Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Membuat adonan


__ADS_3

Kali ini Naya tidak bisa menjawab apa-apa dan Naya hanya bisa menuruti ajakan Raka untuk masuk ke dalam kamar, entah apa yang terjadi di dalam kamar nanti?


Sesampainya dikamar Raka langsung mengunci pintu kamarnya, kemudian Raka menatap Naya dengan tatapan begitu m*s*m.


"Mas, jangan menatapku seperti itu!" pinta Naya, kalau Raka sudah menatap dirinya dengan m*s*m pasti malam ini dirinya tidak akan selamat dari terjangannya.


Raka mendekati Naya, lalu mengangkat dagu Naya dengan lembut.


"Apa salahnya jika mas menatap istri mas dengan tatapan seperti ini?" bisik Raka di telinga Naya, suara Raka terdengar agak mendesah manja.


Naya berusaha menjauhkan wajahnya dari wajah Naya, tapi Raka menahannya dengan kuat.


"Mari kita membuat adonan sayang!" bisik Raka, lalu bibirnya mulai menyusup ke leher jenjang milik Naya.


Naya hanya diam sambil menikmati serangan dari suaminya, lagian kalau Raka sudah mulai pembukaan pasti Naya tidak akan selamat dan tentunya tidak bisa menolak karena takut dosa jika menolak suaminya.


"Riko, kamu yang anteng ya sama nenek dan kakek. Mama dan papa mau buatin kamu adik kecil yang lucu," batin Naya dalam hatinya.


"Mas, kamu yakin? Riko masih terlalu untuk punya adik?" tanya Naya, sebenarnya Naya masih belum siap untuk punya anak lagi.

__ADS_1


"Yakin sayang, mas tidak mau hanya punya satu anak saja. Mas mau punya anak lebih dari satu, karena mas tidak mau kalau anak mas nanti hidupnya akan kesepian seperti mas dulu," jawab Raka dengan yakin.


Naya mengangguk, akhirnya Raka melanjutkan permainannya yang sempat terhenti tadi.


Raka mulai memberikan belaian demi belain manja pada Naya, Naya juga menikmatinya, biarlah punya anak lagi yang penting sudah halal.


Hingga kini keduanya berakhir di atas ranjang tempat tidur, d*s*h*n dan er*ng*n manja terdengar dari mulut mulut keduanya, malam yang dingin kini menjadi begitu hangat karena tembakan Raka yang masuk sempurna ke dalam rahim Naya.


Malam yang semakin dingin membuat Raka melakukan lebih dari sekali.


*****


"Lihat pak, Riko begitu tenang, bahkan dia tidak menangis sama sekali," kata Sinta yang tidur di sebelah Riko sambil memainkan pipi Riko dengan lembut.


"Iya ma, mungkin Riko juga merasa senang karena akan segera punya teman bermain," jawab Faisal sambil tersenyum.


Sinta mengangguk setuju, kini Faisal dan Sinta sama-sama saling menatap dan Riko tidur di tengah-tengah mereka dengan nyeyak.


*****

__ADS_1


Setelah beberapa jam berada di rumah sakit, akhirnya Amel sudah boleh pulang dan kini Amel sedang istirahat di kamar.


"Sayang, bagaimana?" tanya Reza dengan penuh kawatir.


"Aku sudah tidak apa-apa mas, anak kita juga baik-baik saja, sungguh mas aku tidak tahu kalau aku sedang hamil," jawab Amel sambil mengelus-elus perutnya.


Reza tersenyum, lalu menarik Amel masuk ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak boleh capek-capek, kamu harus jaga kandungan kamu, jika kamu pingin apa-apa kamu katakan saja pada mas," kata Reza sambil memeluk Amel dengan penuh cinta.


Amel bersyukur dalam hatinya karena menjadi istri Reza, apalagi Reza begitu menyayanginya dan Amel selalu berharap mudah-mudahan Reza tidak seperti papanya yang suka main perempuan.


"Iya mas, aku akan mengatakannya jika aku ingin makan sesuatu," jawab Amel dengan nada lembut.


Karena malam semakin larut, Amel sebenarnya ingin makan mangga muda tapi kasian dengan Reza, apalagi Reza pasti sangat kecapean karena dari tadi mengurus Amel dirinya di rumah, untung saja saat infus sudah habis Amel langsung di bolehkan pulang oleh Dokter, jadi malam ini Amel dan Reza tidak menginap di rumah sakit.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2