Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Pekerja yang Kepo


__ADS_3

Di sebuah gedung Briliant Group, ruang pribadi Bagas. Di sana, Bagas dan Brahma sedang duduk di sofa, ada sekretaris Frans juga berdiri di samping Bagas. Mereka sedang berbincang-bincang mengenai proyek ruko terbesar di Indonesia yang tak kunjung selesai.


"Jadi bagaimana, apakah sampai saat ini proyek kita masih berjalan?" tanya Brahma setelah meneguk kopi yang ada di meja.


"Masih, hanya saja waktu itu sempat terhenti"


"Kenapa?" Brahma mengernyitkan dahinya, ia tidak tahu soal bawahan Bagas yang korupsi. Karena semuanya mengenai perusahaan Bagas yang mengambil alih.


"Ada masalah sedikit. Tapi papah tenang saja, sekitar satu bulan lagi proyek kita akan selesai!" jawab Bagas kemudian mengambil gelas berisi kopi di meja.


"Ya, memang harus segera selesai!" Brahma mengangguk-anggukan kepala, wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu. Seperti sedang mengingat-ingat sesuatu juga.


"Sepertinya kita harus segera menyiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan tamu kita!" Brahma berbicara lagi setelah beberapa menit berpikir.


"Memangnya kapan dia datang, pah?"


"Minggu depan. Kita harus menyiapkannya mulai dari sekarang, buat pesta semeriah mungkin!" ujar Brahma


"Baik. Nanti aku yang urus semuanya, pah"


"Bagus!"


Tidak ada lagi pembicaraan antara ayah dan anak, kemudian mereka berdua saling menyeruput kopi masing-masing. Sementara sekretaris Frans masih duduk tegap di sana, di samping tuannya.


*****


"Alhamdulillaah, hari ini kita dapat orderan banyak. Siapa tahu kita akan dapat bonus dari bu Rania" ujar salah seorang pekerja di ruko Rania, dengan tangan masih mengemas barang.


"Iya, bu Rania kan orangnya baik" sahut pekerja lain di sana.


Kemudian datang bos mereka, lalu menghampirinya.


"Maaf ya saya terlambat! Tadi saya ada urusan sebentar" ucap Rania kepada para pekerjanya.


"Iya, bu. Tidak apa-apa!" sahut mereka.


Lalu Rania ikut duduk di lantai, melihat banyak barang yang sudah mereka kemas. Mulai dari ukuran kecil hingga besar sekalipun.


"Wah, hari ini lagi banyak orderan, ya?" kata Rania ketika melihat barang yang sudah mereka kemas itu banyak. Menumpuk.


"He he. Iya, bu, alhamdulillaah"


"Kalau begitu kalian juga bisa dapat bonus hari ini!" kalimat Rania barusan membuat mereka senang.


"Alhamdulillaah, terima kasih, ya, bu" ucap mereka dengan bibir tidak luput dari senyum yang mengembang.


"Iya, kalian berhak mendapatkannya!"


"Ibu baik banget, deh. Aku do'ain semoga ibu cepat dapet jodoh!" ucap salah satu pekerja Rania kemudian di aminkan oleh pekerja lainnya juga.

__ADS_1


Mendengar mereka ngomong begitu, Rania jadi tertawa kecil. Pekerjanya memang tidak tahu kalau ia sudah bersuami.


"Ibu kenapa ketawa?" tanya pekerja yang mendo'akan agar Rania dapat jodoh itu.


"Saya sudah menikah, dan saya sudah mempunyai suami"


Mereka langsung menutup mulutnya masing-masing. Merasa malu dan sedikit bersalah, karena tidak tahu kalau bosnya ternyata sudah menikah. Mereka memang tidak pernah banyak ngobrol tentang kepribadian, yang mereka obrolkan biasanya hanya seputar pekerjaan saja.


"Aduh.. Maaf ya, bu. Aku tidak tahu!" mereka menelungkupkan tangannya, seperti seorang rakyat yang sedang memohon kepada ratunya.


"Tidak apa-apa! Santai saja!" ucapnya.


"Ibu menikah muda?" tanya mereka semakin tertarik dengan kepribadian bosnya. Terutama masalah jodohnya.


"Heem.." Rania hanya menganggukan kepala.


"Sudah lama, ya, bu?"


"Belum terlalu"


"Oh, aku pikir ibu belum menikah. Kelihatan masih gadis remaja gitu, cantik!" pujinya.


"Terima kasih. Kalian juga tidak kalah cantik"


"He he. Ibu bisa saja" wajah mereka terlihat malu-malu.


"Memangnya kenapa kalau saya belum menikah?"


"Em.. Sebetulnya... Tapi ibu jangan marah, ya?"


"Memangnya kenapa? Katakan!" Rania penasaran.


"Kita lihat, ibu kan cantik. Terus.. Kita sependapat kalau ibu cocok banget sama pak Reyhan" jawab salah satu pekerja dengan cepat menggigit bibir bawahnya, seperti sedang menahan tubuhnya, tentang apa yang dia katakan barusan.


Rania tersenyum, jadi mereka pikir selama ini kedekatan dirinya dengan Reyhan itu ada hal lain. Padahal hanya sebatas rekan bisnis dan juga teman curhat.


"Kalian ada-ada saja, deh"


"Ibu tidak marah, kan?"


"Untuk apa saya marah?" jawaban Rania membuat mereka merasa lega, karena telah mengeluarkan pendapatnya yang satu pemikiran itu.


"Bu.." panggil salah seorang dari mereka.


"Iya"


"Nama suami ibu siapa?" mereka memang bukan hanya tertarik dengan masalah pribadi bosnya, lebih dari itu mereka juga super kepo.


"Bagas" jawab Rania datar.

__ADS_1


"Hem.. Kayak nama tuan tajir yang tampan itu" sahut mereka.


"Yang mana?" tanya salah satu dari mereka.


"Itu, lo, pemilik perusahaan Briliant Group, yang sedang membangun ruko terbesar di Indonesia dekat sini" jawabnya.


Rania hanya senyum, ternyata suaminya se-viral itu. Sampai hampir se-Indonesia tahu tentang dirinya. Bukan hanya Indonesia, se-ASIA lah bisa.


"Sepertinya kalian tahu suami saya" ucap Rania.


"Yang mana, bu?"


"Yang sedang kalian bicarakan!"


Mereka langsung melongo, ada yang teriak histeris, ketika mengetahui suami bosnya ternya seorang tuan tajir melintir, yang di kenal sangat tampan juga. Mereka seakan di buat tidak percaya, dengan apa yang barusan mereka dengar. Mulai dari bosnya yang sudah menikah padahal masih sangat muda, sampai suami bosnya yang super kaya itu.


"Beneran, bu?"


"Untuk apa saya mengada-ada?!"


"Waw, ibu hebat sekali ternyata. Lalu kenapa ibu masih memilih usaha? Padahal ibu sudah memiliki segalanya"


"Bukannya saya tidak bersyukur dan tidak merasa cukup, hanya saja saya tidak ingin hidup hanya dengan menikmati hasil suami. Nanti, saya takutnya di kira numpang doang" tutur Rania, tidak boleh seorangpun tahu alasan sebenarnya dia usaha kecil-kecilan, memang pada waktu itu Bagas belum berubah.


"Oh, aku bangga dan salut punya bos seperti ibu" kata mereka.


"Sudah, tidak perlu berlebihan. Saya hanya manusia biasa yang sedang mengikuti takdir aya. Sekarang kalian bereskan dulu semuanya, saya mau keluar sebentar!"


"Baik, bu" para pekerja mengangguk mengerti.


Setelah Rania beranjak dari sana, mereka tidak habis-habisnya membicarakan tentang betapa beruntungnya menjadi bosnya. Mereka berpikir seandainya berada di posisi bosnya itu, mereka pasti tidak akan bersusah payah bekerja lagi. Di pikiran mereka hanya ada, shopping, makan-makan, ngafe, jalan-jalan keluar negeri, dan hal lain.


.


.


.


.


.


.


.


Hallo readers setia TUAN TAJIR yang manis-manis, saya akan menyampaikan permintamaafan saya kepada kalian semua, karena kemarin tidak bisa update, ada urusan yang membuat saya tidak sempat membuat naskah. Semoga mengerti!


Like, vote menggunakan poin ataupun koin.

__ADS_1


Tambahkan ke favorit, ya!


__ADS_2