
Hari demi hari telah Bagas dan Rania lewati, bulan demi bulan telah mereka lalui, ngidam demi ngidam juga telah Bagas penuhi. Sekarang, usia kandungan Rania sudah memasuki usia ke sembilan bulan. Bulan dimana Rania akan melahirkan si buah hatinya.
Pagi hari, Bagas meraba tempat tidur di sebelahnya untuk mencari sseseorang dengan kedua mata yang masih terpejam. Berulang kali ia meraba tempat tidur itu, namun ia tidak juga menemukan seseorang yang ia cari. Bagas kemudian mengerjapkan matanya beberapa kali, sampai akhirnya matanya terbuka dan tidak mendapati istrinya di sana.
Bagas menoleh ke kiri dan kenan, mencari keberadaan Rania yang pagi-pagi sudah tidak ada. Kemudian Bagas bangkit dari tempat tidurnya, ia mencari Rania ke kemar mandi.
Bagas mendapati Rania sedang menggosok gigi di depan wastafel biasa dia menggosok gigi di sana, ia tersenyum melihat tingkah lucu istrinya yang sedang memperlihatkan deretan gigi beserta gigi gingsulnya di depan kaca. Mungkin Rania merasa belum bersih, ia kembali menaruh pasta gigi di sikat giginya, lalu menggosok giginya kembali.
"Sayang, kau kenapa?" Bagas berjalan mendekat, lalu memeluk Rania dari belakang.
"Guiguiku builum buersuih, juadui uaku mueluakukuannyua bueruluang kuali," jawab Rania dengan nada bicara kurang jelas, dia bicara sambil masih menggosok giginya.
"Kalau bicara yang jelas, kumur-kumur dan selesaikan dulu, baru jawab! Jangan membuat suamimu ini pusing karena susah untuk men-translate ucapanmu!" Bagas mengacak pangkal rambut Rania, ketika sedang menunduk membuang air bekas kumur-kumur dari dalam mulutnya.
"Salah kau sendiri menggangguku! Wlee.." Rania menjulurkan lidahnya, Bagas hanya tersenyum menanggapinya.
Rania kembali menunjukkan deretan giginya di kaca, sepertinya sudah bersih. Ia melepaskan tangan Bagas yang memeluk erat pinggangnya, kemudian Rania berbalik menghadap suaminya. Bagas menarik lengan Rania pelan, kemudian ia membawanya ke dekat tembok dan mengurung Rania menggunakan kedua tangannya.
"Sayang, aku rindu bermesraan di atas tempat tidur. Semoga buah hati kita cepat lahir, agar kita bisa melakukannya lagi nanti, ya?!" Bagas memasang wajah mesumnya, tanpa ia sadari si Jon miliknya sudah bangun lebih dulu.
Rania nyaris tertawa jika tidak segera ia tahan, ketika melihat benda hidup yang menonjol begitu kerasnya di balik celana milik suaminya.
Bagas menekuk satu lututnya di lantai, ia membenamkan ciuman di perut Rania yang menonjol begitu besar. Ia melakukan hal itu berulang kali.
Tiba-tiba saja Rania merintih, ketika perut yang sedang di cium terus-terusan oleh Bagas terasa sangat sakit. Rania merasakan mulai yang hebat, sampai ia tidak dapat lagi menopang beban tubuhnya sendiri. Tubuh Rania pun nyaris ambruk.
"Rania, sayang. Kau kenapa?" Bagas kelihatan panik ketika Rania memejamkan kedua mata, sambil sesekali merintih. Kedua tangannya memegangi perut yang teramat sakit.
__ADS_1
"Rania, jangan-jangan kau melahirkan?" berulang kali Bagas bertanya, namun Rania tidak menjawab pertanyaannya juga.
"Aaww.. Sepertinya aku mau melahirkan. Tolong aku! Sakit sekali. Mungkin ini yang di namakan kontraksi," napas Rania tersengal-sengal, keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya.
"Bertahan, sayang. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit," Bagas membopong tubuh Rania, dan berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobil di halaman rumahnya.
"Tuan, nona kenapa?" tanya seorang security Bagas, ia juga ikut panik melihat tuannya yang panik.
"Bukakan pintu mobil! Saya mau pergi ke rumah sakit," titah Bagas segera di laksanakan oleh security tersebut.
Bagas mendudukan Rania di kursi depan, ia memasangkan sabuk pengaman di tubuh Rania. Setelah itu ia berjalan setengah berlari mengitari mobil dan masuk ke dalam mobil tersebut.
"Bertahan, sayang. Kau tarik napas dulu, tenangkan dirimu!" Bagas menarik sabuk pengaman yang akan di pasangkan di tubuhnya.
Setelah itu ia segera menghidupkan mesin, lalu menancap gas dengan kecepatan tinggi.
***
Nadira mengangguk. Dan Nadira sudah tidak terlihat malu-malu lagi di depan sekretaris Frans, begitupun dengan sekretaris Frans sendiri. Hubungan mereka sudah semakin dekat, setelah beberapa bulan sekretaris Frans menjalani pendekatan dengan gadis seorang kakak ipar dari tuannya.
Ting...
Suara notifikasi pesan masuk berasal dari saku jas sekretaris Frans. Ia segera merogoh saku jasnya dan mengambil benda pipih yang baru saja mengeluarkan suara.
Beri tahu papa dan mertua aku, Frans! Kalau saat ini Rania sedang di bawa ke rumah sakit. Dia mau melahirkan.
Pesan dari seseorang yang sekretaris Frans namai tuan Bagas. Ia kembali memasukan benda pipih tersebut ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Dari siapa?" tanya Nadira penasaran, takutnya seseorang yang sedang mencoba mendekatinya selama ini memiliki wanita simpanan lain.
"Dari tuan Bagas, dia memberi aku perintah untuk memberi tahu tuan Brahma beserta kedua orang tua nona, kalau saat ini dia sedang membawa nona ke rumah sakit. Katanya nona akan segera melahirkan."
"Hah? Rania mau melahirkan? Saya boleh ikut?" Nadira terkejut mendengar adiknya yang mau melahirkan, tentu saja sekretaris Frans mengizinkan Nadira untuk ikut dengannya. Karena Nadira adalah kakak dari Rania.
"Iya, ayo!" sekretaris Frans bersama Nadira bergegas melangkahkan kaki keluar dari ruangan tersebut.
Sementara di jalan, Bagas nyaris terkena macet lampu merah jika sedetik saja dia terlambat dari garis batas jalan lampu merah tersebut.
Rania sudah kelihatan lemas sekali, ia kehilangan setengah dari kekuatan tubuhnya. Bagas lebih di buat panik lagi, ketika cairan ketuban Rania pecah di dalam mobilnya. Rania sudah tidak dapat menahan lagi rasa sakit tersebut, rasa mulas yang hebat terus menyerang bagian perutnya.
"Sayang, lebih cepat lagi! Aku sudah tidak kuat, bagaiaman kalau aku melahirkan di sini?" Rania terus berusaha mengontrol deru napasnya. Keringat yang membanjiri seluruh bagian tubuhnya tak kian menyurut.
"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai!" panik, cemas, takut, perasaan Bagas campur aduk. Tapi ia harus tetap fokus menyetir, takutnya terjadi sesuatu di jalan kalau sampai ia kehilangan konsentrasinya.
"Huh..haah.. Sakit sekali.." Rania terus merintih, Bagas sampai tidak tega melihat Rania sedang di landa kesakitan seperti sekarang ini.
Wajah Rania sudah sangat pucat, seakan darah sudah terserap habis oleh seluruh tenaganya. Rania semakin erat mencekeram lengan kaus yang di kenakan oleh suaminya. Sedangkan mereka belum juga sampai di rumah sakit. Bagas jadi takut, kalau akan terjadi sesuatu yang buruk.
.
.
.
Coretan Author:
__ADS_1
Buat bunda-bunda semuanya yang sudah memiliki seorang anak, pasti tahu deh gimana rasanya kontraksi. Itu sedang di alami oleh Rania saat ini, do'akan semoga proses persalinannya lancar ya bund.
Follow ig: @wind.rahma