Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Saingan saja kompak


__ADS_3

Malam menunjukkan pukul 7 malam, Raka, Naya, Evan, Tania dan Bian. Mereka sudah berada di restoran untuk makan malam bersama.


Bian terlihat tidak nyaman, apalagi inginnya hanya makan berdua dengan Tania. Tapi ini malah makan rame-rame, sudah seperti pesta keluarga besar saja.


"Makanlah sayang!" Raka menaruh sayuran yang di ambil dengan sendok, di piring Naya.


Tania melihat pemandangan itu sambil tersenyum, dia juga ingin merasakan di perhatikan seperti Naya. Hanya saja dia tidak punya pasangan.


Tiba-tiba Evan dan Bian sama-sama menaruh sayuran di piring Tania, membuat Tania kaget. Ada apa dengan mereka berdua?


"Kalian sedang apa?" Tanya Tania, dia menatap Bian, lalu menatap Evan.


"Apalagi? Mereka sedang bersainglah," cetus Raka dengan jail.


Evan dan Bian sama-sama menatap Raka dengan tatapan tajam, tapi Raka malah senyam-senyum. Bagi Raka, ini adalah pemandangan yang bagus untuk dia nikmati malam ini.


"Raka diamlah! Kamu makan saja!" Cetus Evan dengan cepat.


"Suapin saja istrimu, jangan ikut campur masalah kita!" Sambung Bian dengan santai.


Tania semakin tidak mengerti dengan kelakuan dan tingkah Evan dan Bian.


"Kalian juga makanlah! Aku sudah besar, aku bisa makan sendiri!" Timpal Tania, membuat Evan dan Bian saling menatap sengit.


"Uhuk...uhuk...." Tiba-tiba Naya batuk.


Raka buru-buru memberikan segelas air putih miliknya pada Naya. "Hati-hati, minumlah dulu!" Kata Raka nada lembut, tatapan mata Raka juga penuh dengan cinta.


Tania kembali baper, hingga dia tersedak secara tiba-tiba. Entah Tania ini sengaja atau tidak? Hanya Tania yang tahu.


"Uhuk...uhuk....uhuk...." Tania terdesak tiba-tiba.


Buru-buru Evan dan Bian menyodorkan segelas air putih pada Tania. Membuat Tania bingung mau mengambil yang mana?

__ADS_1


"Minumlah!" Kata Evan dan Bian dengan begitu kompak.


Raka dan Naya terus senyam-senyum, betapa lucunya melihat pemandangan yang ada di hadapan mereka malam ini?


"Aish, bersaing saja kompak." Goda Raka dengan jail.


"Asal jangan dua-duanya di nikahi saja Dokter Nia!" Cetus Naya begitu jail.


Emang dasar ya suami-istri ini, begitu jail dari tadi tidak henti-hentinya membuat Tania, Evan dan Bian merasa kesal.


Tania menjadi semakin salah tingkah, sungguh Raka dan Naya ini sungguh jail. Ingin rasanya menjitak kepala Raka, tapi sayangnya Raka tidak duduk di sebelah Tania. Karena Tania duduk di tengah-tengah Evan dan Bian.


"Kalian ini bisa saja." Cetus Tania, dengan raut wajah malu-malu wajahnya juga sudah merah merona seperti kepiting rebus.


Tania memilih tidak mengambil air dari tangan kedua laki-laki itu, Tania malah memilih minum air putih miliknya yang ada di atas meja.


Evan dan Bian sama-sama memasang wajah kecewa, lalu mereka kembali menaruh air putih mereka di hadapannya.


"Coba lagi Van!" Evan memberikan semangat untuk dirinya sendiri dalam hatinya.


Kini mereka melanjutkan makan mereka, ya biarpun Evan dan Bian dari tadi saling bersaing, tapi malam ini mereka gagal mendapatkan perhatian dari Tania.


Naya dan Raka malah yang terlihat menunjukkan kemesraan mereka, membuat Tania lagi-lagi menjadi baper, jiwa jomblonya juga terus meronta-ronta dari tadi.


Setelah makan malam selesai, Raka membayar semua tagihan malam ini. Demi kakak iparnya, Raka siap jadi tameng dan biro jodoh yang handal, bahkan makan malam, malam ini juga Raka yang membayar semuanya. Ini salah satu cara Raka menjadi adik ipar yang baik juga.


Kini mereka semua keluar dari dalam restoran, sesampainya di parkiran mobil. Raka dan Naya saling menatap satu sama lain.


"Dokter Nia, mau pulang sama siapa?" Tanya Naya pada Tania.


Malam ini yang tidak membawa mobil hanya Tania, karena tadi Tania datang naik taksi.


"Aku naik taksi saja Nay, kan tadi juga aku naik taksi." Jawab Tania, sambil tersenyum pada Naya.

__ADS_1


Raka mengikut lengan tangan Evan, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Evan.


"Ajak Tania pulang bareng kak! Cepat, nanti ke duluan sama Dokter Bian!" Bisik Raka di telinga Evan.


Evan terdiam, dia sedang berpikir apakah Tania mau pulang bersama dia? "Evan, kamu harus berani jika tidak Tania akan menjadi milik Bian sih Dokter tengil itu!" Hati Evan berbicara.


Evan melihat Tania, Bian juga sama melihat ke arah Tania. Tania hanya diam di tengah-tengah Evan dan Bian.


"Kalian, kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Tania, agak jutek membuat Evan dan Bian terus menatap sengit.


Evan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, Bian juga melakukan hal yang sama.


Naya dan Raka hanya dia menyaksikan persaingan yang begitu kompak ini.


"Tania, biar aku antar pulang!" Cetus Evan dan Bian dengan kompak lagi.


Tania tersenyum simpul, menurutnya malam ini Bian dan Evan sudah gila.


"Aku duluan ya mengajaknya, kamu itu selalu ikut-ikutan saja!" Omel Evan, menatap sengit Bian.


"Kamu itu yang ikut-ikutan," Bian tidak terima.


"Tania, kamu pilih saja mau di anterin pulang sama siapa?" Goda Raka, membuat Tania lagi-lagi wajahnya menjadi merah merona.


"Baiklah, karena ini sudah malam dan lumayan bisa menghemat pengeluaran naik taksi, aku di antar....."


"Di antar siapa? Katakan Nia!" Tanya Evan dan Bian, yang lagi-lagi begitu kompak.


"Di antar......"


BERSAMBUNG 😘


Terimakasih para pembaca setia 🙏

__ADS_1


__ADS_2