
Reza berjalan menghampiri Naya, kini Naya menghentikan langkah kakinya.
"Naya...." Reza menatap Naya begitu dalam.
"Kak Eza....." Naya terkejut.
Naya masih tidak percaya yang di hadapannya ini adalah Reza Pratama, laki-laki yang tidak lain adalah kakak kelasnya waktu sekolah dulu.
"Apa kabar Nay?" Tanya Reza, dengan tatapan penuh arti.
"Aku sehat kak, kakak sendiri bagaimana kabarnya?" Naya balik bertanya, dia masih tidak menyangka bisa bertemu dengan Reza.
"Seperti yang kamu lihat," jawab Reza terlihat datar tapi tatapannya penuh arti.
"Kakak, kerja disini?" Tanya Naya lagi, Naya Melihat ke pegawai Raka yang tadi mau mengantarkan ke ruangan Raka. "Nona, saya mau ngobrol dulu sama Kak Eza, nanti saya ke ruangan Mas Raka sendiri," kata Naya dengan sopan.
"Baik Nyonya."
Sang pegawai itu mengerti, lalu dia pergi meninggalkan Naya dan Reza yang sedang mengobrol.
"Iya aku kerja disini, setelah sekian lama aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kamu lagi dan tentunya kamu masih cantik seperti dulu," kata Reza terlihat matanya berbinar senang, ingin sekali Reza memeluk Naya dan mengatakan dirinya mencintai Naya tapi sayangnya Naya sudah menjadi milik bosnya.
"Bisa saja kakak ini," Naya tersipu malu.
"Oh iya kak, Naya ke ruangan suami Naya dulu ya." Pamit Naya, dia hendak beranjak dari tempat duduknya tapi tiba-tiba tangan kekar Reza menahannya.
Naya agak deg-deggan, dengan cepat Naya melepaskan tangannya dari tangan Reza.
"Maaf Nay, oh iya aku antar ke ruangan bos Raka ya." Reza merasa gemetaran, kali ini hatinya berdebar kencang.
__ADS_1
Naya mengangguk pelan, lalu Reza mengatarkan Naya ke ruangan Raka. Naya dan Reza berjalan berdampingan, diam-diam Reza memperhatikan wajah cantik Naya, kini mereka saling menatap lalu sama-sama terukir senyuman manis di sudut bibir mereka.
Visual Reza dan Naya.
Melihat senyum Naya, hati Reza masih berdebar-debar kencang seperti dulu.
"Naya, senyummu masih sama seperti dulu. Andai saja aku bisa memilikimu, maafkan aku yang dulu pergi begitu saja tanpa pamit padamu," batin Raka dalam hatinya.
Buru-buru Reza menepis pikirannya, dia harus sadar kalau Naya bukan seorang gadis lagi melainkan dia adalah wanita yang bersuami.
"Reza, berhentilah memikirkan istri laki-laki lain!" Batin Reza dalam hatinya.
"Kak Reza, kerja disini sudah berapa lama?" Tanya Naya, dia agak canggung sebenarnya.
"Aku dengan Mas Raka baik-baik saja kak," jawab Naya, terlihat matanya berbinar begitu bahagia.
Dalam hati Reza, Naya terlihat begitu bahagia dengan bos Raka. Jika aku masuk dalam kehidupannya lagi, aku takut malah aku melukai hati Naya. Ada baiknya aku cukup lihat mereka bahagia saja, tapi jika bos sampai menyakiti hati Naya. Maka aku yang akan langsung menghajarnya dengan kedua tanganku.
Reza menghentikan langkah kakinya, Naya juga melakukan hal yang sama.
"Ini ruangan bos Raka, kamu masuklah!" Reza tersenyum pada Naya, biarpun sudah menjadi milik laki-laki lain yang penting Reza melihat Naya bahagia.
"Iya kak, kakak tidak ikut masuk?" Tanya Naya sambil tersenyum, lagi-lagi senyum itu terlihat begitu manis dan membuat Reza kembali berharap bisa bersama Naya.
"Jangan tersenyum terus, nanti aku meleleh." Kata Reza, dengan nada bercanda.
Senyum yang selama ini Reza tidak pernah melupakannya, kini ada di hadapannya, gadis kecil yang dulu sangat dia kagumi bahkan Reza mencintai tapi takdir berkata lain karena Reza waktu itu belum sempat menyatakan cintanya pada Naya.
__ADS_1
"Kenapa di saat di pertemukan kembali, Naya Sudah menikah?" Hati Reza meronta-ronta.
Raka yang ternyata memperhatikan Naya dan Reza dari balik jendela ruangannya, Raka agak bingung karena istrinya terlihat akrab dengan Reza yang tidak lain adalah sekretaris sekaligus sahabatnya.
Raka beranjak dari tempat duduknya, lalu dia membuka pintu ruangan dengan pelan.
"Sayang, kapan kamu datang? Kenapa tidak masuk?" Kata Raka tiba-tiba, membuat Reza dan Naya terkejut.
"Mas Raka...." Naya terkejut.
"Saya ke ruangan saya dulu bos, Nay aku duluan ya." Pamit Reza sambil tersenyum.
"Iya kak, terimakasih ya kak." Naya membalas senyum Reza.
Setelah Reza berlalu pergi ke ruangannya, mata Raka terus menatap Naya seolah-olah menuntut jawaban pada Naya.
"Kok datang tidak telpon mas dulu?" Tanya Raka, yang masih berdiri di ambang pintu.
"Maaf mas, lagian aku jenuh sekali di rumah jadi aku minta Pak Arif antar aku ke kantor mas," jawab Naya merasa bersalah karena tidak patuh pada suaminya.
Raka mengangguk pertanda mengerti, kini matanya kembali menatap Naya dalam-dalam.
"Kamu akrab sekali dengan Reza aku lihat," Raka terus menatap Naya, membuat jantung Naya berdebar kencang.
"Mas, kita masuk dulu. Nanti aku jelaskan," Akhirnya Raka mengajak Naya masuk ke dalam ruangannya.
BERSAMBUNG 🤣
Terimakasih para pembaca setia 🤗
__ADS_1