
Dua hari telah berlalu, seperti pagi biasanya Naya muntah-muntah. Membuat Raka kawatir, tapi Naya setiap kali di bawa ke rumah sakit tidak mau. Sungguh betapa geramnya Raka ini pada istri kecilnya yang akhir-akhir ini juga sering bersikap aneh dan meminta hal aneh-aneh, bahkan Raka juga tidak di kasih jatah karena Naya tidak mau di sentuh sama sekali.
Naya terlihat lemas dia duduk di tepi ranjang, Raka hendak duduk di sebelahnya tapi tiba-tiba Naya menggeser duduknya.
"Mau sampai kapan jaga jarak terus, sayang?" Tanya Raka, nadanya agak kesal tapi Naya terlihat tiba-tiba sedih.
Raka mengaruk-garuk kepalanya, sungguh dia sudah tidak tahan dengan sikap istrinya beberapa hari ini.
"Kamu kenapa?" Tanya Raka, sekarang dia bertanya dengan nada lembut.
"Mas, bicara membentak aku. Aku tidak mau di bentak mas," tiba-tiba Naya menangis. Sungguh Raka sudah tidak tahan lagi.
"Sayang, mas tidak membentakmu, mas minta maaf. Sekarang, kita ke rumah sakit ya kamu dari kemarin muntah-muntah terus, lihat wajah kamu juga pucat. Mas takut kamu kenapa-kenapa, nanti mas pasti akan sedih." Raka berusaha membujuk Naya dengan sabar.
Akhirnya Naya menganggukkan kepalanya, Raka tersenyum bahagia dan langsung membawa Naya ke rumah sakit.
******
Sesampainya di rumah sakit, Raka langsung membawa ke dokter pribadi keluarga Kumara. Di dalam sana Naya sedang melakukan pemeriksaan dengan teliti.
"Sus, hari ini Dokter kandungan yang datang siapa?" Tanya Tania, yang tidak lain adalah dokter pribadi keluarga Kumara dan teman dekat Raka waktu sekolah SMA dulu.
Raka yang sedang menunggu Naya di periksa karena tidak mau keluar, dia terlihat bingung, lalu dia melihat ke arah Tania.
"Ada Dokter Bian," jawab sang suster.
"Panggil Dokter Bian ke ruanganku!" Pinta Tania dan sang suster pergi memanggil Bian.
__ADS_1
"Nia, istriku kenapa? Kenapa kamu memanggil dokter kandungan?" Tanya Raka penasaran.
"Nanti kita cek dulu," jawab Tania sambil melihat Raka yang masih bingung.
Setelah beberapa lama Bian datang ke ruangan Tania, Raka terlihat tidak suka melihat Bian yang begitu tampan dengan setelan baju Dokter warna putih yang menempel di tubuhnya yang kekar.
"Dokter Nia, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bian pada Tania.
"Dokter, tolong bantu cek apa istri teman saya ini hamil atau tidak?" Jawab Tania, Raka terlihat tidak dapat melihat Bian. "Nia, apa rumah sakit sebesar ini tidak ada Dokter kandungan yang lain? Yang wanita gitu, haruskah istriku di pegang-pegang oleh dokter ini?" Raka agak kesal, tapi Nia hanya menggeleng kepalanya.
"Dasar Raka, padahal kamu sudah tidak muda lagi. Tapi bucinmu begitu akut," batin Nia dalam hatinya.
"Dokter kandungan hari ini yang bertugas hanya Dokter Bian, Ka." Jelas Nia, berharap Raka tidak rempong lagi.
"Tapi, aku tidak suka jika istriku di pegang-pegang oleh laki-laki lain," kata Raka membuat Naya hanya bisa diam.
"Mas Raka, haruskah bersikap seperti ini?" Batin Naya dalam hatinya.
"Ka, Dokter Bian hanya memeriksa istrimu saja tidak akan lebih, itu juga akan aku awasi," tutur Nia berharap Raka tidak banyak protes.
"Mas, kemarinlah!" Pinta Naya dengan nada lembut, kini Naya memegang tangan Raka dengan erat. "Biarkan, Dokter Bian memeriksa aku. Kan kamu dengar sendiri dari Dokter Nia, aku harus cek kehamilan. Kamu mau kan punya anak?" Tutur Naya dengan lembut, dia tahu sekali bagaimana cara memberikan pengertian pada suaminya yang bucinnya akut ini.
"Tapi sayang...."
"Mas, Dokter Bian memeriksa aku dengan pengawasan Dokter Nia. Tidak apa-apa, hanya di periksa saja mas," Naya memotong perkataan Raka.
Bian ingin tertawa melihat daun muda ini dan duda tampan ini, sungguh tingkah mereka begitu lucu menurut Bian.
__ADS_1
"Iya pak, saya hanya memeriksa keadaan istri bapak saja tidak lebih," kata Bian yang di anggukin oleh Nia dan Tania secara bersamaan.
Akhirnya Raka memperbolehkan Bian memeriksa Naya, ya biarpun Raka terlihat kesal Karena jelas melihat tubuh mulus istrinya di pegang-pegang oleh Bian. Rasanya sungguh tidak rela, mungkin jika Bian bukan seorang Dokter pasti Raka sudah menghajarnya.
Bian melakukan pemeriksaan dengan pengawasan Nia, kini Bian memeriksa Naya dengan teliti hingga beberapa lama akhirnya pemeriksaannya selesai.
Raka tampak lega dan dia langsung memegang tangan Naya, dan mengusap-usap bagian mana saja yang di pegang oleh Bian. Sungguh kali ini Raka begitu lucu dengan sikapnya yang bucinnya akut itu.
"Istriku kenapa?" Tanya Raka, dia duduk di dekat Naya sambil melihat Tania dan Bian.
"Selamat, istri anda hamil pak." Kata Bian sambil tersenyum.
"Dasar kok ada suami seperti ini," batin Bian dalam hatinya.
Raka dan Naya sama-sama tersenyum, Raka langsung memeluk Naya dan memberikan banyak ciuman untuk Naya di hadapan Bian dan Nia.
Sungguh Nia dan Bian hanya bisa garuk-garuk kepala, karena mereka sama-sama belum menikah karena terlalu sibuk mengejar karir mereka. Tapi biarpun usia Tania dan Bian tidak muda lagi, wajah mereka masih terlihat awet muda.
Raka melihat ke arah Tania, membuat Tania menatapnya dengan tatapan bingung.
"Ada apa?" Tanya Tania agak ketus, apalagi melihat senyum Raka begitu jail.
"Segeralah menikah, aku sudah mau punya baby." Jawab Raka dengan nada meledek.
Tania hanya mengangguk, tapi dia juga bahagia karena akhirnya Raka akan punya anak.
Setelah selesai pemeriksaan, Raka langsung mengajak Naya pulang ke rumah. Tidak lupa Raka juga membeli resep obat yang diberikan oleh Bian tadi setelah selesai pemeriksaan.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 🙏