Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Maafkan Mas, Naya


__ADS_3

Pagi hari kemudian.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Naya langsung pergi menuju ke dapur. Di dapur Naya bengong, memikirkan suaminya yang masih saja memikirkan mantan istrinya.


"Sebesar apa cinta Mas Raka pada mantan istrinya itu?" Tanya Naya pada dirinya sendiri.


Pagi ini Naya bahkan terlalu malas untuk membuatkan sarapan untuk suaminya. Naya juga akhirnya tidak memasak apapun, dia memilih duduk sambil diam di kursi yang ada di dapur.


Raka keluar dari dalam kamarnya, dia melihat ke kamar sebelah tapi Naya sudah tidak ada di dalam kamarnya.


"Dia sudah bangun," kata Raka pagi ini raut wajah Raka terlihat tidak bahagia.


Raka melangkahkan kakinya menuju ke dapur, dia tahu kalau pagi pasti istrinya biasanya di dapur.


Raka melihat Naya hanya diam, Raka berjalan menghampiri Raka.


"Sayang, kenapa bengong?" Suara khas Raka terdengar di telinga Naya.


Sekilas Naya melihat Raka, tapi dia bersikap dingin pada Raka.


"Masih tanya lagi," sahut Naya dengan nada dingin.


Raka menghela nafas berat, tangannya hendak meraih pipi Naya, tapi dengan cepat Raka menepis tangan Raka dengan kasar.


"Jangan menyentuhku mas!" Ketus Naya, tidak biasanya Naya bersikap seketus ini pada Raka.


Naya memilih pergi meninggalkan Raka begitu saja, sungguh dia tidak ingin berdebat dengan suaminya. Tapi hati kecilnya tidak bisa menerima jika suaminya ini masih terus memperdulikan mantan istrinya itu.


"Naya, kita bisa bicara baik-baik. Mas mohon jangan bersikap seperti ini pada mas!" Pinta Raka, sambil menarik tangan Naya tapi lagi-lagi Naya menepis tangan Raka dengan kasar.


Naya menatap Raka dengan tatapan tajam, kali ini Naya benar-benar merasa marah, dia sungguh tidak mengerti lagi dengan sang suaminya ini.


"Bicara apa mas? Kamu masih perduli dengan mantan istri kamu kan mas, perdulikan saja dia mas! Tidak usah lagi perdulikan aku dan perasaanku sebagai istrimu lagi!" Naya benar-benar marah, bahkan dia enggan melihat wajah tampan Raka.

__ADS_1


Naya berlari masuk ke dalam kamarnya, Raka terlihat kawatir, tapi dia mengejar Naya pasti Naya akan semakin marah.


"Dasar Raka bodoh, Naya itu istri kamu, Elina itu mantan istrimu, jika kamu terus perdulikan Elina, maka kamu akan kehilangan Naya," hati Raka menyumpah serapahi dirinya sendiri.


"Urusin saja Elina, tapi jika Naya pergi jangan kamu harus terima itu, Raka bodoh!" Hati Raka terus bergelut dengan dirinya sendiri.


Raka meyakinkan hatinya, kali ini Naya lah yang paling dalam hidupnya. Jika Raka sampai membuat Naya kecewa, itu adalah sebuah kesalahan besar dalam hidupnya.


Raka berjalan ke kamar Naya, dia mengetuk pintu kamar Naya. "Sayang, aku tidak akan tenang jika kamu masih marah padaku, aku tahu aku salah." Batin Raka dalam hatinya.


"Tok...tok...tok....."


"Sayang, buka pintunya."


"Mas tahu, mas salah, mas minta maaf. Ayo kita bicara baik-baik."


"Naya, mas mohon jangan seperti ini sayang!"


Raka terus mengetuk pintu kamar kamar Naya, sungguh dirinya merasa frustasi karena istrinya bersikap dingin pada dirinya.


"Ini semua karena kamu mas, coba mas tidak terlalu peduli dengan mantan istrinya mas, pasti aku tidak akan seperti ini." Batin Naya dalam hatinya.


Naya mengelus-elus perut yang semakin buncit, dia berharap anaknya di dalam sana anteng dan tidak ikut stress.


"Nak, jika papa kamu terus memperdulikan mantan istrinya, maka kita pergi saja dari rumah papa ya nak. Kita hidup sendiri tanpa papa," kata Naya. Air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.


Sungguh Naya sedih, Naya marah, semuanya Naya rasakan, tapi Raka tidak peka sama sekali.


Setelah beberapa lama menunggu, Naya tidak kunjung membukakan pintu kamarnya. Raka pergi begitu saja, dia langsung menuju ke kantor.


Sesampainya di kantor Raka langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Elin, haruskah kamu menganggu Bos Raka lagi?" Tanya Reza, dengan tegas.

__ADS_1


"Reza, kamu itu hanya sekertaris Mas Raka, haruskah kamu ikut campur masalahku dan Mas Raka?" Elina malah balik bertanya dengan ketus.


Reza geleng-geleng kepala, dasar wanita tidak tahu diri, sudah tahu hanya mantan istri Raka. Tapi gayanya masih sok, awas saja jika Elina sampai membuat Naya terluka, pasti Reza tidak akan tinggal diam saja.


"Ingat ya, Naya adalah sahabatku. Jika kamu sampai membuat dia terluka atau nyakitin hati Naya, aku tidak akan tinggal diam saja!" Ancam Reza dengan tatapan tajam.


Elina hanya tersenyum, dia tidak perduli dengan omongan Reza.


"Terserah kamu saja, aku mau ke ruangan mantan suamiku dulu." Elina berlalu pergi begitu saja.


Sesampainya di ruangan Raka, Elina mengetuk pintu ruangan Raka, lalu Raka menyuruh Elina masuk.


"Duduklah!"


Elina duduk, lalu dia tersenyum pada Raka dengan begitu manis.


"Mas, aku datang untuk menanyakan bagaimana, apakah boleh aku bekerja di kantor mas?" Tanya Elina, dia memasang wajah memelas di hadapan Raka.


Raka tidak tega, tapi Raka juga tidak mau menyakiti hati istrinya. Semalaman saja mereka sudah perang dingin, apa jadinya jika Raka menerima Naya bekerja di kantor miliknya?


"Elin, aku minta maaf. Aku tidak bisa menerima kamu kerja di kantor aku yang ini, tapi kalau kamu mau aku akan kirim kamu ke luar negeri, disana kamu bisa kerja di kantor aku, kamu juga bisa mendapatkan gajian yang besar." Tawar Raka, demi istrinya agar tidak terus-terusan bersikap dingin padanya.


Elina terdiam, sungguh dia hanya ingin bekerja di kantor Raka saja yang disini, dia tidak mau di kantor Raka yang ada di luar negeri atau kantor Raka yang lainnya.


"Mas, aku hanya ingin menjadi cleaning servis, haruskah di kantor yang di luar negeri mas?" Tanya Elina, yang lagi-lagi terlihat begitu sedih.


"Maaf Elina, jika kamu mau ya mas berikan, tapi jika tidak mau ya mas tidak bisa lagi membantu kamu. Biar bagaimanapun kamu adalah mantan istrinya mas, pasti jika kamu bekerja disini, istri mas pasti akan salah paham." Jelas Raka, berharap Elina mau mengerti.


Dalam hati Elina, Naya lagi, Naya lagi, gara-gara gadis itu Mas Raka sekarang berubah. Padahal dulu tidak seperti ini.


"Pilihan ada pada kamu Elin," sambung Raka dengan tegas.


Elina terdiam, dia bingung harus menerimanya atau tidak?

__ADS_1


BERSAMBUNG 🤣


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2