
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya mereka semua pulang dari liburan mereka yang begitu bahagia.
Raka kembali sibuk dengan pekerjaannya di kantor, Reza juga sibuk dengan pekerjaannya yang kemarin di tinggal liburan beberapa hari.
Amel sedang sibuk dengan pekerjaannya, kini dia sedang sibuk membersihkan ruangan kerja Reza, yang tidak lain adalah kekasihnya.
Reza yang sedang sibuk dengan laptopnya, dia diam-diam melirik Amel yang sedang mengelap lemari kaca yang ada di ruangannya.
"Lihat, jika Amel berada terus di ruanganku bagaimana aku bisa fokus kerja?" batin Reza dalam hatinya.
Amel sadar kalau dari tadi Reza diam-diam memperhatikan dirinya, tapi Amel sadar saat ini sedang jam bekerja, jadi Amel juga mencoba bersikap profesional dengan Reza.
Tapi tiba-tiba Reza beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan menghampiri Amel yang sedang mengelap lemari-lemari kaca itu.
Amel agak canggung, dia juga tiba-tiba merasa deg-deggan tidak jelas.
"Sayang, hari ini kamu cantik sekali." Kata Reza, yang saat ini sudah berdiri dibelakang Amel.
Seketika bulu kuduk Amel merinding, Amel merasa takut seperti bertemu dengan hantu saja, padahal Reza adalah kekasihnya.
"Mas, ini masih jam kerja!" Lirih Amel, dia langsung menjauhkan tubuhnya dari tubuh Reza.
Reza tersenyum, ingin rasanya menyentuh bibir lembut Amel, tapi Reza menahannya karena takut Amel akan marah, apalagi ini sedang di kantor.
Tapi entah dedemit apa yang merasuki Reza? Tiba-tiba Reza meraih kedua pipi Amel dengan kedua tangannya. Kini Reza menatap Amel dengan tatapan begitu lembut, Amel juga melakukan hal yang sama.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Amel dengan suara pelan.
__ADS_1
"Beri mas sedikit ciuman!" bisik Reza, dengan nada agak mesum.
Amel semakin deg-deggan, dasar Reza ini ternyata bisa mesum juga seperti sang bos. Reza semakin mendekatkan bibirnya ke bibir mungil Amel, membuat Amel merasa gemetaran. Apalagi ini di dalam ruangan kerja Reza, bagaimana jika ada yang melihatnya?
"Hanya sebuah kecupan, untuk semangat pagi mas!" Kata Reza sebelum melakukan ciumanya pada Amel.
Amel mulai memejamkan matanya, dia berusaha rolex dan tidak tegang, tapi hatinya terus berdebar kencang.
Hampir saja Reza mencium Amel, tapi tiba-tiba terdengar suara deheman dan tentunya suara itu sangat tidak asing bagi Reza.
"Ehem-ehem, lain kali kunci pintunya jika ingin bermesraan, takut ada orang lain yang melihat pemandangan ini!" Raka berdehem, sambil cengar-cengir.
Reza langsung menjauhkan wajahnya dari wajah Amel, seketika wajah keduanya begitu merah seperti kepiting rebus.
"Ehh sih bos." Celetuk Reza dengan gugup, bahkan Reza hanya bisa garuk-garuk kepala sambil menyesali perbuatannya.
"Tidak usah terlalu gugup, saya juga sering melakukannya dengan Naya," cibir Raka dengan jail.
Hadeh ini mah bukannya pegawainya yang tidak ada akhlak tapi malah bosnya yang tidak ada akhlak.
"Maaf bos, tadi tidak sengaja." Amel begitu polos dalam mengakui kesalahannya, membuat Raka ingin tertawa tapi Raka menahannya.
"Iya Mel, saya tahu. Dalam hal ini pasti kucing garong ini yang mencari-cari kesempatan atau memanfaatkan kesempatan yang ada?" Raka menatap Reza semakin jail.
Sial bosnya ini kebangetan sekali, baru ingin merasakan kenikmatan bibir Amel, ehh malah dapat ledekan dari bosnya.
"Mana ada bos, kucing garong setampan saya?" Reza membanggakan dirinya dengan senyuman begitu manis.
__ADS_1
Sungguh rasanya Raka ingin melempar Reza dengan berkas-berkas yang ada di tangannya saat ini, tapi tidak Raka lakukan.
"Hati-hati Mel, Reza banyak wanitanya!" Cibir Raka, yang semakin jail.
Amel langsung menatap Reza dengan tatapan penuh tanda tanya? Bahkan Amel langsung mengeluarkan taringnya, membuat Reza takut untuk menatap Amel.
"Aish si bos, buat kucing betina menjadi singa saja, lihat sekarang tatapan Amel terlihat begitu mengerikan!" batin Reza dalam hatinya.
"Bos....." Reza menghentikan kata-katanya, karena jika melawan Raka maka Raka akan semakin jail.
"Apa? Kamu selesaikan semua pekerjaan ini ya!" Kata Raka, dia menaruh berkas-berkas yang dia bawah di atas meja kerja Reza.
Reza mengangguk pelan, tapi Raka menatap Amel dengan tatapan jail, bahkan Raka ingin tertawa tapi lagi-lagi tidak dia lakukan.
"Mel, Reza tidak sepolos yang kamu pikirkan. Wanitanya dia ada beberapa," tutur Raka sambil berjalan keluar dari ruangan kerja Reza.
Setelah Raka keluar, Raka tertawa senang sambil berjalan.
"Pasti akan terjadi perang, tapi biarkan sajalah!" Batin Raka dalam hatinya.
Mata Amel begitu berapi-api, otaknya sudah dipenuhi dengan hal-hal yang tidak baik dan tentunya dengan rasa curiga yang berlebihan.
"Mas, siapa saja wanita kamu?" tanya Amel dengan tatapan begitu tajam.
"Sayang....."
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 🤗