Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Naya terlihat marah


__ADS_3

"Siapa laki-laki itu?" Gumam Raka sambil berjalan menuju ke tempat Naya dan laki-laki sedang berdiri.


Raka melihat tatapan laki-laki itu dengan tatapan begitu kesal, rasa cemburunya mulai meronta-ronta karena melihat laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah Reza.


"Sedang apa kamu disini?" Tatapan mata Raka terlihat begitu cemburu.


Raka terus melihat Reza dengan tatapan penuh kecemburuan, tapi Reza terlihat tenang karena dia tidak melakukan kesalahan apapun.


"Kak Reza, hanya mampir mas," jawab Naya yang tahu kalau suaminya ini sudah berpikiran macam-macam.


"Mampir! Haruskah mampir di saat tidak ada mas dirumah?" Raka menatap Naya, kali ini tatapan matanya terlihat kesal pada Naya.


Naya menghela nafas panjang, dia memegang lengan tangan suaminya agar suaminya ini tidak bicara macam-macam lagi.


"Kita masuk dulu mas, Kak Reza juga ayo masuk! Tunggu Kak Amel di dalam saja," ajak Naya membuat Raka menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya? "Amel, apa ada Amel juga?" Tanya Raka.


"Ada Mas, Kak Amel sedang di dalam kamar mandi." Jawab Naya dengan nada lembut. "Makanya mas, kalau cemburu itu lihat-lihat, jadi malu sendirikan," batin Naya dalam hatinya.


Raka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, rasanya tidak enak dengan Reza. Tapi mau bagaimana lagi? Sudah telanjur cemburu juga.


Amel baru saja keluar dari dalam kamar mandi, melihat Raka, Amel tersenyum sopan pada bosnya itu.


"Selamat malam bos," sapa Amel sambil tersenyum.


"Malam juga Mel," balas Raka yang juga tersenyum pada Amel.

__ADS_1


Belum sempat duduk, Reza dan Amel langsung berpamitan pada Raka dan Naya, karena sudah malam juga takut menganggu istirahat Naya, apalagi Naya juga sedang hamil jadi Reza dan Amel juga tidak enak jika terlalu kemalaman pulangnya, lagian tadi Reza juga tidak sengaja mampir ke rumah Raka, karena dalam perjalanan Amel pingin kebelet pipis akhirnya karena rumah Raka yang paling dekat, jadi Reza mampir sebentar tadi.


Setelah Amel dan Reza pulang, Naya mengunci pintu rumahnya. Lalu dia mengajak suaminya masuk ke dalam kamar.


"Mas, kita sudah mau punya anak. Mas kurangilah rasa cemburuannya mas itu, tidak enakkan mas." Tutur Naya, sambil melepaskan dasi yang Raka pakai.


"Apa salah jika mas cemburu? Mas tadi lihat, kamu hanya berduaan dengan Reza, siapa yang tidak cemburu?"


"Mas...mas, ada Kak Amel, tapi tadi Kak Amel numpang ke kamar mandi."


"Apa kalian macam-macam? Atau Reza menggoda kamu?"


Raka semakin tidak jelas, kini dia malah menuduh Naya macam-macam, jelas-jelas Naya sedang mengandung kecebong kecilnya boro-boro mikirin buat macam-macam, dasar Raka ini suka gila dan berpikir semaunya sendiri saja.


"Jadi jika ada waktu, kamu mau macam-macam?" Raka semakin menjadi-jadi, Naya menatap Raka lalu menarik nafasnya dengan penuh kesabaran.


"Mas buanglah pikiran kamu yang seperti itu! Sekarang mas mandi, terus makan malam, aku sudah siapkan makan malam untuk mas," kata Naya yang tidak mau memperpanjang perdebatan dengan suaminya.


Raka terlihat kesal tapi langsung pergi ke dalam kamar mandi, Naya menaruh jas Raka di keranjang baju kotor.


Naya duduk di tepi ranjang, dia mengelus-elus perut dengan lembut.


"Nak, mama tidak tahu kamu perempuan atau laki-laki, tapi mama minta kamu jangan seperti papa kamu yang sukanya cemburuan berlebihan ya nak! Kasian nanti pasangan kamu," harapan Naya untuk sang calon buah hatinya.


Setelah beberapa lama akhirnya Raka selesai mandi, Raka juga sudah selesai berganti baju.

__ADS_1


Raka duduk di sebelah Naya, lalu Naya melihat Raka dengan tatapan begitu penuh kasih sayang.


"Kenapa duduk? Ayo maka malam dulu mas," kata Naya, tapi Raka malah diam dan dia tidak bergeming dari tempat duduknya.


Raka memegang tangan Naya dengan erat, membuat Naya menatapnya dengan tatapan serius.


"Ada apa mas? Apa ada masalah?" Tanya Naya dengan nada lembut.


"Sayang, mas mau bertanya pada kamu." Raka tidak yakin, tapi hal ini harus Raka tanyakan langsung pada istrinya.


Perasaan Naya agak tidak enak, kini Naya terus menatap Raka, berharap semuanya baik-baik saja.


"Katakan mas, mas mau tanya apa?" Tanya Naya dengan nada lembut.


"Jika Elina, mantan istri mas berkerja di kantor mas apakah boleh, sayang?" Tanya Raka dalam hatinya dia takut Naya akan berpikir macam-macam.


Naya terkejut, dia langsung memperdalam tatapan matanya, apakah suaminya ini sedang bergurau?


"Apa mas? Kenapa, harus di kantor mas?" Tanya Naya agak tidak suka, sorot mata Naya juga terlihat marah.


Raka terdiam sejenak, bagaimana cara dia menjelaskan pada Naya?


BERSAMBUNG 😁


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2