Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Sambutan


__ADS_3

"Sialan! Bagas sudah benar-benar berpihak pada gadis kampungan itu" geram Arsilla ketika sudah berada di dalam kamarnya, berjalan kesana kemari untuk mencari ide selanjutnya setelah memberi berbagai macam alasan yang menurutnya paling masuk di akal.


"Sepertinya kita harus melakukan sesuatu padanya, agar dia jera dan tahu siapa orang yang sedang ia hadapi!" Lanjutnya, kemudian duduk di tepi ranjang yang di sana ada Hera juga.


"Tunggu Silla! kita tidak boleh gegabah juga dalam mengambil keputusan! Kita lihat gadis itu memang kampungan, tapi dia bisa jadi tidak sebodoh yang kita kira. Kita harus pikirkan ini dengan matang, agar semuanya berjalan dengan senestinya" ujar Hera, dan Arsilla sepertinya setuju dengan ucapannya.


Tatapan sengit nampak di mata mereka berdua, bibirnya tak luput dari senyuman liciknya.


***


"Selamat pagi.." sapa Rania berdiri di hadapan orang-orang yang pagi-pagi sudah sibuk mengemas barang.


"Bu Rania...." teriak para pengemas barang tersebut, dan langsung menghentikan aktivitasnya untuk menyambut bosnya dengan memeluk tubuh wanita yang berdiri sambil tersenyum itu.


Rania menurunkan dua paper bag yang ia bawa di tangannya untuk membalas pelukan para pegawainya. Dengan susah payah Rania menahan tubuhnya agar tidak jatuh akibat pegawai yang menghambur memeluknya begitu saja.


"Bu Rania apa kabar?"tanya salah satu dari mereka setelah melepaskan pelukannya.


"Alhamdulillaah baik.." jawabnya sambil tersenyum, merasa senang kalau pegawainya ternyata seperduli itu.


"Ayo bu, masuk!" dua pegawainya menarik masing-masing tangan Rania dan membawanya masuk dan mendudukannya di kursi plastik. Rania juga tidak lupa menarik terlebih dahulu paper bag yang sempat ia taruh di bawah berdirinya tadi.


"Bu, apakah ibu tahu? Sebegitu bahagianya kita melihat ibu kembali lagi ke ruko" kata salah satu pegawai yang sepertinya mewakili perasaan seluruh pegawai lainnya.


"Oh, ya?" merasa tidak percaya, "memangnya kenapa?"


"Kami semua begitu merindukanmu, bu. Kami ingin ibu dan pak Reyhan saja yang menjadi bos kami, tanpa ada orang lain lagi apalagi orang yang baru!" ujar mereka seperti mengungkapkan rasa tidak sukanya pada seseorang.


Apa yang di maksud kalian Diva, ya? Memangnya dia kenapa? Hei, dia temanku. Temanku yang paling aku kenal baik, mengapa kalian seperti tidak menyukainya? Batin Rania.


"Terima kasih, kalian begitu baik pada saya!" ucap Rania merasa senang.


"Ibu juga selalu baik pada kami" balas mereka kemudian memeluk kembali tubuh Rania yang masih duduk.


Aku bangga pada kalian yang bisa baik padaku seperti ini.


"Eh, ini ada oleh-oleh buat kalian semua" mengambil paper bag yang ia taruh di bawah kursi plastik.


Para pegawainya menerima dengan saling berebut, tidak sabar ingin membuka isi yang sebenarnya apa oleh-oleh pemberian dari bosnya itu.

__ADS_1


"Hei, tidak usah berebut seperti anak kecil seperti itu! Semua kebagian, tidak usah khawatir! Semua sudah saya masukan ke dalam kotak kecil di sana!" Rania memecah keributan pegawainya yang saling berebut oleh-oleh.


Namun mereka tidak mendengarkannya, mereka tetap saling memperebutkan paper bag itu. Rania yang melihat tingkah pegawainya menggeleng, mendecak, seperti anak kecil yang sedang berebut mainan saja. Rania merasa beruntung di karuniai pegawai seperti mereka, yang perduli, sekaligus menghibur.


Setelah mereka berhasil mendapat masing-masing kotaknya, dengan segera mereka membukanya. Di sana terdapat manik-manik khas bali. Ada yang model perhiasan, ada juga yang model semisal gantungan kunci.


Tidak begitu mahal, namun mampu membuahkan kebahagiaan untuk orang lain itu sudah lebih dari kata menyenangkan.


"Terima kasih, bu!" ucap mereka serentak, lagi-lagi kembali memeluk bosnya itu.


Tentu saja Rania tidak dapat mengatakan kata apa yang melebihi kata beruntung untuk mewakili bahaginya. Di kerumuni oleh pegawai yang begitu menyayanginya.


"Iya, maaf ya tidak bisa membawakan yang lebih!" ucapnya.


"Ini sudah lebih dari kata lebih, bu" ujar mereka di penuhi wajah senang.


"Oh, iya, bu. Bagaimana waktu di sana, apa begitu menyenangkan?" tanya salah satu dari mereka.


"Hem" Rania seperti mengingat-ingat, "sangat menyenangkan! Bahkan saya sempat tidak ingin kembali, haha namun saya begitu merindukan kalian semua, jadi saya putuskan untuk kembali" jelasnya membuat seluruh pegawainya terharu, ternyata bukan Rania saja yang beruntung memiliki pegawai seperti mereka, mereka juga jauh lebih beruntung memiliki bos seperti Rania.


"Ya sudah, kalau begitu kalian kembali kemas barang-barangnya, sebelum banyak orderan lain yang masuk!" perintah Rania segera di iyakan oleh mereka.


Eh, tunggu! Kenapa aku tidak melihat Reyhan, kemana dia? Gumamnya sambil mencari ke setiap sudut ruangan.


"Selamat pagi, maaf saya terlambat! Saya tadi..." tiba-tiba kalimat itu tehenti ketika melihat seorang gadis yang tengah duduk di kursi, matanya sibuk mencari sesuatu.


"Rania..." panggil seseorang setengah berteriak.


Rania yang baru saja mencari orang itu langsung terperangah dan bangun dari duduknya.


"Rey.." lirih Rania begitu melihat orang yanv sedang ia cari muncul dan memanggilnya.


Dengan langkah cepat Reyhan menghampiri tempat berdirinya Rania.


"Kamu sudah kembali?" memegang kedua bahu Rania dan meraba ke bawah lengan, memastikan kalau yang berdiri di hadapannya itu Rania sungguhan.


"Iya" Rania mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menghubungiku kalau kamu sudah kembali?" Reyhan menatap Rania lekat, merasa sedikit kecewa kalau Rania tidak sempat menghubunginya.

__ADS_1


Rania tidak bisa menjawab apa-apa, mengapa Reyhan begitu agresif padanya.


"Ehem.. Cie.. Cie.." seru para pegawai yang menyaksikan mereka.


Reyhan langsung melepaskan tangannya dari bahu Rania, kemudian meminta maaf.


"Maafkan aku!" ucap Reyhan lirih, tidak sadar kalau banyak pegawai di sana yang memperhatikannya.


"Mungkin pak Reyhan rindu sama bu Rania" canda salah satu pegawai.


"Haha kalian bisa saja" sahut Rania.


"Permisi!" ucap seseorang membuat seluruh pasang mata tertuju pada seseorang yang berdiri di depan tanpa di ketahui kapan ia berdiri di sana.


"Diva.." seru Rania kemudian berjalan menghampiri dan memeluknya. Diva pun membalas pelukannya, sekilas dan Diva berusaha melepaskan pelukannya pelan.


"Bagaimana, apa kamu betah bekerja di sini? Maaf kalau aku harus pergi kemarin"


"Iya, tidak apa-apa!" jawab Diva datar, dan memberi senyum sekilas.


Harusnya Diva senang Rania kembali, harusnya Diva menunjukan kerinduannya pada Rania. Namun, ia bersikap seolah-olah tidak suka atas kembalinya Rania.


Kenapa dengan Diva? Apakah dia baik-baik saja? Pikir Rania dalam hati ketika melihat teman dekatnya itu.


Maafkan aku, Rania! Harusnya aku senang kamu kembali, tapi rasa senangku kalah oleh rasa takutku yang mungkin tidak akan bisa mendekati pria yang aku sukai seperti waktu kamu tidak ada. Aku jadi tidak leluasa mendekatinya lagi jika ada kamu. Gumam Diva.


Semua orang menyambut kembalinya Rania dengan gembira, kecuali Diva. Malah Rania sendiri yang menyambut Diva, bukan dirinya.


.


.


.


.


.


Hallo readersku yang manis-manis.. Maaf ya hari kemarin gak update, authornya agak kurang enak badan, semoga chapter kali ini bisa mengobati kerinduan kalian.

__ADS_1


Vote sebanyak-banyaknya, ya!


__ADS_2