Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Calon istriku penjual kue


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, seperti pagi biasanya Naya bangun dari pagi sekali untuk membantu mamanya menyiapkan kue-kue yang akan di jual oleh dirinya.


"Hey, kamu anak sialan!" panggil Ratih, yang tidak pernah menyebut nama Naya dengan benar.


"Iya ma, kenapa?" Tanya Naya dengan sopan, walaupun hatinya merasa sakit dan ingin sekali merasakan kasih sayang dari mamanya tapi itu hanya mimpi karena sampai sekarang sang mama tidak pernah menyayanginya.


Ratih menatap Naya dengan tatapan tidak suka, matanya terlihat begitu membenci Naya bahkan tersenyum pada Naya. Ratih saja tidak pernah melakukannya.


"Calon suamimu nanti kan orang kaya, pasti jatah bulanan kamu gede tuh. Setidaknya jangan lupa dengan saya yang sudah mau membesarkan kamu selama ini," kata Ratih agak membentak.


"Maaf ma, kalau masalah itu Naya tidak tahu. Bukannya mama sudah meminta jatah bulanan dari Mas Raka?" Sahut Naya, dalam hatinya Naya sangat kesal tapi Naya tidak berani melawan sang mama.


"Dasar kamu ini kebanyakan jawab!" Sentak Ratih dan Naya hanya menunduk karena takut.


Ratih ini begitu serakah padahal setelah Naya dan Raka menikah. Ratih akan mendapatkan jatah bulanan dari Raka setiap bulan 20 juta, tapi dia masih saja meminta sama Naya.


"Sekarang, bawa kue-kue jualan ini karena aku males sekali melihat wajahmu!" Ratih menatap Naya dengan tatapan kesal, bisa-bisanya anak sialan ini membantah apa yang aku katakan.


Naya hanya menuruti apa kata mamanya, dia buru-buru pergi untuk berjualan.


Seperti pagi biasanya Naya terus berkeliling komplek berharap kue-kue jualannya habis.


"Menikah adalah pilihan yang tepat Naya, jika kamu terus hidup di rumah orang tuamu. Maka selamanya kamu tidak akan bahagia." Kata hati Naya bicara.


Naya berhenti sejenak rasanya sudah lelah berkeliling dan berteriak berharap ada yang membeli dagangannya, tapi pagi ini begitu sepi kue-kue Naya saja masih utuh.


"Iya aku akan menikah, jika aku menikah pasti aku tidak di siksa mama lagi."

__ADS_1


"Terimakasih, karena sudah menghadirkan Mas Raka dalam hidupku. Aku tahu, aku belum bisa mencintainya tapi aku akan belajar mencintai Mas Raka ketika aku sudah sah menjadi istrinya nanti."


Naya berbicara sendiri, ternyata Raka dari tadi sudah berdiri di hadapan Naya hanya saja Naya tidak melihatnya karena Naya terlalu asik dengan hatinya.


"Sudah selesai bicara, apa perlu mas ajarkan bagaimana cara mencintai?" Tanya Raka tiba-tiba, Naya mengangkat wajahnya dia hanya bisa tersenyum malu melihat Raka sudah berdiri sambil melipat kedua tangannya.


"Mas, kapan kamu datang?" Tanya Naya agak malu-malu.


"Beberapa menit yang lalu, kamu sudah sarapan?" Jawab Raka, kini dia duduk di hadapan Naya.


Naya terdiam sambil diam-diam menatap wajah tampan Raka.


"Mas Raka, tampan sekali." Gumam Naya.


"Tidak usah memujiku, calon suamimu ini memang sudah tampan dari lahir." Pekik Raka, membuat wajah Naya berubah menjadi merah seperti kepiting rebus.


Seketika wajah Naya begitu sumringah, yang tadinya tampak sedih karena dagangannya masih utuh kini rasa sedih itu menjadi rasa bahagia yang nyata.


Raka langsung mengajak Naya masuk ke dalam mobil, dagangan Naya juga di bawa oleh Raja.


Biarpun Raka laki-laki kaya dan terpandang, tapi Raka tidak mau punya calon istri tukang jualan kue keliling.


Kini mereka sudah sama-sama masuk ke dalam mobil dan Raka melajukan mobilnya ke sebuah restoran.


Pagi ini mereka sarapan bersama dengan begitu bahagia.


"Setelah kita menikah, nanti kamu yang masak buat mas ya! Mas bosen makan di luar terus," kata Raka membuat Naya hampir tersedak.

__ADS_1


"Pelan-pelan makannya, mas tidak meminta makananmu!" Raka menyodorkan segelas air putih buat Naya.


Naya meminum air putih itu. "Mas, tapi kalau masakan Naya tidak bagaimana?" Tanya Naya ragu-ragu.


"Tidak apa-apa, mas akan tetap memakannya." Jawab Raka sambil tersenyum.


Mereka kembali melanjutkan makan mereka yang tertunda karena mengobrol.


"Oh iya, setelah sarapan mas mau ajak kamu ke suatu tempat." Kata Raka, membuat Naya berpikir.


"Mas Raka, mau mengajakku kemana?" Batinnya dalam hatinya.


"Tapi mas, nanti mama marah." Kata Naya dengan nada lembut.


"Itu urusan mas," Raka meyakinkan Naya.


Naya mengangguk pelan, diam-diam Naya mencuri-curi pandang pada Raka.


"Bersama Mas Raka, aku seperti anak kecil yang sedang di bimbing olehnya. Dia juga sangat sabar." Puji Naya dalam hatinya.


"Baiklah mas, tapi mas mau mengajak aku kemana?" Tanya Naya merasa penasaran.


"Nanti kamu akan tahu," jawab Raka sambil tersenyum penuh arti.


Entah Raka itu mau mengajak Naya kemana?


BERSAMBUNG 🤗

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 🙏


__ADS_2