Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Nomer hp Diva


__ADS_3

Hari ini Bagas dan Rania sibuk sekali. Kalau bisa, usahakan baca sibuknya yang panjang, ya! Hehe. Hari ini mereka jadi untuk menempati rumah baru mereka. Rumah ketika sekretaris Frans salah sambung dengan wanita bayaran itu kini telah resmi menjadi rumah Bagas. Jangan tanya soal harga rumah itu berapa, ya! Kalau saya kasih tahu kalian bisa mendadak asma, serangan jantung, kejang-kejang dan menyebabkan iri dengki. Haha.


Dari luar saja, rumah itu sudah terlihat nyaman untuk di tempati. Udaranya yang segar membuatnya akan betah jika tinggal di rumah ini. Kalau gak betah mah gampang, jual lagi aja. Terus beli yang baru, sultan mah bebas ya guys.


Tunggu, ternyata ada yang terlihat sibuk lagi daripada Bagas dan Rania. Yaitu sekretaris Frans yang kewalahan menarik dua koper berukuran besar sekaligus. Kalau bukan karena sebuah tugas dalam pekerjaan dan tentunya di bayar dengan gaji yang tidak bisa saya sebutkan, mungkin sekretaris Frans akan malas juga.


Tidak terlalu banyak barang bawaan yang mereka bawa ke rumah barunya. Mungkin hanya barang bawaan pribadi yang penting-penting saja. Karena di rumah barunya pun sudah ada barang berharga lainnya yang sudah lengkap. Tinggal mau menempatinya saja, kalau gak mau nempatin mah buat kalian aja, deh. Silahkan ambil! Serius.


Rania mengedarkan matanya ke seluruh sudut rumah begitu pintu di bukakan dan ia langsung saja masuk bersamaan dengan Bagas.


"Masya Allah, bagus sekali rumahnya!" puji Rania tak lupa dengan mengucap syukur pada Tuhan yang telah memberinya nikmat.


"Suka?" tanya Bagas yang berdiri di sampingnya.


"Lebih dari kata suka," balas Rania tak memalingkan pandangannya.


"Rumah ini tidak sebesar rumah yang kita tempati dengan papa, tidak juga dengan pelayan yang begitu banyak seperti di sana. Tidak apa-apa, kan?" Bagas merengkuh bahu istrinya, Rania mendongakkan wajah dan memberi suaminya seulas senyum.


"Tidak masalah. Besar atau kecilnya rumah, mewah atau sederhana, yang penting bisa kita tempati. Terhindar dari panasnya matahari dan bisa menjadi tempat kita berteduh di kala hujan datang," ucap Rania bijak. Bagas jadi terharu sekaligus bahagia di beri istri sebaik Rania.


"Iya, sayang! Kau benar-benar istri yang luar biasa," pujinya, kemudian mengecup kening sang istri.


Bagas membungkukan tubuhnya, agar ia bisa berdiri sejajar dengan perut sang istri. "Calon anak papa, baik-baik ya di dalam perut. Hari ini papa dan mama tinggal di rumah baru. Cepat lahir di dunia, sayang! Papa sudah tidak sabar menunggu kehadiranmu!" Bagas mengelus perut istrinya dan membenamkn wajah di sana. Ia juga menempelkan sebelah telinganya, untuk mendengar apakah si jabang bayi merespon ucapannya.


Dengan rasa sabar Bagas menunggu si jabang bayinya ini merespon. Sampai akhirnya ia mendengar ada suara dari perut istrinya.


Krubuk..krubuk..


Bagas segera mengangkat telinganya dari sana, dan memandang perut sang istri. "Sayang, barusan anak kita berbicara!" ujarnya dengan wajah senang.

__ADS_1


Rania tersenyum. "Iya, dia mengatakan kalau dia lapar," sahutnya.


"Huh, kalau kamu lapar, bilang, dong! Jangan menjual nama calon anakku!" Bagas bangkit berdiri dan menyubit gemas pipi sang istri.


"Hehe, habisnya kau tidak peka, sih. Bumil itu gampang lapar, mana tadi kita tidak sempat sarapan dulu, lagi!" omel Rania. Maklum, bumil itu gampang banget emosi.


"Ya sudah. Aku beli makanan dulu. Kau istirahat saja di kamar sebelah sana, ya!" Bagas menunjuk ke kamar yang tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini. "Kamar kita sekarang di bawah, kasihan kalau kau harus naik turun tangga setiap hari."


Rania mengangguk mengerti, suaminya ini begitu perhatian. "Iya, cepat pergi atau calon anak kita akan menangis di dalam perut?!" ancam Rania.


"Iya, sayang. Aku pergi dulu, ya," mengecu pangkal rambut kemudian.


"Frans, masukkan koper itu ke kamar saya, ya! Ini kuncinya," Bagas melempar kunci yang ia rogoh di sakunya pada sekretaris Frans yang sedari tadi ada di belakangnya. "Nanti jangan lupa jemput beberapa pelayan di rumah papa untuk tinggal bersamaku!"


"Baik, tuan!" sekretaris Frans menerima lemparan kunci itu dengan tangan lihai.


Begitu Bagas pergi, sekretaris Frans bersama Rania masuk ke kamar yang sudah pilihkan Bagas.


"Pergilah, Frans! Terima kasih sudah mau di repotkan!" ucap Rania.


"Sama-sama, nona. Itu sudah menjadi bagian dari tugas saya!" ujar sekreatris Frans sebelum akhirnya dia pergi untuk melakukan tugas selanjutnya.


***


Drrtttt..


Drrtttt..


Suara getar berasal dari ponsel Rania di atas nakas, saat ini ia sedang merapikan pakaian di kopernya untuk di masukkan ke dalam lemari. Lemari sederhana seperti pada umumnya, tidak seperti yang di rumah kemarin yang ukurannya super besar. Rania sama sekali tidak mendengar getaran dari ponselnya. Berulang kali bergetar namun ia tetap saja tidak mendengarnya.

__ADS_1


"Akhirnya selesai juga," ujarnya setelah setelah menata pakaian itu ke dalam lemari.


"Kemana dia, kenapa lama sekali? Kalau aku memiliki penyakit lambung, mungkin sudah mati kelaparan ini," omelnya lagi, mencari sosok suaminya yang tak kunjung datang juga.


"Telpon aja, deh," ia berjalan mendekat ke tempat tidur dan duduk di tepi ranjang.


"Rey, kenapa ada panggilan tak terjawab sebanyak ini? Dia kenapa, ya?" tanyanya setelah mengambil ponselnya dari atas nakas dan ada banyak sekali panggilan tak terjawab.


Rania mencoba menelpon balik Reyhan, siapa tahu penting. Begitu ponsel di dekatkan ke telinga, tidak lama kemudian Reyhan mengangkat panggilannya.


"Halo, Rey. Ada apa? Apa terjadi sesuatu di ruko?" tanya Rania cemas.


"Tidak, Rania. Keadaan di ruko baik-baik saja," balas Reyhan dari seberang sana.


"Oh. Lalu ada apa kamu menelponku berulang kali? Maaf, tadi aku tidak dengar panggilan dari kamu."


"Iya, tidak apa-apa, Rania. Maaf juga kalau aku mengganggumu. Jadi begini, pertama aku minta maaf sama kamu karena hari kemarin aku tidak datang ke ruko karena ada urusan."


"Tidak apa-apa, Rey. Katakan, mengapa tadi kamu menelponku sebanyak itu? Ada apa?" tanya Rania tidak sabar dan semakin penasaran.


"A-aku. Aku mau minta nomer hp temanmu, boleh?" pinta Reyhan gugup.


"Temanku? Maksud kamu Diva?"


"Iya. Boleh?"


"Bo-boleh. Ada apa, ya? Kok tumben?" Rania bingung, dia pikir kemarin Reyhan tidak datang ke ruko karena dia tersinggung dengan ucapannya. Tapi sekarang, dia malah minta nomer Diva padanya.


"Kalau boleh, kamu kirim kontaknya ke WhatsApp aku sekarang, ya! Terima kasih sebelumnya!" ucap Reyhan, belum sempat Rania membalas ucapannya, namun Reyhan sudah mematikan sambungannya. Karena Rania lama tercengung untuk mencerna perkataan Reyhan.

__ADS_1


Rania tercengung, apa yang baru saja dengar dari Reyhan itu sungguhan. Bukankah Reyhan sendiri yang bilang kalau ia sudah memiliki tunangan dan sama sekali tidak tertarik dengan Diva.


Ada apa ini, ada apa Reyhan? Apa kamu memikirkan baik-baik ucapanku kemarin? Syukurlah kalau begitu. Tapi bagaimana nasib tunanganmu? Apa kamu memiliki tunangan sungguhan? Atau hanya akal-akalan kamu supaya aku tidak mau lagi membahas Diva di depan kamu? Ah entahlah, aku tidak tahu.


__ADS_2