
Pagi hari yang cerah, hari ini hari sabtu dan Raka libur kerja.
Naya membuka matanya karena matahari sudah menyusup jendela kamarnya, Naya mengeucek-ucek matanya. Merasakan berat pada pinggangnya, ternyata tangan kekar Raka masih melingkar di pinggangnya yang langsing itu.
Naya menyingkirkan tangan Raka dengan hati-hati, lalu dia beranjak dari tempat tidur dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Naya berendam di bathtub, kini dirinya asik bermain sabun seperti anak kecil.
"Kalau dulu, aku tidak pernah mandi di tempat seperti ini."
"Tidur saja, hanya dengan kasur lantai yang sudah buluk."
"Tapi aku harus ingat asal-usul aku, agar aku tidak sombong dan bisa selalu bersyukur."
Setelah beberapa lama, Naya selesai mandi, Naya bergegas ganti pakaian.
"Sayang, ambilin mas air putih! Mas haus," rengek Raka yang baru saja bangun tidur.
Naya tidak menjawab, tapi dia langsung pergi mengambilkan air putih untuk suaminya. Kini Naya berjalan sambil membawa air putih untuk Raka.
"Ini mas," Naya menyodorkan air putih yang ada di dalam gelas pada Raka.
"Minumin." Rengek Raka manja, Raka sengaja melakukan ini agar Naya tidak bersikap dingin terus pada dirinya.
"Mas minum sendiri! Mas kan sudah besar," bantah Naya. Sorot matanya masih terlihat kesal pada Raka.
Raka tersenyum, dia mengambil air putih itu dari tangan Naya. Lalu meminumnya sendiri, "Mau sampai kapan? Mengajak mas perang dingin? Bukankah semalam kamu menikmati permainan mas," goda Raka dengan jail.
Dalam hati Naya sebenarnya merasa senang, hanya saja pikirkan Naya terus terngiang-ngiang wajah menyebalkan wanita yang merangkul Raka dengan mesra.
"Apa sih mas, aku hari ini minta izin ya mas." Tanya Naya, yang akhirnya mau bicara pada Raka.
Raka mengusap pipi Naya dengan lembut, dia melihat pagi ini istrinya begitu cantik dengan balutan dress warna kuning baby.
"Mau minta izin apa? Pergi ke danau bersama Reza?" Raka menatap Naya, kali ini tatapan mata Raka penuh ancaman.
"Siapa yang ke danau," bantah Naya malas.
"Reza cerita semuanya pada mas," jawab Raka dengan tatapan tidak mau kalah.
"Baik-baiklah, Naya mengaku. Tapi itukan tidak sengaja mas." Kata Naya, dia juga tidak mau salah.
Raka mengangguk-anggukan kepalanya, lalu menarik Naya agar masuk ke dalam pelukan nya.
"Maka kita satu sama, kemarin Angel dia bukan selingkuhan mas, dia memang suka sama mas tapi mas tidak suka padanya," kata Raka disela-sela pelukannya.
__ADS_1
Dalam lubuk hatinya, Raka tidak muda kalau Naya sampai salah paham berlarut-larut.
"Tunggu! Kenapa, kita jadi satu sama?" Naya tidak terima, dia mendorong tubuh kekar dari pelukannya.
"Mas tidak selingkuh, tapi kamu malah berduaan dengan Reza di danau." Tandas Raka, kali ini dia juga tidak mau mengalah.
Dasar dua-duanya sama-sama keras kepala, Raka juga sebagai yang lebih tua. Saat ini dia ikut-ikutan bersikap seperti anak kecil, tapi wajar saja sih. Raka juga sangat cemburu mendengar cerita dari Reza.
Naya memanyukan bibirnya, membuat Raka ingin sekali memakan bibir itu. Tapi tidak dia lakukan karena takut Naya semakin kesal pada dirinya.
"Sayang." Raka memanggilnya Naya.
"Apa mas?" Naya cuek.
"Kita baikkan ya! Mas tidak suka, kamu mengajak mas perang dingin terus. Mas tidak kuat jika di abaikan lama-lama sama istri kecil mas ini." Raka mengeluarkan jari kelingkingnya, berharap Naya mau berbaikan dengannya.
Naya tersenyum kecil, dia juga akhirnya mengejutkan jari kelingkingnya lalu mereka mengaitkan jari kelingking mereka dan pagi ini mereka akhirnya baikan.
"Terimakasih, istriku." Raka mencium kening Naya dengan hangat. "Mandilah mas, anterin aku ke supermarket! Ayo kita belanja," Naya mendorong Raka agar buru-buru mandi.
Raka menuruti apa kata Naya, dia beranjak dari tempat tidurnya lalu segera menuju ke kamar mandi.
"Sayang, kamu mau minta izin apa tadi?" Tanya Raka, sebelum menutup pintu kamar mandi.
Raka tersenyum ternyata dugaannya salah Naya tidak pergi ke danau lagi bersama Reza. Jika itu sampai terjadi pasti Raka akan sangat murka sekali.
Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, mereka berdua langsung menuju ke supermarket untuk berbelanja sayuran dan keperluan lainnya.
*****
Di supermarket Raka mendorong troli sedangkan Naya memasukkan apa saja yang menurutnya di butuhkan untuk di rumah.
"Sayang, kenapa kamu membeli mie instan sebanyak ini?" Tanya Raka, sambil mencegah tangan Naya agar tidak memasukkan mie instan lagi ke dalam troli belanjaan.
"Mas, aku suka mie instan." Rengek Naya, tapi Raka geleng-geleng kepala. "Tidak boleh memakan mie instan melebihan!" Omel Raka dan Naya menurut.
Kini mereka kembali berjalan, kali ini Raka membeli banyak sayuran, buah-buahan, dan makanan yang menurutnya bergizi untuk di konsumsi.
"Mas, ini berlebihan. Kita beli secukupnya saja!" Pinta Naya, tapi Raka geleng-geleng kepala. "Ini bergizi, dan tentunya kamu harus makan ini yang banyak, biar kamu cepat-cepat hamil." Raka tersenyum begitu manis.
Naya pasrah, percuma jika melawan suaminya takutnya malah berdebat di tempat umum.
"Mas, aku mau ini, aku mau ini, aku juga mau ini dan ini juga." Naya memasukkan berbagai macam snack-snack pedas.
Raka mendengus kesal. "Sayang, jangan berlebihan! Ini semua pedas loh," larang Raka.
__ADS_1
"Hanya ini saja mas." Naya menunjukkan wajah polosnya, membuat Raka hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya.
Kini troli mereka sudah penuh, Raka terus mendorong trolinya. Lalu tiba-tiba Raka menghentikan trolinya.
"Kenapa mas? Bukannya sudah kita beli semuanya?" Tanya Naya bingung.
"Sayang, kamu bilang kamu belum ingin hamilkan?" Bisik Raka, Naya mengangguk pelan. "Kita pakai ini!" Raka menunjukkan kotak kecil yang bergambar sertobery pada Naya.
Naya melihat kotak itu. "Ini apa mas? Apa ini permen karet mas? Ini bisa mencegah untuk kehamilan mas?" Cetus Naya begitu polos.
Raka ternganga, sungguh dirinya itu sudah bodoh menunjukkan benda itu pada istrinya sudah tahu istrinya ini begitu polos dan banyak yang dia tidak tahu.
"Naya ini adalah k****m kamu saja tidak tahu," batin Raka dalam hatinya.
"Sudahlah lupakan! Ayo kita lanjutkan belanja kita. Apalagi yang mau kamu beli?" Raka kembali mendorong trolinya.
Raka terlalu males jika menjelaskan hal seperti ini dengan istrinya, apalagi istrinya polosnya kebangetan. Jadi lebih baik nanti kalau sudah sampai rumah.
"Kita tidak jadi membeli premen karet itu mas?" Tanya Naya dengan suara pelan.
"Tidak sayang, mas tidak mau kalau kamu sampai menunda kehamilan! Kamu masih muda, tapi mas sudah tua jadi pingin punya anak cepat sayang." Jawab Raka, dia membisikkan jawabannya di telinga Naya.
Naya hanya mengangguk pelan, kini mereka sudah selesai berbelanja dan mereka menuju ke kasir untuk membayar belanjaan mereka.
Setelah selesai membayar belanjaan mereka, kini Naya dan Raka langsung menuju ke mobil mereka.
"Katakan, mau kemana lagi? Mumpung mas libur kerja," tanya Raka sambil merapikan belanjaan ke dalam mobil.
Naya terdiam, dia berpikir dia ingin kemana lagi?
"Mas....."
"Apa sayang?" Raka menoleh, kini tatapan matanya begitu lembut.
"Mas, aku kangen sama Kak Evan. Apakah boleh kita rumah mama?" Tanya Naya dengan hati-hati.
Raka menatap Naya dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Sayang......"
BERSAMBUNG 🙏
terimakasih para pembaca setia 😊
Maaf ya dari kemarin Mangatoon/Noveltoon error jadi up-nya lama 🙏🙏
__ADS_1