
Setelah pergi menemui Amel dan berusaha menenangkan Amel, Reza kembali ke kantor dia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Amel juga kembali sibuk dengan pekerjaannya, meskipun perasaannya tidak tenang tapi Amel berusaha tenang dan Amel harap semuanya akan baik-baik saja, Amel mempercayakan semuanya pada Reza.
"Aku yakin Mas Reza bisa menyelesaikan semuanya dan pernikahan aku dengan Mas Reza tidak ada halangan apapun," harapan Amel dalam hatinya.
Di ruangan Reza, Reza terdiam sambil memikirkan bagaimana caranya membuat Hellen pergi dari hidupnya dan tidak terus-terusan menganggu hubungannya dengan Amel yang tidak lain adalah wanita yang di cintai oleh Reza dan saat ini sudah berstatus menjadi calon istri Reza.
"Hellen, kenapa kamu terus menganggu hidupku?"
"Aku harus cari cara, aku tidak boleh diam saja, apalagi dia sudah berani mengancam Amel."
Reza mengepalkan kedua tangannya, kali ini hati dan perasaannya di selimuti dengan amarah yang begitu besar.
Raka membuka pintu ruangan Reza tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, kini Raka terdiam di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya ke dada.
"Apa yang terjadi?" tanya Raka, suara khas Raka mengagetkan Reza.
Kini tatapan mata Reza teralih ke Raka, melihat Raka berdiri di ambang pintu Reza hanya menatap dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bos Raka...." hanya itu yang keluar dari mulut Reza, Raka mengangguk lalu dia berjalan dan duduk di kursi yang terhalang meja.
__ADS_1
Raka duduk sambil melipat kedua tangannya dan tatapan matanya juga begitu serius pada Reza, membuat Reza menunduhkan kepala.
"Katakan, apa masalahnya?" tanya Raka lagi, Raka hanya ingin membantu Reza, apalagi Reza sekarang sudah menjadi sahabat dan orang kepercayaan Raka.
"Tidak ada Bos, hanya masalah sepele, tapi sudah saya selesaikan dengan Amel," jawab Reza berbohong pada Raka.
"Masalah apa......?" tanya Raka, belum sempat Reza menjawab pertanyaan dari Raka tiba-tiba ponsel milik Raka berdering.
"Sebentar Za, istriku menelpon...!" Raka mengangkat telpon dari Naya.
"Hallo sayang...."
Mendengar kata-kata rindu dari Naya, membuat hati Raka meronta-ronta dan rasanya ingin cepat-cepat pulang.
"Aish, apa malam ini aku akan mendapatkan jatah lebih?" batin Raka penuh harap.
"Kamu maunya kapan sayang? Sekarang kamu menyuruh mas pulang, mas juga akan langsung pulang."
"Sungguh, maka cepatlah pulang suamiku!"
Naya langsung mematikan saluran telponnya, Raka terus senyam-senyum seperti orang tidak waras, Reza melihat Raka dengan tatapan begitu gelih.
__ADS_1
"Sebucin itukah Bos Raka pada Naya," batin Reza dalam hatinya.
Raka kembali menaruh ponselnya di dalam saku celananya, lalu dia kembali fokus pada Reza.
"Jika ada masalah katakan saja! Aku pasti akan membantu kamu Za," kata Raka dan Reza mengangguk.
Sebenarnya Reza ingin menceritakan masalahnya pada Raka tapi Reza rasa ini adalah masalah pribadinya, jadi Reza harus bisa menyelesaikannya sendiri tanpa melibatkan Raka yang tidak lain adalah bosnya.
"Siap bos," jawab Reza dengan senang hati.
"Siapa tahu biaya pernikahan kurang aku pasti akan mengatakannya, aish ini adalah sebuah aji mumpung." Reza tertawa dalam hatinya.
"Baiklah, aku pulang duluan ya karena istriku sudah merindukanku," pamit Raka membuat Reza mengangguk jijik.
Dasar bosnya ini kalau sudah bucin ya seperti itu kebangetan, tidak mau menunggu nanti atau besok pagi.
Raka Kumara Duda Bucin impian setiap wanita, beruntunglah Naya bisa menjadi istrinya.
Bersambung
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1