
Dua hari telah berlalu, malam terlihat begitu terang Naya, Raka, Ratih dan Evan duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi bersama dan menikmati cemilan yang di buat oleh Ratih dan Naya.
"Mas, malam ini aku boleh tidur sama mama?" Tanya Naya dengan nada lembut, Raka menelan ludahnya dengan kasar.
"Jadi malam ini aku harus tidur sendirian? Sungguh ini berat, tapi jika aku tidak memberikan izin pada Naya pasti dia akan meranjuk manja," batin Raka dalam hatinya.
Ratih tersenyum, dia tahu pasti Raka sedang berpikir keras.
"Nak, kalau kamu tidur sama mama kasian suami kamu," kata Ratih dengan nada lembut.
"Mama, aku hanya ingin tidur di peluk sama mama." Jawab Naya, membuat mata Ratih berkaca-kaca.
"Inikah anak yang selama ini aku benci, dia sangat butuh kasih sayang dan kehangatan dari seorang ibu," Ratih menangis dalam hatinya.
Evan menyikut lengan tangan Naya, membuat Naya menoleh pelan. "Katakan pada suamimu kalau ini mau kecebong kecilnya," bisik Evan dengan suara pelan. Naya tersenyum licik, kali ini dia setuju dengan idenya sang kakak.
Naya beranjak dari tempat duduknya, dia berpindah duduk ke sebelah suaminya, kini dia berglendotan manja sambil memegang tangan suaminya.
"Mas boleh ya, aku malam ini tidur sama mama." Rengek Naya dengan manja. "Ini mau kecebong kecilnya kamu tahu mas," rayu Naya membuat Raka tidak bisa menolak keinginan istrinya.
"Baiklah, tapi hanya malam ini ya." Kata Raka dan Naya mengangguk penuh semangat.
Evan senyam-senyum, sungguh melihat sejoli ini begitu manis.
"Kapan aku punya istri? Sedangkan aku sampai sekarang tidak punya kekasih," batin Evan dalam hatinya.
__ADS_1
"Naya, kamu tidak usah kawatir malam ini suamimu tidur denganku dan aku akan membiarkan adik ipar ku memeluk aku semau dia," goda Evan membuat Raka menatapnya dengan tatapan jijik.
"Kenapa aku bisa punya kakak ipar semesum ini?" Batin Raka dalam hatinya.
Naya dan Ratih sama-sama tertawa, akhirnya mereka malam ini Naya tidur di kamarnya bersama mamanya sedangkan Raka dan Evan tidur di ruang tengah sambil menonton televisi, mereka sengaja tidur di ruang tengah karena mereka mau menonton bola bersama.
Di dalam kamar, Naya membaringkan tempat tidurnya, Ratih juga melakukan hal yang sama kini mereka sudah masuk ke dalam selimut.
"Nak, besok mama pulang ya." Kata Ratih dengan nada lembut.
"Kok pulang ma? Kan baru dua hari di rumah Naya," jawab Naya. Matanya terlihat tidak rela jika mamanya pulang.
"Tidak enak dengan suamimu, jika mama terus-terusan disini. Kak Evan juga harus kerja," tutur Ratih sambil mengusap pipi Naya dengan lembut.
Naya tersenyum, kali ini senyumnya begitu bahagia. Pelukan mamanya membuat Naya merasa nyaman.
Ratih menatap Naya dengan tatapan lembut, lalu mempererat pelukannya.
"Nak, janga ingat-ingat masa lalu ya! Biarkan mama kamu tenang di surga sana, papa juga biar tenang di surga sana!" Jawab Ratih, inilah Ratih yang sesungguhnya dia begitu baik dan sangat lemah lembut.
Naya tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya menangis di pelukan sang mama hingga dia tertidur nyenyak. Setelah Naya lelap tidur, Ratih juga ikut tidur.
Di ruang tengah, Raka dan Evan masih asik menonton bola, mereka saling mendukung jagoan mereka masing-masing, semangat juga terus diberikan untuk jagoan mereka.
Kini acara bola akhirnya selesai, mereka sama-sama terdiam. Dan malam ini jagoan mereka seri.
__ADS_1
"Kamu bahagia dengan pernikahan kamu Ka?" Tanya Evan, Raka tersenyum kecil sambil menatap Evan.
"Aku bahagia kak, ini adalah pernikahan kedua aku kak. Dulu aku tidak pernah merasakan sebahagia ini," jawab Raka dengan serius.
Evan terdiam sejenak, dalam hatinya berpikir kapan dirinya akan bertemu dengan jodohnya?
"Hebat kamu sudah dua kali, aku belum sama sekali," kata Evan senyumnya terlihat sedih.
"Menikahlah kak, lagian buat apa kak tidak menikah?" Raka menatap Evan dengan serius.
"Bukan masalah itu, masalahnya jodohku belum datang." Evan mendengus pasrah, Raka malah tersenyum jail.
"Aku bantu cari jodoh ya kak, Reza saja aku carikan jodoh dia langsung bertemu," tawar Raka dengan nada meledek.
Evan menatap Raka dengan tatapan penuh tanda tanya? Seorang duda seperti Raka, mau mencarikan calon istri Evan dimana?
Sungguh Evan tidak yakin, jika Raka yang mencarikan jodohnya untuk dirinya. Apalagi Terlihat begitu tidak meyakinkan bagi Evan.
"Aku tidak yakin Ka," Evan menggelengkan kepalanya.
"Percaya padaku kak, aku tidak akan menjerumuskanmu," Raka meyakinkan Evan.
Evan hanya mengangguk pasrah, entah akan di ajak kemana Evan mencari jodohnya?
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊