Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Butuh semangat pagi


__ADS_3

Hari semakin sore, Naya masih terlelap di pangkuan suaminya. Naya bergulat dan pelan-pelan membuka matanya.


"Mas, jam berapa sekarang?" Tanya Naya, dia bergulat manja.


"Sudah jam 4 sore, kamu mandilah! Mas buatkan makanan buat kamu, kamu kan belum makan," jawab Raka.


Naya mengangguk dan dia berjalan menuju ke kamar mandi, sedangkan Raka berjalan menuju ke dapur untuk membuat makanan untuk istri tercintanya.


*****


Evan terdiam kini jari-jarinya sedang fokus dengan laptop yang ada di hadapannya dan tiba-tiba ponselnya berdering.


"Raka...." gumamnya lirih.


"Hallo."


"Kak Ipar, besok kita ketemu di kantor aku ya. Ada yang mau aku bicarakan dengan kakak."


"Baik Ra, alamatnya dimana?"


"Jalan xx kak, nanti aku tunggu kakak ya."


"Siap, besok aku ke kantormu."


Raka mematikan saluran teleponnya, Evan kembali fokus dengan laptopnya. Tapi dia juga berpikir untuk apa Raka tiba-tiba ingin bertemu dengan dirinya?


"Apa gara-gara, Naya memelukku tadi? Dia cemburu dan dia akan memukulku?" Pikir Evan dalam hatinya.


"Sudahlah Van, mungkin ada penting!" Evan kembali fokus dengan laptopnya dan menepis semua pikirannya.


*****


Setelah beberapa lama, akhirnya Naya sudah selesai mandi dan dia memakai baju daster yang agak menerawang.


"Tidak apa-apalah, lagian ini di rumah," batin Naya dalam hatinya.


Naya melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamarnya, aroma yang begitu lezat membuat perut Naya berbunyi kini cacing-cacing di dalam perutnya sana mulai berdemo, minta di kasih makan.


"Mas, kamu masak apa? Aromanya enak sekali." Naya mengendap-endap seperti kucing sedang mencium bau sesuatu.


Raka tersenyum, lalu dengan pelan menjitak kepala Naya.


"Sudah seperti kucing saja kamu, sayang." Omel Raka, Naya memegangi kepalanya yang baru saja di jitak oleh suaminya. "Mas sakit," rengek Naya manja. "Cupp, sekarang masih daki?" Raka mencium di bagian yang tadi dia jitak.


"Dasar kamu mas, curang!" Naya memanyunkan bibirnya.


"Makanlah, mas buatkan daging rica-rica pakai bawang bombay." Raka tersenyum, kini dirinya sudah duduk di kursi meja makan.

__ADS_1


Kini mereka menikmati daging rica-rica yang di masak oleh Raka. "Enak mas, ternyata mas pintar masak." Puji Naya, sambil memakan daging rica-rica itu.


"Masa, ini muji bukannya biar mas yang masak setiap hari kan?" Raka tersenyum jail dan Naya tersenyum jahat. "Boleh mas, kalau mas mau dengan senang hati Naya menerima." Naya menjulurkan lidahnya, membuat Raka gemas.


Setelah makan, mereka duduk di sofa karena merasa kenyang sekali.


*****


Malam yang begitu cerah, bintang-bintang dan rembulan yang terang menghiasi langit malam ini.


Namun ada satu yang redup yaitu perasaan Reza yang belum sempat dia utarakan pada Naya.


Reza duduk di balkon rumahnya dia menatap bintang-bintang yang bertebaran di atas langit.


"Nay, jika aku menghitung bintang malam ini sampai semuanya aku hitung. Apa waktu bisa berputar kembali?" Jari-jari Reza menghitung bintang satu-persatu.


"Rasanya aku pingin kembali ke masa kita masih sekolah dulu." Reza terus menatap langit sambil terus menghitung bintang-bintang.


"Reza, apa kamu sudah tidak waras? Percuma biarpun kamu menghitung bintang malam ini sampai semuanya terhitung, itu tidak akan membuat waktu berputar kembali, itu juga tidak akan membuat Naya kembali padamu." Hati Reza berbicara.


"Sungguh aku bisa gila gara-gara kamu Nay, kenapa takdir mempertemukan kita kembali tapi dengan keadaan yang sudah berbeda?" Reza berbicara pada dirinya sendiri, dia terus melawan perasaannya agar kembali normal.


Reza tiba-tiba tersenyum kecil, terbenak dalam pikirannya apakah dia harus menjadi pembinor agar bisa merebut Naya dari Raka?


Reza buru-buru menepis pikirannya, dia tidak mau merusak kebahagiaan Naya saat ini dan selamanya.


Malam semakin larut, angin juga semakin dingin. Reza beranjak dari tempat duduknya dia masuk ke dalam kamarnya. Reza membanting tubuhnya ke atas kasur dengan kasar.


Reza menarik nafasnya pelan-pelan, lalu dia memejamkan matanya perlahan-lahan. Reza bisa gila gara-gara Naya, apalagi perasaannya tidak bisa di bohongi kalau dalam hatinya nama Naya masih terukir di dalam sana.


*****


Jam menunjukkan pukul 7 pagi, Naya sudah bangun lebih dulu. Dia sedang membereskan pakaiannya yang berserahkan gara-gara suami nya tadi malam.


Semalam Naya di gempur oleh Raka, seperti sawah yang sedang di bajak.


Sampai tadi malam Raka mengajak Naya olahraga malam sampai Naya merem melek.


"Kalau seperti ini terus, aku tidak mungkin mencegah kehamilanku. Pasti sebentar lagi benih Mas Raka akan tumbuh di dalam perut aku," batin Naya dalam hatinya.


Raka baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Naya yang sudah cantik sedang menunggui pakaian yang berserahkan di lantai.


"Sayang, terimakasih buat semalam." Kata Raka, sambil tersenyum.


"Sama-sama mas, kamu gantilah pakaianmu! Aku tunggu di meja makan," kata Naya. Sambil menaruh pakaian kotor di keranjang pakaian kotor.


Setelah itu Naya hendak keluar dari dalam kamarnya, tapi tiba-tiba tangan kekar Raka memanahnya.

__ADS_1


"Kenapa mas?" Naya menoleh.


"Pakaian baju mas!" Rengek Raka dengan manja.


"Mas kan sudah besar," ujar Naya. Dasar suaminya ini sangat manja.


"Sayang...." Raka kembali merengek manja.


Karena tidak mau sampai berdebat akhirnya Naya menuruti apa kata Raka, dia membantu Raka mengganti pakaiannya seperti anaknya.


"Dasar bayi besar!" Kata Naya.


"Bayi besar yang bisa buat bayi ya sayang," sahut Raka sambil tertawa kecil.


Naya hanya tersenyum, setelah beberapa lama akhirnya Naya selesai mengurus bayi besarnya itu. Kini mereka sama-sama dari dalam kamar mereka dan langsung menuju ke meja makan.


Kini mereka sarapan pagi bersama, selesai sarapan Raka berpamitan berangkat ke kantor.


Sebelum pergi ke kantor, tiba-tiba Raka menarik tekuk leher Naya, membuat Naya menatapnya bingung. "Kenapa mas?" Tanya Naya, matanya membulat kaget.


"Mas butuh semangat pagi."


"Mas, semalam kan udah. Kamu gempur aku seperti orang bajak sawah, nanti malam ya!"


Wajah Naya agak masam, bekas semalam saja masih terasa, badannya saja rasanya masih pada sakit karena ulah duren yang sudah sah menjadi suaminya ini.


Raka tersenyum jail. "Dasar mesum, mas hanya butuh semangat pagi," Raka mendekatkan bibir nya ke bibir Naya, kini dia m*l*m*t bibir Naya dengan lembut hingga ciumannya itu menjadi rakus.


Nafas Naya tersengal-sengal, karena ulah Raka pagi ini. Sambil berciuman tangan Raka sudah menyusup masuk ke dalam baju Naya, Raka mer*m*s dua g*n*ng k*mn*rnya itu dengan penuh kenikmatan. Naya juga hanya bisa mend*s*h menikmati apa yang di lakukan oleh suaminya. Setelah puas, Raka melepaskan ciumannya lalu dia tersenyum pada Naya.


"Mas kamu ih!" Omel Naya manja.


"Kamu apa? Kamu juga menikmatinya, sayang kamu sekarang sudah mulai pandai berciuman dan......" Raka tidak melanjutkan kata-katanya.


"Dan apa mas?" Tanya Naya.


"Kamu sudah ter*ngs**g kan. Lihat n*n*n kamu terlihat tegang, apa mas h*s*p sebentar?" Raka melihat bagian dua g*n*ng kembar Naya yang terlihat tegang karena ulahnya.


Naya memang sudah ter*ng**g tapi jika Naya menyetujui apa yang dikatakan oleh suaminya, maka Raka akan kembali menggempurnya.


"Tidak mas, mas berangkatlah ke kantor!" Jawab Naya, dia tidak mau ambil resiko di pagi hari.


Karena perbuatannya sendiri sebenarnya milik Raka juga sangat tegang, dia dalam sana terus meronta-ronta manja.


"Baiklah, mas berangkat dulu!" Pamit Raka, seperti pagi biasanya Raka memberikan ciuman hangat di kening Naya dan tidak lupa Naya menyalami tangan suaminya lalu menciumnya dengan lembut.


Setelah berpamitan dengan istrinya, Raka langsung berangkat ke kantor. Raka turun dari dalam mobil dan di situ sudah ada seorang yang menunggunya.

__ADS_1


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😘


__ADS_2