Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Oh seperti itu mas


__ADS_3

"Maksudnya mas apa? Naya tidak bisa jalan kenapa?" Tanya Naya, wajahnya terlihat ketakutan.


Entah bagaimana cara Raka menjelaskan pada istrinya yang sepolos toples ini?


Raka menghela nafasnya dalam-dalam, ingin rasanya menyentil jidat istrinya tapi Raka tidak tega, apalagi semalam Naya habis melayani dirinya pasti dia sangat kelelahan.


Raka mengurungkan niatnya untuk mandi, kini dia kembali duduk dan tangannya memegang kedua pipi istrinya dengan lembut.


"Sayang, bagaimana ya cara mas menjelaskannya?" Raka agak kebingungan, bagaimana merangkai kata agar Naya paham sedangkan Naya sendiri suka lemot.


Naya hanya terdiam sambil menatap Raka seolah-olah meminta penjelasan pada sang suami.


"Gini saja, sekarang kamu bangun dan coba bawa jalan atau bergerak! Sakit tidak bagian itunya?" Tutur Raka, berharap istrinya paham.


"Itunya apa mas?" Naya terlihat bingung.


Dalam hati Raka, haruskah aku bicaranya dengan detail? Sungguh Naya, kalau seperti ini kamu bisa buat mas naik darah setiap hari, tapi sabar Raka bersyukurlah kamu dapat daun muda yang polos!


"Bagian ini, coba bawa gerak sakit tidak?" Raka menunjukkan milik Naya, membuat wajah cantiknya menjadi merah seperti kepiting rebus.


Naya tersenyum, dia sudah mengerti dengan penjelasan yang suaminya berikan.


Naya mencoba beranjak dari tempat tidurnya, kini pelan-pelan Naya menggerakkan kakinya tapi bagian itunya terasa nyeri.


"Achh...." rintih Naya merasa kesakitan.


"Itukan sakit, makanya kamu istirahat dulu di rumah. Nanti kalau sudah sembuh, baru boleh ikut mas ke kantor!" Kata Raka dengan nada lembut.

__ADS_1


Naya mengangguk pelan, Raka membantu membenarkan kaki Naya. "Tetaplah diam dan ingat jangan banyak bergerak!" Pesan Raka, dengan penuh kehangatan Raka mencium kening Naya.


Raka pergi meninggalkan Naya ke kamar mandi, dia harus bersiap-siap pergi ke kantor. Sambil berbaring Naya terus berpikir, kenapa kok sakit sekali?


"Kira-kira sakitnya berapa lama? Buat jalan saja susah, apa karena Mas Raka terlalu buas waktu melakukannya?" Naya berbicara sendiri apalagi dirinya ini masih belum paham tentang begituan.


Raka menyandarkan kepalanya pada sandaran tempat tidur, dia ingin beranjak dari tempat tidur untuk meyiapkan pakaian kerja suaminya tapi di gerakkan saja bagian itunya terasa nyeri.


"Sungguh, ini sangat menyiksa."


Setelah beberapa lama, Raka keluar dari dalam kamar mandi. Dia hanya berjalan mengenakkan handuk saja, Naya menatap lekat tubuh kekar suaminya hingga kakinya.


"Lihat kenapa Mas Raka bisa jalan biasa saja, apa dia tidak merasakan sakit sepertiku?" Batin Naya dalam hatinya.


Raka berganti pakaian, dia mengambil pakaiannya sendiri dari dalam lemari, setelah selesai berganti pakaian Raka berjalan menuju ke tempat tidur. Lalu dengan lembut mengusap pucuk rambut Naya.


"Sakit apanya sayang?" Raka bertanya balik, kali ini Raka terlihat bingung.


"Itu mas bisa jalan." Naya terlihat begitu polos, sungguh raut wajahnya terlihat tidak punya dosa sama sekali.


Raka hanya bisa menahan tawanya, apa Naya sama sekali tidak mengerti tentang ehem-ehem? Aduh Naya kamu itu terlalu polos, tuhan kenapa engkau memberikan aku istri sepolos Naya?


"Sayang, laki-laki dan perempuan itu berbeda. Kenapa perempuan kalau pertama kali melakukannya sakit, ya karena ada bagian yang luka mungkin karena mas melakukan agak kasar," jelas Raka dengan kata-kata yang berharap Naya bisa mengerti.


"Oh seperti itu mas, ini saja masih sakit!" Naya agak meringis, sungguh jika di gerakan terasa nyeri.


"Makanya, kamu diam saja di tempat tidur. Nanti setelah beberapa hari, itu akan sembuh dan mas akan mengajak kamu ke kantor," kata Raka dengan penuh perhatian.

__ADS_1


Sebelum berangkat ke kantor, Raka membuatkan sarapan untuk Naya dan segelas susu putih.


Raka terbilang suami yang perhatian, hanya saja mantan istrinya dulu tidak pernah bersyukur punya suami sebaik Raka Kumara.


"Mas berangkat dulu ya." Raka mencium hangat kening Naya, dia juga sudah menaruh sarapan yang di buat untuk Naya di atas nakas meja dekat tempat tidurnya.


"Iya mas," tidak lupa Naya menyalami tangan suaminya lalu menciumnya.


Setelah berpamitan Raka langsung berangkat ke kantor. Pagi ini wajah tampan Raka berseri-seri terlihat kebahagiaan disana.


Sesampainya di kantor Raka melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor, para pegawai yang menyapanya Raka juga membalas sapaan mereka dengan hangat.


"Lihat Pak Raka, pagi ini terlihat begitu bahagia."


"Iya setelah menikah dengan istri barunya, dulu waktu sama Bu Elina mah boro-boro, tiap pagi saja Pak Raka sering marah-marah."


"Wajarlah, dapat daun muda." Sahut Reza, dia terus melihat Raka yang melewati dirinya begitu saja.


"Eza, hati-hati kalau Pak Raka dengar ngamuk dia nanti!"


"Sudahlah, kalian jangan merumpi lanjutkan pekerjaan kalian!"


Reza berlalu pergi meninggalkan para pegawai lainnya, hatinya masih belum bisa menerima kenyataan yang ada.


BERSAMBUNG 😁


Terimakasih para pembaca setia 🤗

__ADS_1


__ADS_2