
"Mas, aku tidak suka bau badan mas!" Keluh Naya dan akhirnya Raka tidak jadi duduk di tepi ranjang tempat tidur, dia buru-buru bangun dan akhirnya dia merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menghela nafas panjang.
Raka melihat Naya yang terlelap tidur, sungguh dari tadi istrinya membuat dirinya naik darah tapi Raka menahannya walaupun dia sangat kesal.
"Naya, itu kenapa? Biasanya juga sangat manja padaku. Tapi entah dedemit mana yang membuat Naya tidak mau dekat-dekat denganku?" Raka menggerutu dengan suara pelan, dia tidak berani berbicara terlalu keras atau Naya akan ngamuk.
Setelah satu jam berlalu, Raka masih tetap tenang duduk di sofa sambil menunggu sang istri yang sedang tidur.
Raka juga hari ini libur kerja, jadi dia bisa bersantai di rumah. Iya biarpun istrinya sedang tidak tahu kenapa?
****
Jam menunjukkan 9 pagi, Reza sudah bangun dari tadi bahkan dia sudah menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Amel. Semalam Reza mengajak Amel menginap di rumahnya, tapi mereka tidur di kamar tidur yang terpisah.
Amel baru saja keluar dari dalam kamarnya, dia hanya mengunakan kemeja putih polos milik Reza, karena memang Amel tidak membawa baju ganti.
Reza yang sedang duduk di kursi meja makan, dia hanya bisa menelan ludahnya dengan kasar apalagi melihat Amel yang begitu sexy pagi ini. Sungguh itu membuat Reza merasakan panas dingin di pagi-pagi seperti ini.
"Amel, sarapan dulu. Aku sudah buatkan roti coklat dan susu," kata Reza. Nada suara Reza begitu lembut.
Amel menarik satu kursi meja makan, lalu dia mendaratkan pantatnya di kursi itu.
"Za, maaf ya aku bangunnya kesiangan. Aturan aku yang menyiapkan makan, aku kan sudah menumpang di rumah kamu semalam," Amel merasa tidak enak tapi Reza malah tersenyum begitu manis.
__ADS_1
"Makanlah, aku sudah biasa menyiapkan sarapan pagi sendiri," jawab Reza dengan nada yang lagi-lagi dengan lembut.
Amel sungguh senang, karena akhirnya ada seseorang yang mau bicara dengan dirinya dengan begitu lembut bahkan tidak menganggap Amel sebagai seorang p*l*c*r.
Kini mereka menikmati sarapan pagi bersama, Reza juga pagi ini begitu senang karena ada yang menemani sarapan paginya.
"Hari ini aku libur kerja, bagaimana kalau aku ajak kamu jalan-jalan?" Tawar Reza sambil menikmati makanannya.
"Tapi aku harus kembali bekerja, nanti mami di bar pasti dia akan marah, jika aku hari ini tidak datang untuk berkerja," jawab Amel. Senyuman di bibirnya terlihat menahan air matanya.
Jika Amel boleh memilih Amel tidak mau kembali ke tempat terkutuk seperti itu lagi. Mungkin untuk menolak tidur dengan para tamu yang dia temani itu tidaklah mudah. Bahkan Amel kadang sampai di paksa tapi Amel dengan kuat menolaknya. Tapi ya tamu itu juga kadang main grepe Amel semaunya, itu Menganti kesalahan Amel karena tidak mau melayaninya tidur.
"Kamu tenang saja, aku sudah bayar mami kamu itu. Kalau kurang, tinggal bilang saja padaku!" Kata Reza, membuat senyum Amel langsung mengembang.
Reza mengangguk, lalu dia tersenyum pada Amel. Setelah selesai sarapan, Reza langsung mengajak Amel ke suatu tempat, entah Reza ini mau mengajak Amel kemana?
*****
Setelah beberapa jam berlalu Naya terbangun dari tidurnya. Dia bergulat manja, tapi Raka hanya menatapnya dari sofa, karena tidak berani mendekat ke istrinya.
"Mas....." panggil Naya dengan manja.
"Iya sayang, kenapa?" Tanya Raka dengan nada lembut, rasanya gemas dan ingin sekali memeluk istrinya.
__ADS_1
"Naya lapar...." belum sempat Naya melanjutkan kata-katanya, Raka sudah beranjak dari tempat duduknya. "Mas, buatkan makanan kamu tunggulah!" Sambung Raka, tapi Naya malah menggelengkan kepalanya.
Raka kembali menghela nafas pelan, katanya lapar tapi di buatkan makanan tidak mau?
"Terus, kamu mau makan apa sayang?" Raka bertanya dengan sangat lembut.
"Mau makan jambu biji yang di belakang rumah mas, tapi mas yang metik." Jawab Naya, kali ini senyumnya begitu senang.
Raka hanya mengangguk. "Baiklah, ayo ke belakang. Mas petikan jambu bijinya," ajak Raka dan Naya begitu senang dia mengikuti langkah kaki suaminya di belakangnya, hanya saja jarak jalan Naya agak jauh dari Raka.
"Katanya lapar, tapi ini malah mau makan jambu biji. Sudah gitu aku yang di suruh metik, aturan tinggal beli saja ke supermarket," batin Raka dalam hatinya.
"Sayang, katanya kamu lapar. Tapi kenapa malah mau makan jambu biji?" Tanya Raka, dia melihat Naya berjalan agak jauh dari dirinya.
"Rasanya seperti pasangan yang sedang ribut harus jaga jarak," batin Raka dalam hatinya.
"Iya mas, tapi tiba-tiba pingin makan jambu biji tapi mas yang langsung petik!" Jawab Naya dengan manja.
Sesampainya di taman belakang rumah, Raka tidak yakin. Apal dia bisa memanjat pohon jambu biji itu?
BERSAMBUNG 🤗
Terimakasih para pembaca setia 🙏
__ADS_1