Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Proses Persalinan


__ADS_3

"Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai!" panik, cemas, takut, perasaan Bagas campur aduk. Tapi ia harus tetap fokus menyetir, takutnya terjadi sesuatu di jalan kalau sampai ia kehilangan konsentrasinya.


"Huh..haah.. Sakit sekali.." Rania terus merintih, Bagas sampai tidak tega melihat Rania sedang di landa kesakitan seperti sekarang ini.


Wajah Rania sudah sangat pucat, seakan darah sudah terserap habis oleh seluruh tenaganya. Rania semakin erat mencekeram lengan kaus yang di kenakan oleh suaminya. Sedangkan mereka belum juga sampai di rumah sakit. Bagas jadi takut, kalau akan terjadi sesuatu yang buruk.


Lima menit kemudian, Bagas dan Rania sampai di rumah sakit.


Saat ini, Rania sudah ada di ruang bersalin. Bagas juga ikut menemaninya di sana, berusaha memberi kekuatan untuk istrinya. Dokter bersama suster juga sudah ada di sana. Dan Dokter bilang Rania sudah pembukaan terakhir.


"Tarik napas dalam-dalam, nona! Perlahan hembuskan melalui mulut. Setelah itu, nona sudah bisa mulai mengejan untuk memberi dorongan pada bayinya, ya!" Dokter memberi instruksi pada Rania.


Rania pun mengikuti apa yang di katakan Dokter barusan, ia mengambil napas panjang dan menghembuskannya.


"Ayo, nona, mengejan sekarang!" pinta Dokter.


Rania mengangguk, Bagas sudah menggengam erat buah tangan milik istrinya.


"Eeeeuuummmmmmm....." Rania mulai mengejan sekuat tenaga yang ia miliki, namun untuk mengeluarkan bayi tidak cukup satu kali mengejan saja.


"Bagus, nona. Silahkan ulangi lagi!" Dokter melihat organ tubuh tempat keluarnya bayi sudah mulai terbuka.


Rania kembali mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya lagi.


"Semangat, sayang! Kau pasti bisa!" Bagas berusaha menyemangati Rania, agar tidak menyerah dan berhenti sampai di sana.


Rania mengangguk, deru napasnya tersengal-sengal. Namun ia terus berusaha mengatur napasnya.


"Eeeeuummmmmmm...." Rania kembali mengejan, dan saat ini Dokter bilang kalau kepala bayi sudah mulai terlihat.

__ADS_1


"Dorong lagi, nona! Hanya dua kali anda mengejan pasti bayinya sudah bisa keluar!" Dokter kembali memberi instruksi.


Saat itu Rania sudah mulai lelah, tubuhnya terasa sangat lemah, keringat dingin menerpa dirinya tanpa henti. Rasanya ia sudah tidak lagi sanggup untuk melanjutkan semua ini. Rania hanya bisa pasrah.


Ya Tuhan, ternyata benar apa yang di katakan semua orang. Kalau untuk mengeluarkan anak itu kita harus menaruhkan nyawa. Dan saat ini aku sedang merasakannya. Ya Tuhan, berikan aku kekuatan, agar aku bisa melewati proses persalinan ini. Selamatkan aku dan juga bayinya. Aku mohon! Rania berdo'a dalam hatinya.


"Sayang, aku sudah tidak kuat lagi!" suara Rania semakin parau, hampir tenggelam oleh suara deru napas yang semakin mengeras.



"Kau pasti bisa, sayang! Ada aku di sini yang akan selalu menemanimu! Kau harus semangat, ya!" Bagas mencium kening sang istri, sambil terus menyemangatinya.


"Dorong lagi, nona! Jangan menyerah, inilah perjuangan seorang ibu. Semua perempuan pasti akan mengalaminya. Semangat, nona!" Tidak hanya Bagas, bahkan Dokter dan suster pun memberikan support untuk Rania, agar ia tidak menyerah begitu saja. Kasihan bayinya.


"Aku pasti bisa," Rania berusaha mengumpulkan tenaganya, ia terus mengambil napas panjang. Ia memegangi tangan suaminya lebih erat lagi, semoga kali ini bayinya berhasil lahir.



Selamatkan istri dan anakku, Ya Tuhan. Lancarkan proses persalinannya! Bagas juga tak henti-hentinya berdoa dalam hati.


"Oek..oek..oek...oek...oek..." suara tangisan bayi terdengar dan menggema ke seisi ruangan.


Semburat kebahagiaan terpancar di wajah Bagas dan juga Rania ketika mendengar tangisan seseorang yang selama ini mereka nantikan. Bagas sampai menitikan air mata ketika mendengar suara tangisan bayi, anaknya.


Perjuangan besar Rania terbayarkan oleh kebahagiaan yang tiada tara. Jika ada alat ukur kebahagiaan di dunia ini, mungkin saat ini Bagas dan Rania menjadi orang yang paling bahagia sedunia. Bagas dan Rania tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan.


"Alhamdulillaah. Selamat, ya, jenis kelamin bayinya perempuan. Cantik, seperti ibunya," ujar Dokter memberi tahu.


"Kalau begitu, bayinya akan di bersihkan terlebih dahulu. Tuan dan nona bisa tunggu sebentar di sini!" tambah Dokter, ia menyerahkan bayi itu kepada suster untuk di bersihkan dari kotoran berupa darah yang menempel di tubuhnya.

__ADS_1


Dokter dan suster sudah keluar dari ruang bersalin kini tinggal Bagas dan Rania berdua di sana. Bagas menatap sayup wajah lelah istrinya, wajah pucat gadis itu menampakan seulas senyum di bibirnya. Bagas menghujani Rania dengan ciuman di keningnya. Selamat telah menjadi orang tua kalian, Bagas dan Rania. Semoga nanti tidak lagi berdebat masalah sebutan apa yang harus anak kalian panggil untuk kalian. Apakah ibu atau mama? Apakah ayah atau papa? Apapun itu terserah kalian, karena kalian yang menjadi orang tua dari si bayi tersebut.


***


Di perjalanan, sekretaris Frans membawa pak Brahma, bu Sari, beserta Nadira di dalam mobilnya sesuai dengan perintah tuannya. Kalau pak Brahma pergi bersama sopirnya, dan saat ini mobilnya ada di belakang mobil yang kemudi sekretaris Frans.


Bu Sari dan pak Burhan sudah tidak sabar untuk segera sampai di rumah sakit. Tidak sabar ingin melihat cucu mereka.


"Lebih cepat lagi, nak Frans!" pinta bu Sari merasa tidak sabar.


"Baik, sebentar lagi kita sampai."


"Dari tadi sebentar terus, tapi tidak sampai-sampai juga," protes pak Burhan.


"Ibu, ayah, sabar ya! Lima menit lagi kita akan segera sampai. Jangan membuat konsentrasi sekretaris Frans dalam menyetir buyar, bagaimana kalau terjadi sesuatu!" tutur Nadira, ia berusaha menenangkan kedua orang tuanya yang panik sekaligus tidak sabaran.


"Cepat, nak Frans! Lebih cepat lagi, tancap gas dengan kecepatan penuh!" pak Burhan yang duduk di belakang kemudi, terus saja meminta sekretaris Frans untuk gasspoll. Sampai akhirnya, mobil yang di kemudikan sekretaris Frans pun lepas kontrol dan hampir menabrak mobil lain di pertigaan.


"Awassss..." Nadira berteriak ketika melihat ada mobil lewat di pertigaan barusan.


Sekretaris Frans sontak menginjak pedal rem secara mendadak, mobilnya sampai keluar jalur menabrak sebuah tiang rambu lalu lintas di jalan. Itu membuat tubuh siapapun yang ada di dalam mobil terlempar ke depan dengan cukup keras. Itu mengakibatkan kepala sekretaris Frans terbentur keras ke setir mobil. Kepala sekretaris Frans terbenam di sana, bahkan tidak ada yang tahu bagaimana keadaan sekretaris Frans sekarang. Apakah dia baik-baik saja dan hanya benturan biasa, atau mengalami kecelakan yang berakibat fatal untuk sekretaris Frans dan juga keluarga Rania?


.


.


.


Coretan Author:

__ADS_1


Alhamdulillaah, akhirnya Rania dan bayinya selamat. Tapi bagaiamana dengan sekretaris Frans beserta keluarga Rania, apakah mereka juga akan selamat dari kecelakaan yang menimanya barusan? Baca terus kelanjutannya, ya!


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2