
"Kau sedang apa?" menaruh gelas kemudian di nakas samping tempat tidur setelah meminum air putih hampir setengahnya.
Melihat Rania yang sedang sibuk memisahkan beberapa manik-manik dan kaus khas Bali yang ia beli tadi siang, Bagas ikut duduk di tepi ranjang.
"Hei, jangan membuat aku mengulangi kalimat..!" kesal karena istrinya sama sekali tidak menggubris.
"Sssttt.." menempelkan telunjuk di bibir suaminya, "jangan menggangguku konsentrasiku! Aku sedang memisahkan ini untuk ibu, kak Nadira, ayah, pegawai di ruko dan yang lainnya juga"
"Oh. Kau begitu perhatian ternyata!"
"Sejak dulu aku memang perhatian, kau saja yang baru menyadarinya" sahutnya tanpa memalingkan pandangan dari manik-manik dan kaus, membuat Bagas mengacak-acak pangkal rambutnya dengan gemas.
"Kau membuatku gemas saja, aku jadi ingin menyerangmu lagi!" pindah posisi duduk dan memeluk pinggang istrinya kemudian dari belakang, dagunya ia jatuhkan di bahu istrinya.
"Ih.. Kau menggangguku! Aku sedang memisahkan kaus untuk Rey.." Rania segera menutup mulut merasa ia telah bicara keceplosan.
"Apa?" memastikan kalau pendengarannya tidak salah, "Rey? Maksud kau Reyhan?"
Rania menggigit bibirnya kuat-kuat, menghentikan aktivitasnya. Kenapa dia bisa mengatakan nama pria yang membuat suaminya cemburu buta itu?
Kenapa aku bisa sebodoh ini? Ha ha, siap-siap riwayatku mungkin akan tamat setelah ini.
Rania menghela nafas panjang, perlahan menghembuskannya.
"I-iya, dia juga pegawaiku di ruko. Jadi a-aku memberinya jatah juga sama seperti yang lain" ucapnya dengan hati-hati.
"Benarkah?"
"Iya"
"Aku harap kau memberikan sesuatu pada pria itu tidak lebih dari kata sama, seperti halnya kau memberikan pada pegawai yang lain!" pesannya dengan raut wajah mulai tidak suka.
"Iya. Tidak usah cemas, dia hanya teman sekaligus pegawaiku, tidak lebih dari kata itu!" menoleh pada suaminya yang masih menopang dagu di bahunya.
__ADS_1
Semula Rania akan memisahkan manik-manik dan beberapa kaus itu untuk semua orang yang masuk daftar yang akan ia beri oleh-oleh sepulang dari Bali. Mulai dari ibu, keluarga, pegawai, sampai kakak ipar dan tante Hera yang bisa ia tebak tidak akan mau menerima pemberian darinya. Tetapi ia sudah terlanjur membuat suaminya badmood, terpaksa ia menunda menyimpan saja semua itu terlebih dahulu.
Ada yang lebih penting dari semua itu, yaitu menghibur suaminya agar mood-nya kembali bagus seperti semula.
"Maafkan aku! Aku harap kau tidak mempermasalahkannya!" Rania mengalungkan tangannya di leher Bagas, wajah mereka kini berdekatan, hanya ada beberapa mili saja jarak di antara keduanya.
"Tidak masalah! Aku percaya kau tidak akan mengkhianatiku. Mungkin aku saja yang terlalu cemburu padamu. Harusnya aku yang minta maaf, maafkan aku!" memegang kedua pipi Rania, menempelkan ujung hidungnya ke ujung istrinya.
Masih baik riwayatku tidak tamat, syukurlah kalau tidak marah. Kau tenang saja, aku tidak akan berpaling pada pria manapun. Kau sudah lebih dari cukup, kau sudah baik. Tampanmu sekarang berguna. Bahkan setiap kali aku melihat wajahmu, hatiku meleleh bagai coklat batang yang di panaskan.
Nafas mereka kini telah bercampur, jika mereka menghirup udara yang bersamaan, mungkin mereka juga akan mengeluarkan karbondioksida secara bersamaan pula. Namun, apa jadinya kalau mereka bergantian saat menghirup udara, rasanya pengap jika salah satu dari mereka menghirup udara dari nafas yang baru saja di buang oleh salah satunya. Bisa di coba dengan pasangan anda, yang penting sudah sah saja!
*****
Pagi harinya.
Dugg.. Duggg.. Dugggg
Suara berasal dari kepalan tangan seseorang yang memukul pintu kamar mandi dengan keras, sebab ada orang di dalamnya.
"Kau bisa pergi ke kamar mandi lain! jika kau tidak tahu, kau bisa tanya pelayan!" jawab dari kamar mandi, dari suaranya ia sedang mengejan menahan nafas berusaha mengeluarkan sesuatu dari anusnya.
"Kau sedang apa?" diam sejenak, namun tangannya masih menutupi daerah V miliknya.
"Buang air besar" teriaknya di akhiri dengan kata "Hah.." merasa lega, setelah keringat membanjiri bagian dahi karena perjuangan mengeluarkan sesuatu dari dalam perutnya.
"Menjijikan sekali!" maki Rani pelan, dan kembali mengetuk pintu dengan keras.
"Cepatlah, aku sudah tidak tahan!" terus menahan supaya air tidak memaksa keluar dari area V sebelum waktunya. Rania menggoyang-goyangkan pinggulnya, berjoget-joget, itulah salah satu cara wanita menahan buang air kecil. Kalau kalian tidak setuju, tidak perduli.
"Bersabar sedikit saja!" beberapa detik kemudian Bagas membuka pintunya, dan..
"Aaaaaa.." Rania berteriak histeris.
__ADS_1
"Kenapa?" Bagas ikut panik, ia pikir terjadi sesuatu pada Rania.
"Itu.." Dengan tangan menutup kedua mata, dan dari sela-sela jari berusaha mengintip, Rania menunjuk ke bawah bagian si Jon pusaka milik Bagas.
"Oh" dengan santainya Bagas bilang oh, padahal Rania nyaris gila setengah mati.
Bagas menaikkan celananya yang belum sempat ia pakai kembali setelah buang air besar karena ulah istrinya yang memintanya cepat membuka pinta, sampai lupa.
"Sudah, tidak perlu pura-pura terkejut seperti itu! Lain waktu kau pasti akan memanjakan si Jon milikku" candanya membuat sebuah sentilan mendarat di ujung hidungnya.
"Saat keadaan sedang genting seperti ini kau masih sempat bercanda, menyingkirlah! Aku sudah tidak tahan" sedikit menggeser tubuh Bagas yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi.
Bagas menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah istrinya yang semakin hari semakin membuatnya jatuh cinta walau dengan hal gila sekalipun. Ia melangkahkan kaki pergi dari sana, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti ketika kakinya menginjak cairan hangat. Ia menatap lantai yang ia injak dan basah itu, air berwarna kekuningan sudah membasahi lantai.
Karena penasaran, Bagas mengusap telapak kaki yang menginjak cairan hangat barusan. Mendekatkan tanganya ke lubang hidung perlahan, bau tidak sedap yang ia cium.
Bagas membalikkan tubuhnya menghadap pintu kamar mandi, lantai di sana juga ikut basah. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.
"Sayang! Kau pip*s di sini?"
"Ha ha, maafkan aku! Sepertinya iya, itu semua juga karenamu yang membuatku berteriak tadi"
Bagas kembali melihat telapak tangan dan telapak kakinya yang telah menyentuh cairan hangat berwarna kekuningan itu. Sedetik kemudian, wajahnya berubah menjadi orang yang sedang mual dan ingin muntah.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hallo readers-ku yang manis, saya menyapa kalian, hehe. Kalau suka, jangan sungkan untuk tinggalkan like, serta vote menggunakan poin ataupun koin.
Untuk yang belum lihat visual Bagas dan Rania segera cek di youtube, ya! Di channel Windy Rahmawati. Harus Subscribe, biar gak ketinggalan video adegan nyata yang akan membuat baper sejagat NT/MT. Mudah-mudahan.