
Keesokannya harinya, Naya bangun lebih dulu seperti pagi biasanya biarpun dia sedang marah pada suaminya tapi dia tidak lupa menjalankan kewajiban sebagai seorang istri yaitu menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Setelah selesai membuat sarapan untuk suaminya, Naya hanya sebuah pesan di satu lembar kertas kecil.
"Sebelum berangkat kantor sarapan dulu, selingkuh juga butuh tenaga!"
Setelah menulis pesan itu dan menatah sarapan untuk suaminya, Naya memilih pergi ke halaman belakang rumahnya.
Raka yang baru keluar dari dalam kamar, dia mencari sosok Naya di dapur tapi tidak ada.
"Kemana Naya? Dia sungguh marah padaku, bahkan semalaman dia mengabaikanku." gumam Raka lirih, terlihat wajahnya tidak bahagia pagi ini.
Raka melihat ke meja makan, ternyata sarapannya sudah tertata di atas meja makan.
Raka membaca surat kecil itu, lalu Raka mendengus kesal.
"Apa dia sungguh berpikir kalau aku ini selingkuh. Sayang, sungguh ini tidak seperti yang kamu pikirkan," batin Raka dalam hatinya.
Raka menikmati sarapannya, setelah selesai dia juga menulis surat kecil untuk istrinya.
"Terimakasih istriku, jangan berpikir macam-macam! Dia bukan selingkuhan mas, dia hanya teman mas."
Raka menaruh surat kecil itu, lalu dia pergi berangkat ke kantor.
Setelah Raka berangkat ke kantor, Naya pergi untuk membereskan meja makan. Dia melihat balasan pesan dari suaminya, Naya membacanya lalu dia tertawa kecil.
Naya masih tidak percaya. "Teman? Tapi sampai main rangkul-rangkulan mesra, teman macam apa seperti itu?" Naya berbicara sendiri, kali ini hatinya kalut dalam rasa cemburu yang begitu besar.
Naya membereskan piring-piring yang ada di atas meja, lalu dia mencucinya.
Pagi ini Raka kurang semangat, apalagi biasanya dapat asupan gizi dari istrinya namun pagi ini dia hanya mendapatkan surat kecil di atas meja.
"Naya....Naya, aku baru tahu kalau orang selingkuh itu butuh tenaga." Kata Raka, dia menggeleng pelan kali ini istrinya begitu lucu.
*****
Sesampainya di kantor, Raka mengerjakan pekerjaan seperti biasanya.
Raka menghubungi Reza, untuk datang ke ruangannya.
"Eza, ke ruanganku sekarang!" Kata Raka, dan dia menutup telponnya dengan kasar.
Reza terdiam, bos nya ini pagi-pagi ini kenapa?
"Tok...tok..."
__ADS_1
"Masuklah!"
Reza melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Raka. Tatapan Raka terlihat garang pada Reza, tidak sehangat biasanya.
"Ada apa bos?" Tanya Reza.
"Kemarin Naya pulang di antar oleh kamu? Kemarin Naya darimana?" Raka menatap Reza dengan tatapan tajam.
Reza kaget, padahal kemarin waktu Reza mengantarkan Naya sampai di depan rumah sepertinya Raka tidak ada di rumah.
Tapi Raka waktu Naya tidur, dia pergi ke ruangan kerjanya dan mengecek CCTV rumahnya. Betapa kesalnya Raka melihat Reza mengantarkan Naya pulang, bahkan Reza juga membukakan pintu mobilnya untuk Naya.
"Jawab Reza!" Tatapan Raka semakin tajam.
"Aku melihat Nyonya berlari, jadi aku ikutin Nyonya dan kemarin Nyonya pergi ke danau." Jelas Raka, dia tidak berani memanggil Naya dengan sebutan namanya.
Jika itu sampai terjadi, maka Raka akan murka dan bisa-bisa dia melempar Reza dengan sepatunya.
"Kenapa, kamu tidak menelponku? Apa kamu diam-diam mendekati istriku di belakangku?" Raka kembali menatap Reza dengan tatapan tajam.
Reza menarik nafasnya pelan-pelan, sungguh dalam hatinya mengatakan "Iya" tapi jika Reza sampai menjawab iya di hadapan Raka, entah apa yang akan terjadi padanya?
"Tentu saja bos, aku rasa kemarin Nyonya ada masalah. Jadi dia hanya butuh waktu buat sendirian, tenang saja bos aku tidak menyentuhnya semuanya aman terkendali," tandas Reza agar Raka tidak terus-terusan mengintrogasinya.
Raka mengangguk-anggukan kepalanya. "Awas saja jika kamu sampai menyentuhnya, akan ku patahkan tanganmu!" Ancam Raka, membuat Reza hanya bisa diam.
Setelah selesai mengintrogasi Reza, Raka menyuruh Reza keluar dari dalam ruangannya dan Raka kembali sibuk dengan pekerjaannya yang ada di atas meja kerjanya.
*****
Malam menunjukkan pukul 8 malam, Naya sudah selesai menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Naya tidak makan malam bersama Raka, seperti tadi Naya hanya menulis sebuah pesan di kertas kecil.
"Ini makan malammu, makanlah ya banyak. Pasti capekan habis bermesraan."
Raka yang baru saja pulang, dia langsung masuk karena pintu rumahnya juga tidak di kunci oleh Naya.
Raka mencari sosok Naya, tapi tidak ada dan Raka berjalan menuju meja makan. Melihat surat kecil di atas meja, Raka membacanya.
"Istriku, mas kan bilang dia bukan selingkuhan mas."
"Naya, sampai kapan? Kamu terus mengajak aku perang dingin seperti ini?"
"Sungguh Nay, aku sudah tidak tahan. Aku merindukan belaianmu, aku merindukanmu sayang."
__ADS_1
Raka meninggalkan makan malamnya begitu saja, dia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk melihat wajah cantik istrinya.
Raka berjalan menuju ke ranjang tempat tidur, kini dia duduk di tepi ranjang. Tapi Naya malah memalingkan wajahnya dan tidur dengan posisi membelakangi Naya.
Raka membaringkan tubuhnya di sebelah Naya.
Visual Raka Kumara.
"Sayang, mau sampai kapan kamu bersikap dingin terus sama mas? Sumpah sayang, itu bukan selingkuhan mas, itu Angel kita hanya teman." Jelas Raka, berharap Naya mau mengerti.
"Teman, tapi segitunya mesranya. Baiklah aku juga berteman dengan Kak Reza, maka Kak Eza juga akan main rangkul-rangkul aku, kan hanya teman tidak apa-apa mas," tandas Naya dia tidak mau kalah.
Betapa kesalnya Raka, pintar sekali istrinya ini menjawab.
"Sekarang sudah pintar menjawab! Siapa yang mengajarimu menjawab seperti itu?" Nada Raka agak meninggi, tentu saja dia tidak rela jika Naya sampai seperti itu dengan Reza.
"Mas kan yang mengajariku!" Jawab Naya kini Naya mulai membalikkan wajahnya, hingga Raka bisa menatap wajah cantik istri kecilnya ini.
Visual Raka dan Naya.
"Mas mengajari kamu seperti itu? Tidak mungkin suamimu seperti itu sayang," Raka tersenyum dia hendak menyentuh pipi mulus Naya tapi Naya menepis tangan Raka dengan lembut.
Raka mendengus kesal, sudah beberapa hari ini Naya selalu menolak belaian manjanya. Naya tidak merasakan di bawah sana sudah ada yang terus-terusan meronta-ronta ingin bertemu dengan rumah siputnya.
"Sayang, mau sampai kapan kamu seperti ini?" Tanya Raka, matanya terlihat tidak suka dengan sikap Naya.
"Entahlah mas, aku tidak suka dengan laki-laki yang suka main dengan wanita lain," jawab Naya terlihat kesedihan di benak matanya.
Raka menarik nafasnya dalam-dalam, Naya memejamkan matanya.
"Haruskah aku melakukan pencegahan agar aku tidak hamil dulu? Aku takut Mas Raka, punya wanita lain?" Batin Naya dalam hatinya.
Sejak kejadian waktu itu, Naya memang terus berpikir. Apakah dia harus melakukan pencegahan agar tidak hamil dulu?
"Naya, mas tidak bermain wanita lain. Istri mas hanya kamu!" Tegas Raka dengan nada agak tinggi.
"Sekarang, kita selesaikan masalah kita!" Raka langsung menindih tubuh mungil Naya.
"Mas, mau ngapain?" Tanya Naya, dia terlihat agak takut.
"Mau menyelesaikan masalah kita!" Tatapan mata Raka begitu dalam.
__ADS_1
BERSAMBUNG 😁
Terimakasih para pembaca setia 😊