Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Kehangatan keluarga


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 2 siang, Ratih dan Evan juga sedang di rumah Raka dan Naya. Naya juga terlihat bahagia karena ini pertama kalinya, dia melihat Ratih yang begitu baik dan tidak sejahat selama ini.


Sambil membuat teh untuk sang mama dan Kakaknya, Naya tersenyum memperhatikan dua orang yang selama ini hidup bersamanya.


Raka menghampiri Naya, lalu menaruh kepalanya di bahu Naya. "Apa, kamu bahagia?" Tanya Raka berbisik pelan dan di jawab angguk kan oleh Naya.


"Mas tahu, seumur hidupku hari ini pertama kalinya mama memeluk aku," kata Naya dengan kata-kata berkaca-kaca. Entah dia harus sedih atau bahagia? Yang jelas dalam hatinya dia merasa sangat bersyukur.


"Mulai sekarang, mas yang akan memelukmu setiap hari." Goda Raka dengan genit, membuat pipi Naya merah merona.


Dasar suaminya ini ada mamanya dan kakaknya saja masih saja jail, tapi inilah Raka duda yang bucinnya tidak ketolongan.


"Aku anterin teh ke mama dulu," kata Naya dan dia berlalu pergi meninggalkan Raka.


Naya menaruh teh buatannya dia meja, kini Raka duduk di sebelah mamanya. Biasanya Ratih akan marah, tapi kali ini tidak Ratih sangat berbeda dari Ratih yang dulu.


"Maafkan aku, selama ini aku sudah membenci anak ini, padahal aku tahu dia tidak tahu apa-apa yang salah adalah Rika yang tidak lain adalah ibunya kamu nak, tapi ibu tega sekali selama ini membenci kamu," Ratih menangis dalam hatinya.


Sungguh berdosa sekali mengingat dosa-dosa yang pernah dia lakukan pada Naya selama ini.


"Ma, minum tehnya," kata Naya dengan nada lembut.


"Iya nak, kamu juga minum teh nya." Jawab Ratih sambil tersenyum.


"Kak Evan aja ma, Naya sedang tidak mau minum teh." Naya tersenyum pada Evan, lalu Evan mengambil satu cangkir teh dan meminumnya.


"Nay, teh ini manis seperti kamu."

__ADS_1


"Kak Evan, bisa saja. Kalau Mas Raka dengar pasti dia akan cemburu."


Naya dan Evan sama-sama tertawa, Ratih juga ikut tertawa. Hari ini adalah hari pertama Naya benar-benar merasakan sebuah kehangatan keluarga yang sesungguhnya.


Raka memperhatikan pemandangan di hadapannya, kali ini Raka juga sangat bahagia apalagi Naya juga sangat bahagia.


"Kamu harus bahagia sayang," batin Raka dalam hatinya.


Raka berjalan menuju ke sofa tempat mereka duduk, sambil membawa minuman kaleng dan cemilan yang dia ambil dari dalam kulkas.


"Kakak ipar, minumlah!" Raka memberikan satu kaleng minuman pada Evan.


Kini mereka sama-sama membuka minuman kaleng itu, lalu meminumnya.


"Kalian sudah lama menikah, apa belum ada tanda-tanda benih yang tumbuh gitu?" Tanya Evan tiba-tiba. "Iya nak, kamu belum hamil?" Sambung Ratih sambil melihat Naya.


"Sepertinya Naya sedang hamil, apa Naya memang sudah hamil?" Tebak Ratih dalam hatinya.


"Tunggu...! Mama tebak ya nak, kalau dari bentuk tubuh. Sepertinya kamu sedang hamil," kata Ratih dengan begitu yakin.


Raka dan Naya sama-sama tersenyum, kali ini senyum keduanya sangat bahagia.


"Kakak, di dalam perut Naya sudah ada kecebong kecilnya." Kata Raka, membuat Evan bingung apa yang di maksud oleh Raka?


"Kecebong kecil?" Evan meminta penjelasan dari Raka.


Ratih menatap Raka dengan tatapan penuh tanda tanya? "Kecebong kecil apa?" Bisik Ratih di telinga Naya. "Sudah ada janin di rahim Naya ma, Mas Raka memberikan nama Kecebong kecil," Naya balik berbisik.

__ADS_1


Ratih dan Naya akhirnya sama-sama tertawa kecil, suaminya ini ada-ada saja mana tahu Evan tentang Kecebong kecilnya? Sedangkan yang tahu tentang Kecebong kecilnya hanya Naya dan Raka saja.


"Iya kak, ehh maksud Raka, Naya sedang hamil kak." Jawab Raka, sambil salah tingkah di hadapan Evan.


"Selamat ya nak, jaga kandungan kamu baik-baik." Kata Ratih, sambil memeluk Naya dengan penuh kasih sayang.


"Iya ma, terimakasih ya ma." Jawab Naya sambil tersenyum bahagia.


"Mama, Naya bahagia sekali di saat Naya sedang hamil dan kebahagiaan nyata ini akhirnya aku dapatkan," batin Naya dalam hatinya.


Evan akhirnya tertawa, sambil geleng-geleng kepala. Membuat yang lain juga ikut tertawa.


"Raka, katakan padaku! Apa kamu membuat adonanmu itu di sungai? Sampai-sampai kamu memberikan nama Kecebong kecil." Cetus Evan dengan tawanya.


"Tentu saja tidak kak, aku membuat adonan aku di kamar," jawab Raka kali ini wajah Raka begitu polos, sepolos Naya biasanya.


Lama-lama hidup dengan Naya, pasti Raka ada kemiripan dengan Naya termasuk kepolosan Naya.


Hadeh dasar Raka memberikan nama untuk calon anaknya ada-ada saja, sampai-sampai membuat orang lain bingung.


Setelah beberapa jam berlalu, malam pun datang Naya dan Ratih masak berdua untuk makan malam bersama.


Setelah selesai memasak, mereka bersama-sama menyiapkan makan malam bersama.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 🙏

__ADS_1


__ADS_2