua, pasti sudah terjadi sesuatu?" celoteh Raka dengan senyum yang begitu sumpringah, senyuman semakin jail.


.


Naya sungguh kesal, Naya menghela nafasnya dengan panjang. Rasanya pingin nimpuk suaminya dengan sandal, tapi Naya takut dosa jika berani pada suaminya.


"Aku rasa suamiku harus di periksakan otaknya ke Dokter, sungguh mesum sekali pemikirannya," batin Naya dalam hatinya.


"Sudahlah mas, ayo sarapan! Ini kecebong kecil kita sudah meronta-ronta minta makan," kata Naya agar suaminya tidak terus menghayal hal konyol tidak jelas.


"Baik-baiklah, ayo kita pergi makan, tapi kita ke kamar Amel dan Reza dulu ya!"


"Iya mas, ayo kita kesana dulu!"


Naya dan Raka keluar dari kamar, lalu mereka langsung menuju ke kamar hotel Amel dan Reza.


"Tok...tok...tok...." Raka mengetuk pintu kamar hotel Reza.


Dari senyum Raka sudah terlihat kalau Raka pasti akan merencanakan hal jail yang lainnya. Tapi lagi-lagi Reza berusaha bersikap tenang di hadapan Raka.


"Mana Amel? Apa kamu sudah mengacak-acak Amel?" goda Raka yang lagi-lagi jail.


"Sembarangan, memangnya Amel ini apaan bos sampai di acak-acak segala?" cibir Reza sambil geleng-geleng kepala.


"Kak jangan dengarkan suamiku, sepertinya otak suamiku agak bermasalah kak." Timpal Naya, senyumnya begitu manis pada Reza.


Raka langsung mencubit pipi Naya dengan pelan, karena tidak suka jika Naya tersenyum pada laki-laki lain selain Raka.


"Sayang, jangan senyam-senyum pada Reza!" Omel Raka, sambil menatap Reza dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Hanya senyum, siapa tau hatinya nanti diberikan juga pada saya bos," canda Reza membuat Raka langsung mencubit lengan tangan Reza dengan kuat.


"Berani kamu bicara seperti itu, berani kamu menatap istriku, aku akan bilang pada Amel biar dia menjewer telingamu." Ancam Raka, membuat Reza dan Naya sama-sama tertawa.


"Kak, sudah jangan perdulikan Mas Raka, mana Kak Amel, ayo ajak sarapan dulu!" Kata Naya, agar suaminya dan Reza tidak terus berdebat tidak jelas.


Akhirnya Reza masuk ke dalam kamar, dia memanggil Amel yang baru saja selesai berdandan.


"Ayo sarapan! Bos dan istrinya sudah menunggu," ajak Reza dengan nada lembut.


Reza dan Amel keluar dari dalam kamar, lalu mereka langsung menuju kesebuah restoran yang ada di hotel itu untuk sarapan bersama.


Kini mereka sedang menikmati sarapan pagi bersama.


"Setelah sarapan kita mau kemana?" tanya Raka pada semuanya.


Kini Reza, Amel dan Naya, terlihat sedang berpikir.


"Menurut mas kemana?" Naya balik bertanya.


"Aturan disini ada Kakak ipar dan Nia juga," celetuk Raka, dia tiba-tiba teringat dengan kakak iparnya itu.


"Di tanya apa? Malah ngomong apa?" Naya mendengus kesal.


"Suamimu memang seperti itu," timpal Reza sambil tersenyum kecil.


Amel hanya fokus makan, sambil memikirkan dia ingin kemana lagi? Dia juga enggan mengurusi perdebatan kecil anak Reza dan yang lainnya.


Entah mereka akan pergi kemana lagi?


BERSAMBUNG 😊

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


Maaf baru update, dari kemarin sibuk sekali karena ada acara keluarga 🙏🙏


__ADS_2