Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Rasa canggung Naya & Raka


__ADS_3

Setelah acara selesai, Raka langsung mengajak Naya pergi ke hotel.


Sesampainya di hotel Raka merebahkan tubuhnya di atas ranjang tempat tidurnya. Sedangkan Naya hanya diam di tepi ranjang rasanya deg-degan, Naya bingung apa yang harus dia lakukan?


"Kamu kenapa? Mandilah, ganti gaunmu! Aku sudah siapkan baju ganti di lemari," kata Raka dan dia membenarkan posisinya menjadi duduk, membuat Naya semakin deg-deggan.


Hotel ini adalah milik Kumara Group, jadi kamar yang di tempati Raka dan Naya itu memang kamar pribadi Raka saat Raka sedang menginap di hotel miliknya itu.


"Emm, iya mas...." Jawab Naya malu-malu.


Naya beranjak dari tempat duduknya, lalu dia berjalan menuju ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Naya begitu gusar membuka resleting, dia terlihat kesusahan.


"Haruskah aku memanggil Mas Raka untuk membantuku?" Tanya Naya dalam hatinya.


Naya masih berusaha tapi retselting tetap susah di buka.


Naya membuka pintu kamar mandinya. "Mas, bisa tolongin aku tidak?" Tanya Naya dengan hati-hati.


Raka berjalan menuju ke kamar mandi. "Kenapa?" Tanya Raka, dia sudah berdiri di ambang pintu kamar mandi.


"Ini sangat susah di buka," keluh Naya sambil menunjukkan retseltingnya yang susah di buka dari tadi.


Raka hanya tersenyum, dia mulai membuka resleting gaun milik Naya. Dengan kasar Raka menelan ludahnya karena melihat bagian tubuh Naya begitu mulus.


"Raka, tahanlah! Beri gadis kecil ini waktu, pasti dia masih sangat polos." Kata Hati Raka.


Buru-buru Raka menepis pikirannya joroknya, Setelah melepaskan retselting gaun Naya. Raka keluar dari dalam kamar mandi dan kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Raka terus terbayang-bayang tubuh mulus milik gadis kecil yang saat ini sudah sah menjadi istrinya beberapa jam yang lalu.


"Aish, otak mesumku jangan kamu menggangguku!"

__ADS_1


"Tahan Raka! Ingatlah, Naya perlu waktu untuk melakukan hubungan suami-istri!"


Pikirkan Raka semakin kacau, tapi Raka juga harus sabar karena dia juga tidak mau membuat Naya ketakutan.


Setelah beberapa lama akhirnya Naya keluar dari dalam kamarnya mandi dengan memakai handuk kimono. Naya berganti pakaian dengan kemeja warna putih, karena memang yang ada di lemari hanya kemeja warna putih.


Darah Raka terus mengalir begitu cepat, rasanya tubuh Naya itu bagaikan daging sapi yang ingin sekali dia nikmati.


Sebelum pikirannya traveling kemana-mana, Raka buru-buru pergi ke dalam kamar mandi.


"Mas Raka kenapa?" Naya terlihat bingung, karena suaminya buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.


"Sudahlah, aku sangat lelah sekali hari ini." Naya merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.


Rasanya nyaman sekali, Naya teringat selama ini dia tidak pernah tidur di kasur yang empuk seperti saat ini, karena setiap hari Naya tidur dengan beralaskan kasur lantai yang sudah sangat kusut dan jelek.


"Jadi orang kaya itu enak, kasur saja sangat empuk sekali." Naya berguling-guling seperti anak kecil yang baru saja membeli kasur baru.


Raka berjalan menuju ke ranjang tempat tidurnya, dia duduk di tepi ranjang. Setelah berganti pakaian dengan kemeja warna putih juga.


Raka menggeser duduknya agak ke tengah, Naya yang merasa canggung dan detak jantung nya terus berdebar-debar kencang. Naya membenarkan posisinya menjadi duduk.


Kini Naya dan Raka sama-sama duduk dengan perasaan canggung di antara mereka, padahal mereka sudah sah menjadi suami istri tapi mengingat Naya yang masih belasan tahun dan tentunya sangat polos, Raka mengerti apalagi Naya pernah bilang ke Raka kalau dia masih takut saat melakukan malam pertama dan Raka juga akan berusaha menahannya, Entah sampai kapan Raka akan tahan? Kalau setiap hari harus di sugihi tubuh mulus Naya.


Dalam hati Raka, haruskah aku menelan ludahku setiap hari?


Naya dan Raka kini saling mengobrol, bahkan Naya memberikan perjanjian konyol pada sang suami.


"Mas," lirih Naya.


"Iya kenapa? Berbaringlah, pasti kamu sangat lelah." pinta Raka tapi Naya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu lapar mau makan dulu?" Tanya Raka, untuk menghilangkan rasa canggung yang ada saat ini.


"Tidak mas, mas jangan apa-apain aku dulu ya. Aku masih takut," pinta Naya dengan begitu polosnya.


"Iya sayang, tapi kalau mas hilaf lain lagi ceritanya." Raka tersenyum jail, rasanya ingin sekali memakan istri kecilnya malam ini.


Naya memanyunkan bibirnya, entah expressi apa yang saat ini Naya tunjukkan pada Raka? Raka juga hanya bisa menahan tawanya dalam hatinya.


"Dasar gadis kecilku," Raka tertawa dalam hatinya.


"Mas, Naya masih takut."


Raka tersenyum, lalu melihat Naya dengan begitu lembut.


"Tidurlah, malam ini mas tidak akan melakukan apapun."


Naya tiba-tiba meraih tangan Raka dan kini Naya membuat stempel perjanjian, Raka hanya bisa menahan tawanya. Wajarlah yang dia nikahi adalah gadis kecil jadi harus sabar dengan tingkahnya.



Visual Raka dan Naya.


"Sekarang kita sudah membuat stempel perjanjian jadi kalau mas macam-macam, mas akan di hukum!" Kata Naya, membuat Raka lagi-lagi hanya bisa tertawa.


"Baiklah, tidurlah sekarang!" Raka dan Naya sama-sama berbaring.


Malam ini Raka dan Naya tidur tanpa melakukan malam pertama mereka.


BERSAMBUNG 😊


Terimakasih para pembaca setia 😘

__ADS_1


__ADS_2