Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Sandiwara Pagi Hari


__ADS_3

Pagi harinya, di tempat kediaman tuan tajir.


Brahma, Bagas, dan yang lainnya tengah duduk di meja makan untuk sarapan pagi ini. Kedua wanita yang membenci Rania itu, yang biasa melayangkan tatapan penuh kebencian, hari ini, di meja makan, mereka berubah tiga ratus enam puluh derajat dan kebalikan dari biasanya.


Hera dan terutama Arsilla yang begitu membenci adik iparnya itu, kini menyapanya dengan hangat.


"Selamat pagi, adik iparku!" sapa Arsilla di ikuti dengan senyuman di tujukan pada Rania, begitupun dengan Hera yang melakukan hal yang sama.


Eh, apa aku tidak salah mendengarnya? Apa barusan, kakak ipar menyapaku dan memanggilku dengan sebutan adik ipar? Bukankah dia begitu membenciku, lantas apa yang baru saja dia lakukan? Huh, mungkin dia salah minum obat. Tapi tunggu, kenapa tante Hera juga ikut-ikutan? Aaaa, apa yang terjadi dengan kejiwaan mereka?


"Selamat pagi kembali, kakak ipar, tante Hera!" sahut Rania tak kalah manisnya.


Bagas dan Brahma di buat bingung oleh percakapan antara putri dan menantunya. Walaupun Brahma tidak mengetahui persis bagaimana hubungan antara mereka, tapi Brahma baru saja menemukan ketidak biasaan di pagi ini. Ya meskipun waktu awal Brahma juga tahu kalau Arsilla itu pernah menunjukkan ketidak sukaannya itu pada Rania.


Bagas mearasakan ada hal aneh di balik sikap ramah kakak dan tantenya. Bagas tahu betul sikap asli kakaknya yang begitu membenci istrinya itu.


"Biarkan aku yang membuatkan sarapan pagi ini untukmu, adik iparku!" Arsilla bersiap meraih sepotong roti yang ada di meja makan itu. Tapi Rania menolak karena masih bisa membuatnya sendiri.


"Tidak perlu, kakak ipar! Aku bisa melakukannya sendiri!" Rania mengambil roti yang mau Arsilla ambil barusan.


"Ya sudah, yang paling penting aku sudah berniat baik untuk membuatkanmu sarapan pagi ini!"


"Terima kasih banyak kakak ipar atas niat baikmu!" ucapnya sambil mengoles roti menggunakan cokelat untuk suaminya.


"Lain kali kau tidak boleh menolak niat baik seseorang, Rania!" sahut Hera juga sedang mengoles rotinya menggunakan selai nanas.


"Iya, tante. Terima kasih!"


Rania menatap kakak ipar dan tante Hera bergantian, mereka betul-betul berubah dan hari ini seperti hidup kembali dengan sifat kebalikan hari sebelumnya.

__ADS_1


Aku tidak boleh percaya begitu saja dengan kebaikan mereka. Aku tahu betul siapa kalian, bukan niat baik yang sebenarnya akan kalian beri. Bisa saja niat paling buruk, setelah semalaman kalian menghilang entah kemana. Aku harap kalian di telan bumi, tapi harapan itu aku urungkan saja karena aku tidak sejahat kalian yang mendoa'akan orang menggunakan kalimat buruk.


"Tante Hera, kakak, apa aku boleh tanya sesuatu?" Bagas mulai ikut bicara setelah sekian lama ia memilih diam dan mendengarkan saja.


"Tanyakan saja, tidak usah sungkan!" sahut Hera.


Bagas menerima roti dari tangan Rania yang baru saja selesai di olesi cokelat.


"Terima kasih, sayang!" menggigit rotinya kemudian.


"Iya"


"Sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan, tapi mungkin satu pertanyaan saja dapat mewakili semuanya" Bagas berusaha menelan roti yang baru saja di kunyahnya, kemudian lanjut bicara, "tadi malam, saat aku dan istriku tiba di rumah, kakak dan tante Hera kemana?"


Pertanyaan Bagas barusan membuat Arsilla dan Hera saling menatap sekilas.


"Ta-tadi malam kakak ada, kakak mungkin sudah tidur ketika kalian pulang" jawabnya terbata-bata, nafasnya terlihat mulai tidak beraturan.


"Benarkah?"


"Iya Bagas, apa kau tidak mempercayai kami?"


"Iya, aku percaya" jawabnya sambil tersenyum.


Hera dan Arsilla sama-sama menghembuskan nafas panjang, merasa lega karena Bagas sama sekali tidak mencurigainya.


"Aku percaya kalau kakak dan tante itu membohongiku!" lanjut Bagas, membuat kedua wanita itu terlihat panik tapi segera di minimalisir.


"Maksudnya apa, Bagas?" Brahma-pun ikut angkat bicara dan menaruh sejenak roti yang sedang di nikmatinya.

__ADS_1


"Pah, semalam aku tanya pada pelayan di sini. Kenapa kakak dan tante Hera tidak ikut menyambut kepulanganku dengan Rania? Mereka memberitahuku kalau kakak dan tante Hera tidak ada di kamarnya. Kakak dan tante Heta tidak ada di kamar tadi malam" jelas Bagas setelah menaruh roti di tangannya.


Deggg..


Wajah Arsilla dan Hera berubah panik, tidak tahu mereka akan menjawab apa? Bagas menatap mereka tajam, seolah Bagas sudah menyekak mati dirinya di depan Brahma.


Ya ampun, kenapa aturan makan di rumah ini juga ikut berubah. Aturan makan di sini tidak boleh bicara sebelum selesai seharusnya, kenapa sekarang malah berubah menjadi keributan.


Sementara Rania tidak ikut-ikutan, ia memilih diam saja seolah tidak tahu apa-apa. Karena semalam-pun ketika Bagas berbicara dengan para pelayan, ia tidak begitu mendengarnya dengan jelas. Hanya samar, karena Rania sudah di kuasai rasa kantuk tadi malam.


Selain diam, Rania memilih menonton saja. Sepertinya ini akan lebih seru dari drakor favirit yang biasa ia tonton ketika menemukan waktu senggang. Tidak mau ikut campur, cukup Bagas saja.


Tanpa di ketahui, beberapa pelayan di sana juga ada yang ikut mengintip dari balik dinding di kejauhan. Menonton sebuah pertunjukan yang tidak biasa secara langsung. Namun bi Asih mengejutkan mereka dengan menepuk bahunya dari belakang. Memberi kode agar mereka kembali saja ke dapur untuk melaksanakan tugas masing-masing. Sementara bi Asih sendiri malah menggantikan posisi pelayan yang tadi, ia juga merasa penasaran dan akhirnya memilih mengintip seperti yang di lakukan pelayan tadi. Konyol.


Arsilla dan Hera kembali saling menginjak kaki di bawah meja, memberikan kode jawaban apa yang akan mereka katakan. Alasan apa yang harus di berikan. Entahlah, itu semua berlangsung di bawah meja mereka, biarkan kaki mereka saja yang berbicara. Di suasana sedang genting seperti itu, genting bagi Arsilla dan Hera, tapi mereka nasih sempat-sempatnya saling menginjakan kaki yang terus berlanjut.


Keheningan mulai menyelinap di ruang makan, hanya ada tatapan tajam dan bibir yang mendadak membisu, terkunci, bukan tidak bicara, tapi memang tidak mau bicara, tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Karena memberi jawaban dan alasan lainpun rasanya sudah tidak mampu, pikiran sudah kacau untuk memikirkan hal itu.


Ayolah, katakan sesuatu hei kakak iparku, dan tante Heraku yang paling jahat! Jangan berdiam diri seperti ini, semua sudah menunggu jawaban kalian! Hei, bicaralah! Seru Rania dalam hati sudah tidak sabar.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Kalau suka tinggalkan like, komentar, tambahkan juga ke favorit! VOTE sebanyak-banyaknya, yaaa! See you next chapter


__ADS_2