Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Kakak ipar gangguin


__ADS_3

Kini dua hari berlalu Naya dan Raka menjalanin hari-hari seperti biasanya, pagi ini Naya juga sedang sibuk masak untuk mereka sarapan berdua.


"Mas, kamu kok belum mandi?" tanya Naya, yang merasakan pelukan hangat dari suami terbucinnya.


"Mas libur kerja, jadi mas tidak mau mandi, kamu masak apa?" Raka malah mempererat pelukannya, bahkan bibirnya begitu nakal di leher jenjang Naya.


Naya menggelidik geli merasakan bibir suaminya yang mulai liar di leher jenjangnya.


"Mas, aku sedang masak," ujar Naya agar suaminya melepaskan pelukannya.


"Lalu kenapa? Mas pingin bermesraan dengan istri mas," sahut Raka tangannya semakin nakal, bibirnya hendak menggigit telinga Naya tapi tiba-tiba bell rumah berbunyi berulang kali.


"Ting....tong...ting....tong....."


"Ting...tong...ting...tong......!!!"


Suara bell rumahnya itu begitu mengusik telinganya, rasanya kesal dan marah ingin sekali menendang pintu rumahnya.


Raka mengurungkan niatnya, dia berdecak kesal karena suara bell rumahnya ini begitu menganggu sekali.


"Aish, siapa pagi-pagi sekali datang bertamu? Apa mereka tidak tahu waktu," gerutu Raka dalam hatinya.


"Mas, tolong bukakan pintu rumah, itu ada tamu!" pinta Naya, akhirnya Raka melepaskan Naya dari pelukannya.


Dengan langkah kaki males Raka berjalan menuju ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


Naya melanjutkan masaknya, kini masakan yang dia buat akhirnya sudah matang, Naya langsung menyiapkan masakannya di atas meja makan.


"Siapa yang datang pagi-pagi?" tanya Naya pada dirinya sendiri, kini Naya sudah duduk.

__ADS_1


Naya duduk di kursi meja makan sambil menunggu Raka yang sedang membukakan pintu rumahnya.


"Ceklek....."


"Siapa sih?" gumam Raka dengan nada pelan.


Raka menatap kesal kedua orang yang ada di hadapannya itu, itu mereka adalah Evan dan Tania.


"Aish kalian, menganggu saja pagi-pagi seperti ini," kata Raka yang masih kesal.


"Aish, bagaimana aku bisa menggangumu? Aku kesini pagi-pagi mau bertemu dengan Naya," sahut Evan sambil tersenyum. Kali ini senyum Evan begitu sumpringah.


Raka mengangguk lalu mengajak Tania dan Evan untuk masuk ke dalam rumahnya.


Tania terkejut melihat kakaknya dan calon kakak iparnya ini tumben-tumbenan datang di pagi hari seperti ini?


"Apa mereka pada ikut sarapan bersama?" batin Naya dalam hatinya.


Eva mengerti adiknya ini pasti kaget kenapa dirinya datang tiba-tiba datang.


"Naya, jangan kaget seperti itu, kakak kesini membawa kabar bahagia," jelas Evan dan di langsung duduk di kursi meja makan.


Naya terdiam kira-kira kabar bahagia apa yang Evan sampaikan hari ini?


"Kabar bahagia apa kak?" tanya Naya, rasanya semakin penasaran.


"Kita makan dulu, aku belum sarapan, aku lapar sekali," bukannya menjawab pertanyaan dari Naya, Evan malah meminta sarapan dulu.


Raka hanya geleng-geleng kepala sungguh kakak iparnya ini, datang pagi-pagi bahkan dia sudah menganggu Raka yang mau mesra-mesraan ini malah minta makan.

__ADS_1


"Mas Evan, kamu ih datang-datang minta makan," omel Tania. Sungguh calon suaminya ini tidak tahu malu sekali, untung di rumah adik nya dan adik iparnya.


"Sayang, kamu juga makanlah, lihat Naya sudah masak enak," sambung Evan dan Naya malah tersenyum.


Naya melihat Tania lalu dia tersenyum pada Tania.


"Kak Nia, makanlah sudah tidak usah malu-malu, Kak Evan memang seperti itu," kata Naya dan akhirnya Tania duduk.


Kini mereka menikmati sarapan pagi bersama.


"Kak Evan, mama sehatkan?" tanya Naya, dengan penuh perhatian.


"Sehat Nay, sekarang mama hobby arisan sama belanja ke mall karena transferan Raka yang begitu lancar," jawab Raka sambil menikmati makanannya.


Naya melihat Raka lalu tersenyum pada suaminya ini. Lagi-lagi Naya harus banyak bersyukur karena mendapatkan suami sebaik Raka.


"Kak, apa kabar bahagianya?" tanya Raka, rasanya sudah sangat penasaran sekali.


"Naya, Raka, minggu depan aku akan menikah," jawab Evan sambil tersenyum bahagia.


Pipi Tania seketika menjadi merah merona karena merasa malu.


"Kakak, apa ini sungguhan?" tanya Naya, dia tidak percaya.


"Iya sungguh Nay," jawab Evan dan di anggukin oleh Tania.


Akhirnya Tania dan Evan akan segera menuju halal.


Bersambung

__ADS_1


terimakasih para pembaca setia


__ADS_2