
Pagi hari yang cerah, matahari mulai menyusup masuk menembus jendela kamar Raka dan Naya. Merasakan silau pada matanya, Naya perlahan-lahan membuka matanya.
"Berat sekali," rengek Naya dan melihat tangan kekar suaminya melingkar di pinggangnya.
Naya memindahkan tangan suaminya, lalu dia membenarkan posisinya menjadi duduk. Naya melihat suaminya yang masih lelap tertidur.
"Dia tampan sekali, biarpun sudah berumur tapi Mas Raka...." Naya tersenyum, dia tidak mau melanjutkan kata-katanya.
"Tapi apa?" Tanya Raka, kini dia menatap Naya begitu dalam membuat Naya malu.
"Mas sudah bangun?" Tanya Naya gugup.
Raka menganggukkan kepalanya, dia menatap Naya seolah-olah meminta jawaban dari Naya.
"Katakan tapi apa?" Raka kembali bertanya.
"Tidak ada mas, Naya mau mandi dulu." Naya hendak beranjak dari ranjang, tapi dengan cepat tangan kekar Raka menahan tangannya.
Naya melihat Raka, tapi Raka menarik Naya hingga Naya jatuh tepat di pelukannya.
"Kasih tahu dulu, tapi apa? Biar mas tidak penasaran," kata Raka dia mempererat pelukannya. Hingga Naya tidak bisa gerak sama sekali.
"Tapi mas nyebelin...." Jawab Naya, membuat Raka menatapnya kesal dan dengan cepat Naya melepaskan dirinya dari pelukan Raka.
Naya berlari masuk ke dalam kamar mandi, Raka hanya tersenyum simpul.
"Apakah aku begitu menyebalkan?" Batin Raka dalam hatinya.
Raka melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 7 pagi, betapa lupanya Raka kalau hari ini ada meeting bersama Rio.
Raka terlihat gusar, jika dia menunggu Naya mandi maka dia akan terlambat. Akhirnya Raka mandi di kamar mandi lain, dia mandi dengan cepat dan buru-buru bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sedangkan Naya masih mandi, mungkin Naya sedang berendam jadi lama.
Akhirnya Raka langsung berangkat dulu tanpa sarapan lebih dulu, Raka menulis pesan di selembar kertas kecil, lalu menaruhnya di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Sayang, mas berangkat ke kantor. Mas buru-buru karena hari ini ada meeting."
Itulah isi kertas kecil yang Raka tinggalkan untuk Naya. Raka langsung keluar dari dalam kamar, dia buru-buru menaiki mobilnya dengan cepat agar tidak terlambat sampai di kantor.
__ADS_1
Naya yang baru saja selesai mandi, dia terlihat kebingungan mencari sosok suaminya yang sudah tidak ada di atas ranjang tempat tidur.
Lalu dia melihat ada kertas kecil dan membacanya, "Ternyata Mas Raka sudah berangkat ke kantor," gumam Naya.
Karena suaminya sudah berangkat ke kantor, akhirnya Naya melanjutkan tidurnya lagian tidak ada pekerjaan juga. Jadi Naya pagi ini bisa lebih lama untuk tidur.
*****
Di kantor Raka, dia sudah bertemu dengan Rio tatapan Raka begitu tidak suka pada Rio apalagi mengingat di acara kantor semalam, Rio menatap Naya dengan tatapan yang begitu menjijikkan menurut Raka.
"Selamat pagi Pak Rak, bagaimana kehidupan anda dengan daun muda anda?" Tanya Rio, kini Raka menatap Rio dengan tatapan garang.
"Maaf kita sedang meeting, jadi cukup bahas masalah pekerjaan saja!" Tegas Raka, dia tidak mau kalau istrinya sampai jadi perbincangan.
Rio mendengus kesal, menurut Rio mantan sahabatnya ini begitu sombong.
"Baiklah, tapi aku tertarik dengan daun muda yang kamu miliki," tutur Rio membuat Raka merasa kesal, kini tatapan Raka semakin garang, tangannya sudah mengepal sempurna ingin sekali menj*t*s Rio.
"Jaga ucapanmu, mungkin aku merelakan Elina untuk kamu. Tapi kalau Naya, jangan harap aku akan memberikannya padamu!" Tandas Raka, dia tidak akan membiarkan Rio mengusik rumah tangganya lagi untuk kedua kalinya.
Rio senyam-senyum, kini senyumnya itu penuh banyak arti. Dalam hatinya, dia selalu ingin bisa memiliki apa yang Raka miliki.
"Aku tidak peduli, tapi jika kamu sampai menyentuh Naya. Aku pastikan kamu akan hancur seketika, dan aku pastikan perusahaan kamu akan bangkrut," ancam Raka dengan tegas.
Rio malah tersenyum, kini dia menatap Raka dengan raut wajah meremehkan Raja. Tawanya di sudut bibirnya, seolah-olah dia itu bisa menang dari Raka.
"Tidak masalah, yang penting aku bisa menikmati tubuh mulus daun muda kamu," kata Rio dan Raka langsung menj*t*s Rio, hingga Rio tersungkur.
Kini Rio menyentuh sudut bibirnya yang sudah berdarah karena pukulan keras dari Raka, mata Rio kembali menajam menatap Raka.
"Dasar br*ng*k," gumam Rio.
"Sekali lagi aku ingatkan, jangan pernah ganggu aku dan istriku. Kita hanya rekan bisnis," tandas Raka kini dia ingin kembali memukul, tapi tiba-tiba tangan kekar Reza menahannya.
"Bos ada apa ini?" Tanya Reza, kini dia menahan tangan Raka agar tidak kembali memukul Rio.
"Panggil satpam Za, suruh bawa b*j*ng*n ini keluar dari kantorku!" Kata Raka, dan Reza langsung melaksanakan perintah dari Raka.
__ADS_1
Dua satpam datang, kini mereka langsung menyeret Rio keluar dari ruangan meeting itu.
"Lepaskan, saya bisa keluar sendiri!" Bentak Rio, dia mendorong kedua satpam itu dengan kasar.
Raka duduk di kursi, raut wajahnya masih terlihat kesal. Reza duduk di kursi sebelah Raka, kini tatapan Reza begitu bingung karena tadi pas kejadian dia sedang berada di luar tempat meeting.
"Ada apa bos?" Tanya Reza, terlihat kawatir pada Raka.
"Tidak ada apa-apa Za, kamu urus semua pekerjaan ya. Aku mau pulang aku kawatir dengan Naya," jawab Raka dan Raka buru-buru keluar dari dalam ruang meeting.
Reza hanya mengangguk, dia melihat Raka buru-buru sebenarnya dia juga takut terjadi sesuatu pada Naya. Tapi Reza tidak bisa apa-apa, karena Naya juga sudah punya suami.
Raka langsung melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, sesampainya di rumah Raka melihat seorang laki-laki sedang mengobrol dengan Naya di halaman rumah.
Mata Raka membulat sempurna, tangannya mengepal menahan amarahnya yang gini sudah menyelimuti hati dan perasaannya.
"Maaf, Mas Raka nya sudah berangkat ke kantor dari tadi pagi." Kata Naya, pada laki-laki yang ada di hadapannya ini.
...Laki-laki hanya tersenyum, dia menatap Naya dengan tatapan mesum membuat Naya merasa takut dan tidak nyaman, kini Naya agak menjauh dari tempat orang itu berdiri....
..."Bukankah ini laki-laki yang semalam ada di pesta," batin Naya dalam hatinya. Naya terus mengingat-ingat siapa laki-laki yang ada di hadapannya saat ini?...
"Nona kecil, saya kesini bukan mencari Raka tapi saya mencari kamu," katanya dengan tatapan begitu mesum.
Naya ternganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Maaf, saya permisi!" Naya hendak masuk ke dalam rumahnya, tapi tangan kekar laki-laki itu menahan tangan Naya.
Raka begitu marah. "Lepaskan tangan istriku!" Sentak Raka dengan nada menggema.
"Berani sekali kamu menganggu istriku," Raka terus menatap tajam laki-laki itu.
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🤗
Buat yang menunggu kelanjutan cerita ini mohon maaf ya, dari kemarin sudah update tapi masih di review terus, nanti hari Senin mau saya tanyakan pada adminnya. 🙏
__ADS_1
Tidak tahu dari kemarin statusnya untuk bab 48 dan 49 seperti ini terus 🙏