
Raka menghentikan langkah kakinya, lalu melihat laki-laki itu.
"Kamu....."
Raka menghentikan langkah kakinya karena melihat Evan.
"Sedang apa kamu disini?" Tanya Evan, matanya terus melihat Raka dari ujung kaki sampai kepala.
Kali ini Evan sudah seperti melihat hantu saja, tapi Evan juga merasa penasaran untuk apa? Laki-laki yang ada di hadapannya ini datang ke rumahnya lagi?
"Bisa, kita ngobrol sebentar?" Tanya Raka pada Evan.
"Tentu, tapi sebaiknya kita mencari tempat ngopi saja biar enak ngobrolnya," ajak Evan. Dia tahu jika mereka mengobrol disitu pasti Ratih tidak akan tinggal diam saja.
Mereka berdua langsung sama-sama masuk ke dalam mobil mereka masing-masing, Raka mengikuti mobil Evan di belakang Evan.
Sesampainya di sebuah cafe xx, Evan menghentikan mobilnya, Raka juga melakukan hal yang sama seperti Evan.
Kini mereka sama-sama masuk ke dalam cafe, keduanya sama-sama duduk lalu mereka saling berjabat tangan.
"Kenalkan saya Evan, kakaknya Naya." Evan memperkenalkan dirinya pada Raka.
"Saya Raka, calon suaminya Naya," jawab Raka dengan tegas.
Evan ternganga dengan apa yang dia dengar? Calon suaminya Naya, tapi Evan juga bahagia jika memang laki-laki yang ada di hadapannya saat ini adalah calon suaminy adiknya.
Sebelum melanjutkan obrolan mereka, Evan memesan kopi dan cemilan untuk mereka berdua.
Pesanan mereka pun datang, Evan dan Raka sama-sama meminum kopinya.
"Katakan padaku, kenapa kamu ingin menikahi Naya?" Tanya Evan dengan tegas, sebagai seorang kakak, Evan tidak mau kalau Naya sampai terluka.
"Karena aku menyukainya, aku juga ingin menjadikan Naya sebagai istriku." Jawab Raka di matanya tidak ada keraguan sama sekali.
"Naya adalah adikku, aku sangat menyayanginya. Jika kamu sungguh menyukainya aku mohon jagalah dia dengan baik, jangan pernah menyakiti hatinya!" Evan menatap Raka dengan tatapan tegas.
Raka tersenyum, dia tahu kalau Evan sangat menyayangi Naya kelihatan dari sorot mata Evan yang begitu tulus.
__ADS_1
"Aku janji, aku tidak tidak akan menyakiti dia aku akan menjaganya dengan baik." Jawab Raka dengan tegas, Raka tidak pernah main-main dalam masalah penemuan.
Bagi Raka perempuan adalah wanita yang harus di hargai dan di hormati.
"Terimakasih Raka, mulai sekarang panggillah aku kakak ipar!" Evan tersenyum tipis, tapi Raka sejenak berpikir.
"Haruskah aku memanggilmu kakak ipar?" Raka tidak percaya, biar bagaimanapun usia Raka dan Evan itu tuaan Raka.
"Bukankah kamu mau menikahi adikku dan tentunya aku ini akan menjadi calon kakak iparmu?" Evan kembali tersenyum, membuat Raka hanya mengangguk pelan.
"Baiklah kakak ipar!" Raka akhirnya tertawa kecil.
Tapi biarpun usia Raka lebih tua dari Evan, tapi mereka terlihat seumuran Raka juga terlihat masih muda apalagi wajahnya yang tampan membuat orang mengira kalau Raka itu belum tua dan masih terlihat muda.
"Bagus, lanjutkan minum kopinya!"
Mereka kembali menikmati kopinya bersama-sama, biarpun mereka baru kenal tapi mereka terlihat begitu akrab.
"Kapan, kalian akan menikah?"
"Rencananya secepatnya, nanti aku akan urus semuanya dulu."
"Baiklah, aku minta tolong sama kamu jaga Naya dengan baik!"
"Iya, aku pasti akan menjaganya."
Tiba-tiba ponsel Raka berbunyi dan itu adalah telpon dari Reza.
"Hallo,"
"Bos, ke kantor sekarang!"
"Ada apa? Aku sedang diluar,"
"Ada Nyonya Elina, dia mencari anda."
Raka menghela nafas pelan, mau apalagi Elina datang mencarinya?
__ADS_1
"Baiklah, aku akan ke kantor sekarang."
Raka mematikan saluran teleponnya, raut wajahnya juga terlihat gusar.
Reza menatap Elina dengan tatapan tidak suka, tapi Reza juga tidak mau berurusan dengan wanita yang sudah menyakiti hati bosnya itu.
"Kak, aku pergi dulu ya. Ada urusan di kantor," Raka buru-buru pergi, Evan menatapnya bingung ada apa?
"Hati-hatilah di jalan!" Teriaknya.
Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Mau apalagi Elina datang mencariku?"
"Bukankah semuanya sudah aku berikan, rumah, mobil, tapi dia datang lagi."
Sesampainya di kantor, Raka langsung masuk ke dalam ruangannya karena Elina sudah menunggu di dalam ruangannya.
Raka membuka pintu ruangan dengan kasar, Elina tersenyum melihat kedatangan Raka.
"Mas Raka," sapanya dengan lembut.
"Mau apalagi kamu datang mencariku?"
Raka terlihat marah, tatapannya begitu jijik pada Elina. Apalagi mengingat kejadian dulu rasanya pingin muntah sekali.
"Mas, duduklah dulu!" Pintanya dengan lembut.
Raka duduk dengan kasar di kursi kerjanya.
"Katakan ada apa?!" Tanya Raka agak menyentak.
Elina mengatur nafasnya, biarpun dia tahu raut wajah Raka tidak suka karena kedatangan dirinya tiba-tiba. Tapi mau bagaimana lagi? Saat ini Elina sedang butuh Raka jadi dia datang pada Raka Kumara.
"Mas....."
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊