Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Bertemu Elina


__ADS_3

"Mas Raka....!!"


Raka menoleh, ketika melihat yang memanggilnya Raka langsung mendengus kesal.


"Wanita itu siapa mas?" Tanya Naya penasaran.


"Dia mantan istri mas," jawab Raka tangannya terus menggenggam Naya dengan erat.


Naya berusaha mengatur mimik wajahnya, dia juga tidak mau kelihatan terlalu cemburu atau bersikap berlebihan di hadapan mantan istri calon suaminya itu.


"Mas, senang bertemu denganmu," kata Elin senyumnya terlihat begitu.


"Apa dia gadis yang akan Mas Raka nikahin? Ternyata setelah cerai denganku, Mas Raka dapat daun muda yang masih bening." Batin Elina dalam hatinya.


"Apa kabar Elin, kenalkan ini calon istriku." kata Raka sambil tersenyum.


"Naya...." Naya mengeluarkan tangannya.


"Elina...." Elina menjabat tangan Naya, mereka berjabat tangan tapi tatapan Elina terlihat tidak suka pada Naya.


"Tapi dia terlihat kampungan, pakaiannya saja terlihat sekali pakain murahan." Batin Elina dalam hatinya.


Dengan kasar Elina melepaskan jabat tangan dirinya dan Naya.


Tapi Naya tetap tersenyum pada Elina karena dia menghargai Elina sebagai mantan istri calon suaminya.


"Elin, kita permisi dulu ya." Raka buru-buru Membawa Naya pergi dari hadapan Elina.


Elina mendengus kesal, dasar Mas Raka dulu padahal dia cintai sekali sama aku tapi lihat sekarang, dia begitu cuek padaku.


"Aturan belanjaanku ada yang bayarin, tapi sayangnya ada daun mudanya." Elina terlihat kesal, dia kembali melangkahkan kakinya untuk berkeliling mall.

__ADS_1


Setelah selesai berbelanja Raka langsung mengajak Naya pulang, karena Naya juga merasa pegel kakinya.


Di dalam mobil Naya memijat kakinya dengan pelan. "Apa, kerjaan orang kaya itu ngabis-ngabisin duit doang mas? Herannya mereka uangnya tidak habis-habis mas," celetuk Naya dengan kepolosannya.


"Bukan menghabiskan uang ini hanya membeli sedikit keperluan buat kamu," tutur Raka dengan penuh pengertian.


Dalam hati Naya, hanya membeli sedikit keperluan tapi Mas Raka tadi menghabiskan uang puluhan juta hanya buat membeli baju-baju aku.


"Lain kali mas harus lebih hemat! Kita tidak perlu membeli baju berlebihan, harganya juga ini sangat mahal mas. Naya biasa membeli baju di dalam pasar dan harganya cuma puluhan ribu mas," kata Naya. Dia tidak malu sama sekali karena dia ingin Raka menerima dia apa adanya.


"Baiklah calon istriku." Raka tersenyum sambil mengacak-acak rambut Naya dengan lembut.


"Sungguh kamu sangat berbeda dari Elina, gadis kecil yang polos." Batin Raka dalam hatinya.


Naya membuka sedikit kaca jendela mobil Raka, matanya melihat jalanan yang hari ini terlihat tidak begitu macet.


Raka tersenyum melihat Naya terlihat begitu bahagia.


"Naya, apa kamu tidak mau jalan-jalan kemana lagi gitu?" Tanya Raka dengan nada lembut.


"Tidak mas, kaki aku pegel dari tadi keliling mall." Jawab Naya dengan nada lembut juga.


Raka terus melajukan mobilnya hingga sampai di depan rumah Naya. Terlihat Ratih sudah berdiri di ambang pintu rumahnya.


"Ternyata anak sialan itu pergi dengan calon suaminya, sudah berani dia melawanku awas saja kamu!" Gumam Ratih.


Raka mengandeng tangan Naya sampai di depan rumahnya.


"Dasar anak sialan kurang ajar...!!" Teriak Ratih dengan tatapan tajam.


Naya merasa takut dan dia langsung bersembunyi di belakang punggung Raka.

__ADS_1


"Jaga mulut Nyonya! Jangan sekali-kali berteriak pada calon istriku!" Lawan Raka tidak terima yang mendengar teriakan Ratih yang terdengar nyaring di telinganya.


"Memangnya kamu siapa? Kamu baru calon suaminya, jadi tidak usah ikut campur!" Ratih menatap Raka dengan tatapan tidak suka.


"Mas sudahlah." Lirih Naya, tangannya terus menarik-narik jas yang di kenakan oleh Raka.


Raka menoleh, lalu tersenyum lembut pada Naya.


"Kamu tinggal di hotel saja ya, mas tidak mau nenek lampir ini terus menganggumu," ujar Raka dengan begitu lembut.


"Tidak mas, Naya tetap tinggal di rumah saja." Tolak Naya dengan sopan, Naya hanya tidak mau menambah masalah jadi Naya tetap memilih tinggal di rumahnya.


Mata Ratih naik turun, rasanya jijik sekali melihat pemandangan yang ada di hadapan dirinya saat ini. Tangannya sudah mengepal kasar dan ingin sekali menjambak rambut panjang Naya.


"Sudahlah, kamu pulang!" Ratih mengusir Raka dengan kasar.


Raka tetap diam dan tidak memperdulikan perkataan Ratih. Tangannya sudah memegang pipi Naya dengan lembut, sungguh Raka tidak rela jika Naya terus-terusan di sakiti oleh nenek lampir yang ada di hadapannya itu.


"Mas kenapa?" Tanya Naya, yang tidak mengerti arti tatapan mata Raka.


"Mas akan percepat pernikahan kita, mas tidak mau menunggu sampai minggu depan ataupun bulan depan." Jawab Raka, tangan kekarnya langsung membawa Naya masuk ke dalam pelukannya.


Naya ternganga tidak percaya, sungguh dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Raka?


"Lalu mas?" Tanya Naya bingung.


"Dua hari lagi kita langsungkan pernikahan kita, mas akan urus semuanya." Jawab Raka dan Naya menganggukan kepalanya.


Karena tidak mau melihat Naya terus-terusan di siksa oleh mamanya, akhirnya Raka mempercepat pernikahannya.


BERSAMBUNG 🙏

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 🤗


__ADS_2