Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Raka dan Rio


__ADS_3

"Maaf, saya permisi!" Naya hendak masuk ke dalam rumahnya, tapi tangan kekar laki-laki itu menahan tangan Naya.


Raka begitu marah. "Lepaskan tangan istriku!" Sentak Raka dengan nada menggema.


"Berani sekali kamu menganggu istriku," Raka terus menatap tajam laki-laki itu.


Laki-laki itu langsung melepaskan tangan Naya, kini laki-laki itu menatap Raka dengan tatapan tajam, iya laki-laki itu adalah Rio yang tidak lain adalah suaminya Elina.


Raka menarik Naya masuk ke dalam pelukannya. "Tenanglah sayang, Pak Joni dan Pak Udin kemana?" Tanya Raka, bisa-bisanya penjaga rumahnya dua-duanya tidak ada.


"Mereka tadi pamit mas, anaknya Pak Joni sakit dan Pak Udin juga katanya istrinya mau melahirkan, jadi mereka sama-sama pamit pulang," jelas Naya. Naya tahu, pasti Raka akan sangat kawatir padanya.


"Bibi?" Tanya Raka.


"Dia sudah pulang setelah pekerjaan selesai mas," jawab Naya dengan suara pelan.


Rio menatap Naya dan Raka dengan tatapan tidak suka, bisa-bisanya mereka berdua pamer kemesraan di hadapannya.


"Raka, daun muda itu begitu menggoda. Aku hanya ingin mencicipinya saja, aku tidak akan mengambilnya darimu." Kata Rio, dia kembali menatap Naya dengan tatapan mesum.


Raka melepaskan Naya dari pelukannya, lalu dia menarik kra kemeja Rio dengan kasar kini Raka menatap Rio dengan penuh amarah.


"Rio, dengarkan aku baik-baik. Jangan sekali-kali menganggu istriku!" Raka memberikan peringatan pada Rio, jika sampai terjadi lagi maka Raka tidak akan segan-segan memberikan Rio pelajaran.


"Kamu sedang mengancamku? Bahkan kamu tahu sendiri, apa yang menjadi milikmu itu pasti akan menjadi milikku," kata Rio tatapannya begitu meremehkan Raka.


Raka yang dari tadi sudah menahan amarahnya, akhirnya dia melayangkan satu pukulan yang begitu keras pada Rio, Rio hendak melawan tapi Raka tidak memberikan kesempatan Rio membalas dirinya.

__ADS_1


Kini berulang kali, Raka terus mengh*j*r Rio hingga Rio babak belur.


"Ini baru peringatan untuk kamu, jika kamu sampai menganggu atau menyentuh istriku lagi, aku tidak akan segan-segan memb*n*hmu laki-laki br*ngs*k." Tandas Raka, dia ingin terus memberikan pelajaran pada Rio, tapi Rio sudah babak belur.


Rio mengusap sudut bibirnya yang berdarah, kini dia kembali menatap tajam Raka.


"Ingat Raka, kita belum selesai dan kamu juga harus tahu, apa yang kamu miliki harus menjadi milik aku!" Tandas Rio, dia berjalan pergi meninggalkan Naya dan Raka.


Setelah Rio pergi, Raka langsung memeluk Naya dengan erat. "Sayang, sudah jangan takut ada mas," tutur Raka. Tubuh Naya gemetaran, apalagi melihat perkelahian suaminya dan Rio tadi.


"Mas tidak apa-apa?" Tanya Naya, dia terlihat begitu kawatir.


"Mas tidak apa-apa, ayo masuk!" Raka memapah Naya masuk ke dalam rumah.


Dalam hatinya dia sungguh marah, sungguh Rio ini tidak ada habis-habisnya, dulu dia merebut Elina dari Raka dan sekarang dia mau merebut Naya, jangan harap Raka akan dengan muda melepaskan Naya begitu saja.


Kini Raka dan Naya duduk di sofa, Naya masih diam. "Tunggu, mas ambilkan air putih dulu," kata Raka dan dia pergi mengambil air putih.


Raka kembali dengan membawa air putih, lalu dia memberikan segelas air putih itu pada Naya dan Naya menerima air putih itu, lalu meminum air putih itu.


*****


Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sungguh hatinya tidak terima apalagi kalau dirinya kalah dari Raka. Apalagi, alasan Rio merebut Elina dari Raka, itu juga dia ingin menang dari Raka. Dan apapun yang Raka miliki, Rio harus mendapatkannya walaupun dengan cara apapun.


"Aku tidak terima, aku akan membalas kamu Raka." Kata Rio, tersimpan amarah yang begitu dalam di dalam hatinya.


Selama ini Raka selalu menganggap Rio itu adalah sahabat terbaik dia, tapi nyatanya Rio tidak sebaik apa yang dia kira. Bahkan Rio bisa menjadi orang jahat, karena ambisinya.

__ADS_1


"Aku harus cari cara bagaimana cara mendapatkan gadis kecil itu, kalau Elina dia sudah aku makan, jadi sudah tidak penting lagi bagiku." Rio terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Rio sampai di depan rumahnya.


Elina yang sedang duduk di kursi depan rumahnya, dia agak terkejut karena suaminya tumben-tumbenan pulang cepat padahal biasanya pulang sore, kalau tidak sore malam dan kadang lebih sering tidak pulang. Elina juga tidak tahu, kalau Rio tidak pulang itu dia pergi kemana?


Rio turun dari dalam mobilnya, dia menutup pintu mobilnya dengan kasar dan berjalan sempoyongan sambil memegangi sudut bibirnya yang terluka karena pukulan dari Raka tadi.


Elina berjalan menghampiri Rio, dia terlihat kawatir melihat kondisi suaminya yang seperti saat ini.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Elina, terlihat begitu kawatir.


"Bisakah aku masuk dulu? Suami pulang bukannya disuruh masuk, ini malah banyak tanya." Sentak Rio membuat Elina terdiam dan tidak berani bicara lagi.


"Dulu Mas Raka tidak pernah membentakku, dia selalu sayang sama aku. Elina, kamu terlalu bodoh sudah meninggalkan laki-laki sebaik Raka," batin Elina dalam hatinya.


"Kenapa, kamu malah diam!" Rio lagi-lagi membentak Elina, membuat Elina buru-buru memapah Rio masuk ke dalam rumah.


Kini Elina, mendudukkan Rio di sofa dan dia bergegas untuk mengambil alat p3k.


"Kamu kenapa mas?" Tanya Elina, dia membuka alat p3k yang dia ambil.


"Aku....."


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 🙏

__ADS_1


__ADS_2