Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Tabur bunga untuk Bian


__ADS_3

Setelah satu minggu berlalu, para korban pesawat tidak ada yang di temukan sama sekali dan mungkin mereka juga sudah meninggal semuanya apalagi masuk ke dalam lautan yang begitu dalam.


Pada hari ini Tania, Evan, Raka, Naya, mereka akhirnya pergi tabur bunga di lautan tempat pesawat yang di naikin oleh Bian jatuh, Reza dan Amel juga ikut dengan mereka.


"Dokter Bian, mudah-mudahan kamu tenang disana, sungguh aku tidak menyangka kamu akan pergi dengan cara seperti ini," kata Tania air matanya mengalir begitu saja.


Tania sudah berusaha pasrah, dia juga tidak mau menangis tapi air matanya jatuh begitu saja membasahi pipinya.


"Ini semua takdir, tidak ada yang tahu. Tania ikhlas kan kepergian Dokter Bian!" pinta Evan, Tania mengangguk dia menghapus air mata yang terus mengalir.


Evan memeluk Tania dengan erat, hanya ini yang bisa Evan lakukan saat ini.


"Nia, aku tahu kamu sedih, tapi jangan berlebihan, kamu tidak boleh menangis lagi!" sambung Raka, dia mengerti kalau Evan juga tidak nyaman jika Tania menangis karena Bian.


"Jika kamu terus menangis Bian, maka aku akan berpikir kalau kamu itu lebih mencintai Bian bukan aku," batin Evan dalam hatinya.


Lagian Bian dan Tania adalah rekan kerja, biarpun mereka sering bareng tapikan Tania tidak punya perasaan apa-apa pada Bian. Tapi kesedihan Tania yang berlebihan membuat Evan berpikir kalau Tania lebih mencintainya Bian daripada dirinya.

__ADS_1


Naya hanya diam, berharap kakaknya akan sabar dalam keadaan seperti ini dan tidak pergi lagi seperti beberapa hari yang lalu.


Kini suasana di mobil itu hanya ada keheningan, Evan juga hanya memeluk Tania, Raka juga hanya fokus menyetir sedangkan Reza dan Amel memakai mobil Reza sendiri.


Kini sesampainya di tempat tujuan, disana sudah banyak yang datang keluarga korban yang lainnya juga banyak yang sudah berada di pinggiran laut itu.


Kali ini untuk menyemberangin lautan Raka menyewa kapal khusus, karena tidak mau istrinya kenapa-kenapa jika harus berhimpit-himpitan dengan yang lainnya apalagi istrinya sedang hamil besar, Raka juga tidak mau kalau sampai ada laki-laki lain sampai menyentuh Naya biarpun secara tidak sengaja.


Sungguh disini jiwa bucin Raka membuncak padahal sedang dalam keadaan duka, tapi tidak apa-apa lagian Raka tidak macam-macam hanya menyewa kapal sendiri saja.


Bunga-bunga untuk di tabur ke lautan juga sudah mereka siapkan.


"Masih tidak menyangka padahal beberapa hari lalu dia masih bersama kita," kata Reza dengan perasaan yang begitu sedih.


"Takdir tidak ada yang tahu mas, ayo kita mulai tabur bunganya!" pinta Amel, Reza dan Amel bergabung dengan yang lainnya.


Kini Raka, Naya, Tania, Evan, Reza dan Amel, siap untuk bertabur bunga untuk melepaskan kepergian Dokter Bian untuk selamanya.

__ADS_1


"Selamat jalan Bian, aku akan menjaga Tania seperti apa yang kamu minta, kamu tenanglah di dalam surga sana!" kata Evan, dia menabur bunga yang diiringi dengan doa.


"Dokter Bian, kamu adalah laki-laki baik, maafkan aku yang tidak pernah bisa menerima cinta kamu, bahagialah di surga sana!" Tania melemparkan buket bunga mawar merah, dia juga mendoakan Bian.


"Jika kamu masih hidup di dalam lautan sana, segeralah kembali pada kita," batin Tania dalam hatinya.


Naya menaburkan bunga bersamaan dengan Raka.


"Terimakasih Dok, sudah pernah menjadi Dokter kandungan aku, selamat jalan Dokter Bian," kata Naya sambil menabur bunga untuk melepaskan kepergian Dokter Bian.


"Maaf aku dulu pernah cemburu berlebihan tapi aku bahagia bisa mengenal Dokter," sambung Raka sambil menabur bunga juga.


Reza dan Amel juga menaburkan bunga untuk melepaskan kepergian Dokter Bian untuk selamanya, biar bagaimanapun mereka masih belum menyangka kalau Dokter Bian akan pergi dengan cara seperti ini.


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2