Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Naya sepolos toples


__ADS_3

Pagi menunjukkan pukul 7 pagi, Raka dan Naya masih sama-sama tidur karena masih sangat lelah karena pertempuran mereka tadi malam.


"Jam berapa sekarang mas?" Tanya Naya, perlahan-lahan Naya membuka matanya.


Raka hanya bergulat, dia masih memejamkan matanya.


"Mas, sudah jam 7 kamu tidak berangkat ke kantor?" Tanya Naya, sambil menggoyangkan tubuh suaminya.


"Aku masih mengantuk sayang, lagian aku ini bosnya. Jadi jika terlambat aku tidak akan di pecat," sahut Raka yang masih memejamkan matanya.


Naya mengerti dan dia membiarkan suaminya tidur sebentar lagi, Naya melihat ponselnya dan tiba-tiba ada telpon dari sang mama.


"Mama menelpon," gumam Naya lirih. Dia mengangkat telpon dari mamanya.


"Hallo ma."


"Tidak usah banyak basa-basi, mama butuh uang suamimu belum transfer uang bulanan yang dia janjikan!" Kata Ratih, dengan nada kasar.


Naya menghela nafas panjang, menikah saja belum ada satu bulan ini mamanya sudah minta jatah bulanan yang Raka janjikan.


"Ma, Mas Raka masih tidur. Nanti kalau sudah bangun Naya sampaikan padanya."


"Jam berapa sekarang? Masih tidur, dasar pemalas!"


Raka merasa terganggu, perlahan-lahan dia membuka matanya lalu melihat Naya sedang menelpon.


"Kamu menelpon siapa pagi-pagi?" Tanya Raka, matanya penuh kecurigaan.


"Itu suamimu bangun, berikan telponnya padanya!" Suara Ratih terdengar menggema, membuat Rak juga bisa mendengarnya.


Raka terasa kesal, berani sekali Ratih bicara dengan suara yang begitu menggema pada istrinya ini.

__ADS_1


"Berikan telponnya pada mas!" Kata Raka dengan tegas, tapi Naya menggelengkan kepalanya karena takut mamanya akan marah-marah pada Raka.


Raka langsung merebut ponsel yang ada di tangan Naya, kini dia menempelkan ponsel milik Naya tepat di telinganya.


"Ada apa Nyonya, menelpon istriku?" Tanya Raka, yang enggan memanggil Ratih dengan sebutan mama.


"Baguslah jika kamu sudah bangun, saya mau minta uang bulanan yang kamu janjikan waktu itu."


"Akan saya kirim, Nyonya kirimkan saja no rekeningnya!" Raka langsung mematikan saluran teleponnya.


Ratih cengar-cengir, sungguh dia bahagia sekali pagi-pagi sudah mendapat rejeki nomplok dan tentunya dia tidak perlu jualan kue keliling lagi.


"Naya punya suami laki-laki kaya, itu ternyata sangat menguntungkan bagiku."


"Ternyata anak pembawa sial, dan tentunya aku sangat benci dia."


"Aku tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia, karena wanita itu juga sudah merebut kebahagiaanku begitu saja!"


Ratih terdiam, tiba-tiba air matanya menetes mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu dan tentunya kejadian itu tidak bisa Ratih lupakan sampai sekarang sehingga Ratih sangat membenci Naya.


Raka memberikan ponsel Naya pada Naya, kini dirinya menaruh kepalanya di pangkuan Naya. Dengan lembut Naya mengusap-usap rambut Raka.


"Mas, kamu jangan terlalu dengarkan omongan mama ya! Nanti, Naya akan bicara pada mama." Tutur Naya, sungguh dia takut Raka akan mengira dirinya ini gadis matre.


"Tidak usah sayang, hanya uang 20 juta setiap bulan mas sanggup. Kamu tidak usah bicara apa-apa sama wanita itu, dia itu iblis." Jawab Raka, tangannya memegang tangan Naya lalu menciumnya dengan lembut.


Naya tidak tahu harus bicara apalagi pada suaminya ini? Yang jelas Naya sangat bersyukur punya suami seperti Raka Kumara.


"Maafin mama ya mas!" Pinta Naya, dia mengusap pipi suaminya dengan lembut.


Raka menatap Naya dengan tatapan penuh cinta, kini dia membenarkan posisinya menjadi duduk dan mereka duduk saling berhadapan.

__ADS_1


"Bukan maaf atau sebuah terimakasih yang ingin mas dengar dari mulutmu sayang, mas hanya ingin kamu selalu mencintai mas dan berada di samping mas saat mas senang ataupun sedih," pinta Raka. Membuat Naya terharu dan hampir saja menitikkan air matanya.


Naya sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, kini dia langsung memeluk suaminya dengan penuh cinta.


"Aku janji mas, aku akan menjadi istri yang baik dan selalu ada buat mas." Kata Naya di sela-sela pelukannya.


Raka tersenyum, dia mengusap rambut panjang Naya dengan begitu lembut. Hanya cinta Naya yang bisa membuat Raka sangat bahagia.


"Coba cek pesan, sudah dikirim belum no rekeningnya?" Tanya Raka, dia melepaskan Naya dari pelukannya.


Naya menuruti apa kata suaminya, dan ternyata benar Ratih langsung mengirimkan no rekening pada Naya.


Raka mengambil ponselnya, lalu dia langsung mengirimkan uang 20 juta melalui ponselnya.


"Sudah mas kirim, sekarang kamu istirahat saja! Mas, mau ke kantor." Kata Raka, dia beranjak dari tempat tidur tapi tangan Naya tiba-tiba menahannya.


"Ada apa?" Raka melihat Naya.


"Mas, Naya boleh ikut ke kantor? Naya kesepian di rumah sendirian," pinta Naya dengan nada lembut.


Raka tersenyum, Naya terlihat menggemaskan seperti anak kecil yang sedang merengek minta permen.


"Sayang, apa kamu bisa jalan? Kalau baru pertama itu sakit, buat jalan saja susah." Tutur Raka, membuat Naya terlihat bodoh.


"Maksudnya mas apa? Naya tidak bisa jalan kenapa?" Tanya Naya, wajahnya terlihat ketakutan.


Entah bagaimana cara Raka menjelaskan pada istrinya yang sepolos toples ini?


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 🤗

__ADS_1


Author pamer cover baru ya, insyaallah kalau sudah sempat Author mau rilis karya ini 😊



__ADS_2