Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Tuan Raka Kumara


__ADS_3

"Ceklek," suara gagang pintu.


Naya melihat punggung laki-laki yang sedang berdiri tegak di depan pintu.


"Maaf..." Lirih Naya dan sang laki-laki itu menoleh. "Pak Raka," Naya terkejut melihat Raka yang datang ke rumahnya.


"Kenapa lama sekali membukakan pintunya?" Tanya Raka dengan raut wajah kesal.


Naya tersenyum manis, perasaan takut menyelimuti hatinya apalagi saat ini hanya ada Raka dan dirinya saja di rumah.


"Untuk apa dia datang ke rumahku?" Tanya Naya dalam hatinya.


"Aku takut yang datang orang jahat, aku di rumah hanya sendirian," jawab Naya dengan suara lirih.


Sungguh Raka tidak habis pikir, bisa-bisanya Naya berpikir seperti itu. "Mana ada penjahat setampan aku," Raka menyombongkan dirinya.


"Memangnya kalau penjahat harus jelek?" Jawab Naya dengan tatapan kesal.


Raka mendengus kesal, apa gadis kecil yang ada di hadapannya itu sedang mengajak dirinya berdebat? Sungguh ini sangat menarik buat Raka.


"Apa, kamu tidak menyuruhku masuk?" Tanya Raka yang sudah merasa kepanasan dari tadi.


Naya menggelengang-gelengkan kepalanya. "Tidak ada orang pak di rumah, jadi Pak Raka di luar saja!" Jawab Naya dengan begitu polosnya.


Raka hanya bisa geleng-geleng kepala, apa gadis ini sepolos ini? Memangnya kenapa kalau tidak ada orang di rumah? Sungguh otak Naya itu begitu mesum, dia takut terjadi sesuatu anatara dirinya dan Raka Kumara.


"Maaf Pak Raka, ada apa ke rumah saya?"Tanya Naya dengan begitu hati-hati.


"Aku hanya ingin mengajakmu makan siang bersama," jawab Raka. Tanpa menunggu persetujuan dari Naya Raka langsung menarik tangan Naya begitu saja. "Pak, pintu rumah saya belum di tutup!" Naya sangat kesal pada Raka, Raka menghentikan langkah kakinya lalu dia pergi menutup pintu rumah Naya.


"Sudah aku tutup, sekarang temanin aku makan siang ya!" Kata Raka lagi-lagi tanpa persetujuan dari Naya.


"Apa bapak ini, suka sekali memaksa." Naya mendengus kesal.


"Jangan panggil bapak atau Pak Raka, Karena aku buka papamu! Panggil aku Mas Raka saja!" Raka menatap Naya dengan tatapan penuh arti.


Sungguh tatapan Raka membuat Naya merasa takut.


"Tatapannya begitu mesum," batin Naya dalam hatinya.


"Naya, panggil aku mas!" Suruh Raka untuk kedua kalinya.


"Iya Mas Raka," jawab Naya singkat.


Raka langsung mengajak Naya pergi ke sebuah restoran untuk makan siang berdua. Sebenarnya Naya merasa malas apalagi Raka selalu memaksa, tapi mau bagaimana lagi? Jika Naya menolak juga percuma tangan kekar Raka juga sudah menarik tangan mungil miliknya.

__ADS_1


Sesampainya di sebuah restoran, Raka dan Naya duduk bersebelahan. Raka memesan makanan untuk dirinya dan juga untuk Naya.


"Kenapa tiba-tiba mengajak saya makan siang, mas?" Celetuk Naya dengan malas.


"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh mengajak kamu makan siang berdua denganku?" Bukannya menjawab Raka malah balik bertanya.


"Apakah pantas di tanya malah balik bertanya?" Gumamnya dengan lirih.


Raka tersenyum simpul, dia melihat raut wajah kesal di wajah Naya.


"Sungguh dia terlihat begitu menggemaskan." Batinnya dalam hati.


Naya hanya diam, dia terlalu malas untuk bertanya lagi pada Raka. Apalagi Raka di tanya bukannya menjawab tapi malah balik bertanya.


Setelah beberapa lama akhirnya makanan pesanan mereka datang, kini mereka menikmati makan siang berdua dengan nikmat.


Dalam hati Naya, Naya merasa bahagia apalagi melihat makanan yang ada di hadapannya saat ini.


"Bisanya aku hanya makan-makanan sisa tapi hari ini aku bisa makan di restoran mewah," Naya tersenyum dalam hatinya.


"Kamu kenapa diam? Makanlah, apa kamu tidak suka dengan makanan yang aku pesan? Mau aku pesankan makanan yang lain?" Tanya Raka, karena melihat Naya dari tadi hanya diam dan tidak menyentuh makanannya.


Naya menggelengang-gelengkan kepalanya dengan pelan, dia tersenyum pada Raka. "Tidak usah mas, Naya suka kok dengan makannya." Jawab Naya dengan nada lembut.


"Jika, aku meminta gadis ini menjadi istriku. Apakah dia akan mau dengan aku yang berstatus duda?" Tanya Raka dalam hatinya.


Naya menghentikan makannya karena merasa tidak nyaman, apalagi dari tadi Raka terus menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Mas, kamu kenapa?" Tanya Naya dengan hati-hati.


"Tidak apa-apa," Raka melanjutkan makannya.


Setelah keduanya sudah sama-sama selesai makan, Raka mengatarkan Naya pulang ke rumahnya.


Di perjalanan menuju ke rumah Naya, Mereka hanya diam satu sama lain. Tapi mata Raka sekali-kali melirik wajah cantik Naya.


"Apa, aku bisa memilikinya?" Hati Raka merasa ragu.


Naya tersenyum sambil melihat indahnya pemandangan jalan siang ini.


"Biasanya macet sekali, tapi hari ini tidak." Naya tersenyum, dia sangat paham jalanan di situ apalagi setiap hari Naya selalu melewatinya saat berjualan kue keliling.


"Senyumnya, membuat hatiku meleleh sungguh manis sekali," gumam Raka dalam hatinya.


"Mungkin hari ini jalanan sedang berpihak pada kita," sambung Raka.

__ADS_1


"Dasar mas ini ada-ada saja," Naya tertawa kecil.


Melihat Naya tertawa membuat hati Raka cenat-canut tidak karuan.


"Dia hanya tertawa, tapi itu saja membuat hatiku cenat-canut." Raka tertawa dalam hatinya.


Raka mengingat saat dirinya berumah tangga dengan Elina dulu, sepertinya Raka tidak pernah merasakan seperti ini dan bucin separah ini.


"Nay, aku panggil kamu Nay saja ya." Celetuk Raka dan di anggukin oleh Naya.


Ternyata seorang duda sepertiku masih bisa sebucin ini dengan gadis kecil yang usianya masih belasan tahun. Dasar Raka Kumara, bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan Naya sepenuhnya.


Raka kembali fokus menyetir, sesampainya di depan rumah Naya. Raka menghentikan mobilnya, dia turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobilnya untuk Raka.


Kedua mata membulat dengan sempurna, melihat Naya turun dari dalam mobil mewah milik Raka Kumara.


"Naya, bersama siapa? Sudah berani anak itu, aku tidak di rumah tapi dia malah pergi dengan seorang laki-laki." Ratih menatap Naya dengan tatapan begitu tajam.


Mata Evan mengikuti arah mata mamanya, Evan malah tersenyum melihat Naya bersama dengan laki-laki.


"Tampan sekali laki-laki yang bersama Naya, apa dia itu kekasihnya?" Tanya Evan, dan langsung di tatap garang oleh Ratih.


"Hentikan pikiran ngawurmu itu, Van. Bisa-bisanya dia pergi dengan seorang laki-laki!" Tatapan Ratih semakin garang.


"Apa gadis itu mau menjadi seperti ibunya? Dia mau dengan laki-laki manapun," batin Ratih dalam hatinya.


"Memangnya kenapa ma? Naya juga berhak bahagia ma, lagian jika laki-laki itu baik. Apa salahnya?" Tutur Evan, dia sangat kesal pada mamanya ini selalu saja tidak suka jika melihat Naya bahagia.


Raka dan Naya berjalan bersama, tubuh Naya gemetaran dia tampak terkejut karena melihat mamanya dan kakaknya ternyata sudah pulang dan kini mereka berdua sama-sama berdiri di depan pintu.


"Darimana kamu? Siapa laki-laki itu?" Tanya Ratih tanpa basa-basi, matanya di penuhi dengan amarah.


Naya merasa takut bahkan dia menundukkan kepalanya di hadapan mamanya.


"Bukannya mama dan Kak Evan baru pulang minggu depan?" Batin Naya dalam hatinya.


"Ma, biarkan Naya masuk dulu!" Kata Evan, bisa-bisanya mamanya ini selalu membuat Naya takut.


"Jawab Naya, siapa laki-laki ini!" Ratih hampir menarik rambut panjang Naya tapi tangan kekar Raka menahannya.


"Saya adalah....."


BERSAMBUNG


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2