
Bagas membuka matanya sempurna yang mendekati kata melotot ketika stetoskop di tempelkan di dadanya.
"Hey, apa yang kalian lakukan?"
"Maaf, tuan. Saya di panggil kemari karena katanya anda sedang sakit, dan saya mencoba memeriksa anda."
"Kalau begitu kenapa tidak meminta izin dulu, setidaknya bangunkan saya terlebih dahulu!" protes Bagas pada dokter Firman.
Ish, lagi sakit aja masih bisa bicara dengan nada tinggi pada orang.
"Maaf, tuan. Saya yang minta dokter Firman untuk segera memeriksamu" ucap Rania memberi tahu.
"Kau juga. Kenapa kau tidak membangunkan aku terlebih dahulu!" Bagas malah menyalahkan Rania.
"Iya, maaf. Jadi apa kau sudah bersedia untuk di periksa?! Saya takut anda kenapa-kenapa" kata Rania sedikit khawatir.
"Baiklah" akhirnya Bagas siap untuk di periksa oleh dokter Firman.
Dokter Firman kembali menempelkan stetoskop pada dada Bagas untuk memeriksa. Kemudian dokter Firman mengambil sesuatu lagi pada tas hitam yang ia selalu bawa jika ada pasien yang memanggilnya.
"Ingat! Saya tidak usah di suntik" pinta Bagas.
Kemudian sekretaris Frans membisikan sesuatu pada Rania.
"Tuan takut jarum suntik" bisiknya.
Rania yang mendengar bisikan sekretaris Frans nyaris tertawa, antara lucu dan geli.
Hah, orang kejam, jahat, sombong, dan ngaku manusia terkuat aja masih bisa takut pada jarum suntik. Itu mah namanya lemah. Sangat lemah.
Dokter Firman selesai meriksa Bagas, katanya ia hanya sakit demam biasa dan juga darah tinggi. Setelah di periksa darah yang tadi dokter Firman mengeluarkan alat dari dalam tasnya.
"Saya minta anda istirahat saja untuk beberapa hari. Dan apa-apa jangan terlalu di bawa emosi, karena itu akan membuat tekanan darah anda semakin naik" pesan dokter Firman kemudian memberikan beberapa lembar obat.
Pantes aja dia kena darah tinggi, apa-apa di bawa marah dan emosi. Bicara lembut di jawabnya malah seakan-akan membentak.
"Yang ini di minum 3 kali sehari, dan yang ini di minum saat anda akan tidur saja" ucap dokter memberi petunjuk tentang obat.
"Baik, terima kasih dok" di jawab oleh Rania.
Kemudian dokter Firman beranjak pergi setelah mengucapkan pergi untuk berpamitan, di antar keluar oleh sekretaris Frans sekalian membicarakan soal biayanya.
Rania duduk di samping Bagas. Ia memberanikan diri untuk memegang kening Bagas, untuk memastikan apakah badannya masih panas atau sudah normal. Namun baru saja tangan Rania menempel di kulit keningnya sudah di tepis begitu saja oleh Bagas.
"Jangan sentuh aku!" bentaknya.
Yaelah nih orang lagi dalam keadaan sajik aja masih bisa menyebalkan.
"Maaf jika saya lancang, saya hanya ingin memastikan apa suhu tubuh anda sudah turun" sahut Rania.
"Frans mana?" tanya Bagas mengalihkan pembicaraan.
"Dia sedang mengantar dokter Firman ke depan"
__ADS_1
Tidak lama setelah dirinya di tanyakan, sekretaris Frans menampakan dirinya kembali memasuki kamar. Dan berdiri di samping tuannya.
"Frans, pergilah! Urus semuanya! Hari ini saya tidak bisa pergi ke kantor!"
"Baik, tuan. Saya pasti akan mengurus semuanya" tegasnya.
"Permisi, tuan, nona" pamit sekretaris Frans dengan tubuh sedikit di bungkukan sebagai tanda rasa hormatnya.
Rania membalasnya dengan senyum, sekretaris Frans pun keluar dari kamar. Ketika sekretaris Frans keluar, ia berpapasan dengan pelayan yang akan masuk dengan membawa semangkuk bubur di nampan.
Rania menerima semangkuk bubur yang di bawakan oleh pelayan barusan dan meletakannya di meja kecil samping tempat tidur di dekatnya.
"Terima kasih bi"
"Itu sudah menjadi pekerjaan saya, nona"
"Oh, ya. Saya minta air hangat dan sapu tangan ya bi!" pinta Rania pada pelayan yang mau kembali.
"Baik, non" jawab pelayan kemudian berjalan untuk keluar.
"Apa kau bisa bangun sendiri?" tanya Rania pada Bagas yang masih memejamkan matanya.
"Apa kau tidak lihat, aku sedang sakit!"
Heh, iya aku tahu kau sakit.
"Ya sudah, kalau begitu saya bantu kau untuk bangun"
Setelah Rania selesai menumpukkan bantal, ia kembali membantu Bagas untuk bersadar sampai mendapatkan posisi yang paling nyaman. Rania mengambil mangkuk berisi bubur itu. Ia menyendok buburnya kemudian dengan hati-hati menyuapkan pada mulut Bagas. Bagas bukannya menerima suapan, malah kembali Rania.
"Apa kau ini buta? Kau tidak lihat buburnya masih menguap, apa jangan-jangan kau malah mau membunuhku secara perlahan?"
Ya Allah ya robbi, aku sudah mau mengurusnya sakit tapi masih aja dia ini jadi orang yang menyebalkan. Menuduhku dengan syair lagu last child segala. Eh, tapi benar juga ya, ini masih panas. Hehe.
"Iya maaf, saya tiupin dulu" kemudian Rania meniupi bubur yang sudah ia sendok. Tapi Bagas segera menghentikannya.
"Hentikan! Aku tidak mau makan bubur yang kau tiup dengan angin dari mulutmu itu. Bisa-bisa aku terkena virus" ejeknya.
Ingin rasanya aku tuangkan bubur ini sekaligus ke mulutmu. Tapi untungnya aku masih waras sehingga itu tidak akan aku lakukan.
Rania menghela nafas panjang, sepertinya ia harus menambah kapasitas sabarnya untuk menghadapi suaminya itu.
"Lalu kau maunya bagaimana?" desis Rania.
"Aku tidak mau makan bubur. Bubur itu hanya di makan oleh orang-orang yang lemah, aku kuat" lagi-lagi Bagas mengaku dirinya sebagai manusia terkuat.
Rania nyaris mentertawakannya jika tidak segera ia tahan.
"Sudahlah tuan, tidak usah lagi mengaku manusia terkuat. Kalau kau merasa jadi manusia terkuat, mana mungkin kau terbaring lemah di tempat tidur, seperti sekarang ini"
Bagas tertegun ketika mendengar ucapan Rania barusan.
Benar juga ya, padahal aku sakitnya gak parah. Ah, dia pasti mau mencoba merusak prinsip hidupku.
__ADS_1
"Pokoknya aku tidak mau makan bubur!" Sentak Bagas.
"Hey, kau. Apa kau tuli atau bagaimana? Sudah dokter Firman ingatkan kau ini jangan dikit-dikit emosi. Emang kau mau tekanan darah semakin naik terus kau..." Rania menggantungkan kalimatnya.
"Kau apa?" tanya Bagas yang padahal ia tahu bahwa Rania akan menyumpahkannya.
"Kau"
Aduh, hampir aja keceplosan. Kalau aku sampai bilang 'Kau akan mati' maka akulah yang akan mati.
"Ah, sudahlah. Sekarang kau cukup buka saja mulutmu lebar-lebar! Makan buburnya nanti keburu dingin, lalu minum obat!" alibi Rania.
Kali ini, mau tidak mau Bagas membuka mulutnya. Ia sendiri yang menghancurkan prinsip hidupnya. Rania mulai menyuapkan buburnya pada mulut Bagas.
"Gimana? Enak bukan?" tanya Rania yang sudah berhasil menyuapkan bubur pada mulut Bagas.
Bagas tidak menjawab, tapi dengan ia kembali membuka mulutnya, itu sudah menjadi jawaban kalau buburnya enak dan minta di suapin lagi.
Huh dasar, tadi aja ngajak debat, sekarang nambah minta lagi.
Rania kembali menyuapkan buburnya. Setelah habis sampai setengahnya, Bagas meminta untuk berhenti.
"Cukup!" ucapnya menahan sendok yang akan masuk ke mulutnya.
Rania kembali meletakan mangkuk bubur di atas meja kecil. Ia mengambil obat lalu di berikan pada Bagas dengan segelas air putih yang tadi pelayan bawakan bersamaan dengan bubur.
"Sekarang kau minum obatnya!" Rania menyerahkan obat ke tangan Bagas. Tanpa bicara ini itu lagi Bagas langsung menerima dan meminumnya dengan air putih.
Rania meletakan lagi gelasnya setelah Bagas kembalikan ke tangan Rania.
"Aku mau tidur!"
Ya sudah tidur ya tidur aja kali, emangnya kenapa? Minta di dongengin? Haha.
"Ya sudah, tidur aja!"
"Ambil lagi bantalnya!" pinta sekaligus suruh Bagas.
Rania segera mengambil beberapa bantal yang di tumpukan. Karena Bagas kali ini ingin tidur seperti biasa. Setelah selesai, Rania memutuskan untuk duduk di sofa saja. Tapi sebelum itu ia mengucapkan, "Semoga lekas sembuh"
Mata Bagas dan Rania bertemu dan kali ini mereka saling menatapnya.
Ternyata dia mau mengurusku dalam keadaan sakit. Aku tidak pernah merasakan hal ini sejak aku kecil. Ini perdana dalam hidupku. Terima kasih gadis bodoh, terima kasih istriku. Rania.
Bagas memejamkan matanya, tapi senyumnya tidak lepas dari bibirnya. Rania kembali untuk di sofa saja, dan membaringkan tububnya.
Bersambung...
#CUAP-CUAP_AUTHOR
Holla readers setia TUAN TAJIR. Bagas masih ngeselin gak nih? jawab aja di kolom komentar ya.
Like, vote, dan tambahkan ke favorit jika belum. Terima kasih
__ADS_1