Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Pingin kembali Ke Raka


__ADS_3

Raka dan Naya sudah sampai rumah, tapi mereka hanya saling diam. Naya juga terlihat bingung, ada apa dengan suaminya?


Raka langsung masuk ke dalam kamar, Naya juga mengikuti langkah kaki suaminya itu.


Dengan raut wajah kesal karena habis bertemu dengan Rio. Raka hanya diam di tepi ranjang.


Naya duduk di sebelah Raka. "Mas, kamu kenapa?" Tanya Naya dengan hati-hati.


Raka tidak bergeming, dia masih saja diam saja tanpa menoleh ke arah Naya.


"Mas, apa ada masalah?" Tanya Naya lagi, kali ini Naya memegang tangan Raka lalu menggenggamnya dengan erat. Berharap dengan cara ini bisa membuat suaminya lebih tenang.


Raka merasakan genggaman tangan Naya, lalu dia menoleh ke arah Naya. "Maaf ya sayang, mas tadi hanya sedang kesal," kata Raka. Dia merasa bersalah sudah bersikap seperti ini pada Naya.


"Tidak apa-apa mas, mas mandi dulu gih! Biar pikiran mas tenang dan tubuh mas menjadi segar," pinta Naya dan Raka menuruti apa kata istrinya.


Sambil menunggu suaminya mandi, Naya menyiapkan baju ganti untuk suaminya.


"Mas, aku ke dapur ya. Aku siapin makan dulu buat mas."


"Iya sayang, ingat jangan buat makanan yang pedas-pedas!"


"Iya mas, kamu mandilah yang bersih!"


Naya keluar dari dalam kamar, dia menuju ke dapur untuk memasak. Naya memasak tumis kangkung dan goreng tempe, karena hanya ada itu di dalam kulkasnya.


"Nanti kalau Mas Raka mau, aku ajak berbelanja sayuran," kata Naya sambil menatah masakannya yang sudah jadi di atas meja makan.


Raka keluar dari kamar dengan memakai kaos oblong dan celana pendek.


"Sayang, aku sudah selesai mandi." Raka menarik satu kursi meja makan, lalu dia mendudukinya.


"Makan dulu mas, Naya masakin tumis kangkung sama tempe goreng. Adanya hanya ini mas di dalam kulkas." Naya mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya, lalu menaruh piring yang berisi makanan itu di hadapan Raka.

__ADS_1


Naya juga sudah duduk, tiba-tiba tangan kekar Raka menegang tangannya. Membuat Naya menoleh bingung. "Ada apa mas?" Naya menatap Raka dengan lembut.


Raka mengusap-usap tangan Naya dengan lembut, membuat Naya tersenyum senang.


"Makan dulu!" Pinta Naya dengan nada lembut dan Raka menuruti apa kata istrinya.


*****


Rio baru saja sampai di rumah, dengan kasar Rio melepaskan dasinya lalu melemparnya ke sembarang tempat.


Elina yang sedang duduk menonton televisi, dia terkejut. "Mas, kamu ini kenapa?" Tanya Elina, menatap Rio penuh tanya.


"Hari ini aku sudah menandatangani kontrak kerja dengan perusahaan mantan suamimu, entah kenapa aku selalu kalah dari dia?" Rio mendengus kesal, kini matanya di penuhi dengan amarah.


"Baguslah mas, daripada perusahaan kamu bangkrut. Kamu sama Mas Raka kan kayaan Mas Raka," jelas Elina membuat Rio menatap dia dengan tatapan garang.


"Dasar, istri tidak tahu di untung! Bandingkan saja aku terus dengan mantan suamimu itu," tatapan Rio semakin kesal, seperti singa yang ingin memangsa mangsanya.


"Kan memang kenyataannya seperti itu, sudahlah mas jangan di besar-besarkan! Masih untung Mas Raka mau bekerja sama dengan Mas," tandas Elina yang kerjaannya selalu melawan suaminya.


Karena merasa kesal pada istrinya, Rio pergi begitu saja dari rumah. Entah dia itu mau kemana?


"Mas, kamu mau kemana?" Tanya Elina.


"Sudahlah, kamu tidak perlu tahu!" Rio berlalu pergi meninggalkan Elina begitu saja.


Elina memegang kedua kepalanya dengan kedua tangannya. "Aturan dulu aku tidak mau di ceraikan oleh Mas Raka, aku pingin kembali lagi dengan Mas Raka." Elina begitu sedih, dia sudah memilih langkah yang salah karena memilih Rio sebagai suaminya. Bahkan Elina meninggalkan laki-laki sebaik Raka hanya demi Rio yang begitu br*ngs*k.


Rio terus melajukan mobilnya, di rumah rasanya tidak tenang. Jika dirinya ada masalah ataupun hal lain yang membuat Rio kesal atau marah. Elina bukannya memberikan ketenangan pada Rio, melainkan malah mengajak berdebat dan akhirnya mereka bertengkar


****


Jam menunjukkan pukul 8 malam, Naya berdiri di dekat jendela dia melihat ke arah jendela. "Malam ini hujan begitu lebat," kata Naya sambil menatap air hujan yang berjatuhan di luar sana.

__ADS_1


Raka baru saja selesai dengan pekerjaannya, dia keluar dari ruangan kerjanya lalu menuju ke kamarnya.


Raka melihat Naya sedang berdiri, dia berjalan menghampiri Naya lalu memeluk Naya dari belakang. "Sayang, kok belum tidur?" Raka menyusupkan wajahnya ke leher jenjang Naya.


"Nungguin mas, aku juga belum ngantuk mas." Jawab Naya dengan nada lembut.


Raka mengangkat tubuh Naya, lalu membawanya ke atas ranjang tempat tidur, kini Raka sudah membaringkan Naya di atas tempat tidur.


Lalu Raka menindihnya. "Mas mau ngapain?" Wajah Naya berubah menjadi merah merona.


"Mas mau kamu sayang, lagi hujan mas butuh kehangatan." Bisik Raka manja, raut wajah Naya semakin merah.


"Mas......" belum selesai dengan perkataannya, bibir Raka sudah ******* bibir Naya dengan lembut, ciuman lembut itu sudah berubah menjadi panas.


"Emmhh aaachhh......." Naya mend*s*h manja.


Tangan Raka mulai bergerilya kemana-mana, bibirnya juga semakin nakal dan memberikan banyak tanda merah di beberapa lekuk tubuh Naya.


Nafas keduanya sama-sama bersautan, karena sama-sama merasakan ken*km*tan yang begitu enak.


"Mas.....aku sudah tidak tahan....."


Raka dengan cepat mengarahkan p*d*ng kesayangan itu ke dalam rumah siput Naya. Kini Raka terus mengh*j*m rumah siput Naya dengan begitu kuat, membuat Naya semakin tidak kuat dan kelimpungan.


Hingga beberapa lama, akhirnya keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan yang begitu luar biasa.


Raka menjatuhkan dirinya di sebelah Naya, kini Naya hanya diam sedangkan tangan Raka masih memainkan p*t*ng miliknya sesekali Raka mengh*s*pnya seperti bayi yang sedang menyusu.


Kini mereka sama-sama membersihkan tubuh di dalam kamar mandi dan setelah selesai mereka langsung tidur, Raka tidak memeluk istrinya dengan begitu hangat.


BERSAMBUNG 😁


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2