
Hari sudah sore lagi, tapi Rania belum berhasil mencari tahu apa penyebab Reyhan dan Diva bersikap aneh seperti ini. Sebelumnya mereka baik-baik saja, dan Rania lihat hari-hari sebelumnya juga mereka justru sudah semakin dekat. Tapi hari ini, Reyhan dan Diva justru menunjukan sikap kebalikan dari terakhir Rania ke ruko minggu lalu.
Rania mencoba menanyakan pada Diva, tapi Diva sama sekali tidak mau menceritakan apa yang sebenarnya sudah terjadi. Begitupun dengan Reyhan, hanya mengatakan kalau hubungan kedekatannya dengan Diva itu baik-baik saja. Rania hanya bisa mendo'akan semoga hubungan mereka baik-baik saja, dan semoga mereka segera meresmikan hubungannya.
Rania berdiri di depan ruko, karena saat ini rukonya sudah tutup. Semua pegawainya juga sudah pada pulang kecuali Diva dan Reyhan.
"Aku duluan ya, Rania!" Diva menepuk pelan bahu Rania dari belakang.
"Iya. Eh tunggu, Va!" Rania menarik lengan Diva, membuat gadis itu tidak jadi melangkahkan kakinya.
"Ada apa, Rania?"
Rania mengerutkan dahi. "Kamu gak bareng Rey? Biasanya kan di antar pulang?"
Diva menggeleng kepalanya lemah. "Tidak, Rania. Lagi pula jarak rumah Reyhan kan lebih dekat dengan ruko, jadi aku tidak mau selalu merepotkan dia untuk mengantarkan aku pulang."
"Terus sekarang kamu pulang naik apa?"
"Aku sudah pesan ojek online. Itu dia, sudah datang," Diva menunjuk ojek online yang ia pesan baru saja datang. "Aku duluan ya, daaah.." Diva melambaikan tangannya kemudian pergi bersama ojek online.
Rania mengambil ponselnya dari tas, bermaksud untuk menelpon suaminya sudah sampai mana kalau sudah dalam perjalan untuk menjemputnya. Tapi itu segera ia urungkan ketika Reyhan berjalan melewatinya begitu saja.
"Rey, tunggu!" panggilan Rania berhasil membuat Reyhan menoleh.
"Iya, ada yang bisa aku bantu, Rania?" Reyhan selangkah lebih maju dekat dengan Rania.
"Tidak, tidak ada. Aku cuma heran melihat kalian berdua, maksud aku kamu sama Diva. Sebenarnya ada apa, sih? Kenapa juga kamu tidak mau cerita sama aku? Tidak usah sungkan, Rey! Ayolah ceritakan!" Rania sedikit kepo juga, karena bagi Rania Reyhan dan Diva bukan siapa-siapa lagi bagi dirinya.
"Lain kali aku ceritakan, ya! Soalnya hari ini mamaku minta aku pulang cepat," kilah Reyhan, ia masih enggan untuk menceritakan ini kepada Rania.
"Oh, ya sudah tidak apa-apa kalau belum mau cerita!"
"Iya. Suami kamu jemput, kan?" Reyhan mencari keberadaan mobil suami Rania yang masih belum ada di sana.
"Tidak tahu, ini aku baru mau telpon dia." Rania memperlihatkan ponsel di genggamannya.
"Ya sudah, telpon saja dulu!"
"Iya." Rania menekan nomer telpon suaminya, kemudian ia bicara setelah sambungannya terhubung.
"Kau dimana?" tanya Rania, kemudian ia diam, "oh, begitu," ujar Rania nampak sedikit kecewa, "kalau begitu aku mau ke rumah ibu, sebentar. Kalau kau sudah selesai langsung pulang saja ke rumah, ya!" pesan Rania sebelum akhirnya sambungannya terputus.
"Kenapa?" tanya Reyhan ketika melihat ekspresi wajah Rania sedikit kecewa.
__ADS_1
"Tidak, suami aku tidak bisa jemput, sekretarisnya juga. Katanya ada meeting kedua dengan klien yang tidak bisa di tunda," jelas Rania.
"Oh, kalau begitu aku antar kamu pulang, ya! Bukan apa-apa, kamu kan sedang hamil, aku takut terjadi apa-apa sama kamu dan kandungan kamu kalau naik kamu naik angkutan umum!" Reyhan sedikit mencemaskan Rania.
"Tidak, tidak. Tidak usah Rey! Kamu kan barusan bilang kalau kamu di minta pulang cepat sama mama kamu, aku tidak mau kalau kamu terlambat gara-gara mengantar aku pulang. Lagi pula aku akan pulang ke rumah ibu dulu. Terima kasih tawarannya!" tolak Rania dengan sopan, ia tidak mau kalau Reyhan mengantarnya pulang sedangkan Diva tadi di biarkan begitu saja.
"Ya sudah, aku duluan ya! Bye," pamit Reyhan, kemudian ia masuk ke dalam mobilnya, mengemudikan laju mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Sementara Rania masih mematung di sana, ia melihat jam di ponselnya sudah menunjukan pukul lima sore. Ia harus segera pulang dengan angkutan umum yang selalu ia naikki kemanapun ia pergi. Karena sebelumnya Bagas sudah menawarinya untuk pulang dengan sopir prbadinya, tapi Rania menolak. Ia tidak mau jika terus saja merepotkan.
***
Bu Sari tengah berbincang-bincang dengan putrinya, Nadira, di ruang tamu. Entah sedang membicarakan hal apa, yang jelas dalam isi perbincanagn mereka bu Sari menyebut-nyebut nama sekretaris Frans. Mungkin saja mereka sedang membicarakan soal hubungan Nadira dengan sekretaris Frans yang sudah samapi mana kedekatannya. Tiba-tiba pintu rumah mereka di ketuk oleh seseorang.
"Biar Nad saja yang membukakannya, bu!" Nadira bergegas melangkahkan kaki untuk membuka pintu rumah.
Begitu di buka, muncul Rania dari ambang pintu dengan senyuman yang lebar. Tanpa basa-basi Nadira segera memeluk adiknya tersebut.
"Rania.."
"Kak Nad.." balas Rania tak kalah mengeratkan pelukannya.
Bu Sari yang menyaksikannya sangat bahagia sekaligus terharu melihat putrinya akur, berbeda dengan Radit yang selalu bersikap kurang baik kepada adik-adiknya termasuk pada dirinya sendiri.
"Tuh," Nadira mengedikkan dahunya, Rania langsung menghambur pada bu Sari.
"Ibu..." Rania mencium punggung tangan sang ibu, kemudian memeluknya sekilas. "Ibu apa kabar?"
"Alhamdulillaah, ibu baik, nak!" balas bu Sari.
"Syukurlah kalau ibu baik-baik!"
"Iya, Rania sayang!" bu Sari mengecup kening putri bungsunya.
"Ibu kira yang datang Radit, soalnya dari pagi dia belum pulang juga!" ujar bu Sari, ada kekhawatiran di wajahnya.
"Bang Radit? Memangnya dia kemana bu?"
"Ibu tidak tahu, abang kamu kalau pergi tidak pernah mau memberi tahu kemana tujuannya juga. Ibu jadi khawatir kalau sampai terjadi apa-apa sama dia!" sebagai seorang ibu, bu Sari tetap mengkhawatirkan Radit, karena di matanya semua anak-anaknya sama. Tidak pernah ia membedakan-bedakan ataupun pilih kasih.
"Oh, mungkin sebentar lagi, bu!" Rania berusaha menenangkan ibunya.
"Iya, bu. Jangan terlalu khawatir! Bang Radit gak pulang juga jangan terlalu di pikirin, mungkin dia di sana juga belum tentu mikirin ibu!" sahut Nadira yang kembali duduk di tempatnya tadi setelah menutup pintu.
__ADS_1
"Tapi, Nad. Bagaimana pun ibu ini seorang ibu, pasti akan khawatir kalau anaknya belum pulang!" pekik bu Sari.
"Sudah, bu! Mungkin sebentar lagi bang Radit pulang," ucap Rania terus berusaha untuk selalu menenangkan bu Sari. Padahal ia sendiri tidak tahu kalau abangnya pergi kemana.
Setelah Rania menenangkan ibunya dan saat ini sudah sedikit lega, bu Sari mencari keberadaan seseorang lagi.
"Rania, kamu datang sendirian? Suami kamu kemana, nak?" sedari tadi bu Sari tidak melihat menantunya.
"Iya, Rania. Suami kamu kemana? Kok membiarkan kamu pergi sendirian, sih?" Nadira ikut menimpali.
"Em, sebenarnya aku dari ruko, bu, kak. Hari ini suamiku ada meeting yang tidak bisa di wakilkan, terus aku minta izin untuk main ke ruko dan dia mengizinkan. Tadi suami aku bilang ada meeting kedua yang tidak bisa di tunda, jadi dia tidak bisa jemput aku," jelas Rania pada ibu dan kakaknya.
"Oh, pantesan sekretaris Frans susah di hubungi!" umpat Nadira.
"Cieee.. yang nyariin kabar Frans, hehehe!" goda Rania.
"Em, apaan sih, Rania. Orang kakak gak bilang apa-apa juga!" kilah Nadira, ia terlihat salah tingkah.
"Barusan? Kakak sebut-sebut nama dia dan aku dengar, hayo ngaku! Hehe.." Rania terus menggoda kakaknya, Nadira semakin di buat tidak karuan.
"Ih.. apaan sih, Rania. Udah, stop!" wajah Nadira mulai memerah menahan malu.
"Memangnya suami kamu tidak minta sopir untuk jemput kamu, nak?" bu Sari kembali membahas soal Bagas yang tidak bisa jemput, karena ia khawatir kalau putrinya sampai kenapa-kenapa di jalan.
"Aku yang menolak di jemput sopir, bu. Soalnya lebih enak naik angkutan umum."
"Lain kali kamu jangan pergi-pergi sendiri, ya! Ibu khawatir kalau sampai terjadi apa sama kandungan kamu, sayang," kecemasan bu Sari adalah bukti kalau ia sayang kepada semua anaknya.
"Iya, ibu. Ibuku sayang yang paling baik paling cantik paling segalanya buat aku!"
Rania berusaha membuat kecemasan ibunya hilang dengan cara menggodanya, kemudian ia mengecup pipi sang ibu. Di susul oleh Nadira yang juga ikut mengecup pipi sang ibu yang satunya lagi. Bu Sari terlihat sangat bahagia, di kelilingi oleh orang-orang yang menyayangi dan mencintainya. Keluarga sederhana namun mampu menciptakan bahagia. Itu sudah lebih dari cukup. Jangan tanya pak Burhan kemana? Kok jarang di ceritain? Nanti kalian bisa naik darah lagi karena sifatnya yang membuat kalian gedek. Hehehe.
.
.
.
Coretan Author:
Like, komen, tembahkan ke favorit dan vote sebanyak-banyaknya!
Rekomendasikan juga ke pembaca lainnya.
__ADS_1
Follow ig: wind.rahma