Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Menjelaskan pada Diva (Part 2)


__ADS_3

Reyhan nampak begitu cemas ketika mendengar Diva sakit, setelah apa yang Mama-nya lakukan semalam padanya. Sampai ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Apakah ia harus menjenguk ke rumahnya, atau menunggu sampai Diva kembali masuk ke ruko untuk menjelaskan kebenaran itu.


Sepertinya pilihan untuk menjenguk Diva ke rumah adalah hal yang tepat, namun bagaimana jika keluarga Diva mengenali dirinya sebagai keluarga yang telah memenjarakan Devi? Sepertinya riwayatnya akan tamat jika langsung datang ke sana. Tapi mungkin itu juga yang di rasakan Diva semalam, di caki maki sampai terluka hingga saat ini sakit karena kesalahpahaman yang ia sama sekali tidak tahu apa-apa.


Kalaupun Reyhan akan di perlakukan sama persis seperti Diva sewaktu di rumahnya, mungkin itu balasan yang adil untuk menebus kesalahannya pada Diva. Namun sepertinya itu hal yang akan memperburuk keadaan.


Pergi ke tempat dimana ia sering memulihkan pikiran sejenak sepertinya keputusan yang paling baik. Untuk Reyhan kembali berpikir mana jalan keluar yang terbaik untuk dirinya, Diva dan pihak keluarga agar tidak ada kesalahpahaman lain lagi. Ya, Reyhan harus pergi ke tempat itu.


Setelah berulang kali berpikir yang tidak ada ujungnya, Reyhan memutuskan pergi ke taman tempat dimana ia sering kali memulihkan pikirannya di sana, sekaligus tempat yang ia kunjungi bersama Diva waktu itu. Tiba-tiba kedua bola matanya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di bangku yang kerap kali ia duduki jika datang ke taman tersebut.


Reyhan berjalan mendekat, seseorang itu duduk dengan menundukkan wajah dan rambut terurai menutupi bagian wajahnya. Meskipun demikian, itu tidak membuat Reyhan merasa asing pada seseorang itu.


"Kamu beneran sakit?" Reyhan ikut duduk di sampingnya, seseorang itu mengangkat wajahnya dan menoleh.


"Kok kamu tahu aku di sini?" tanya orang itu yang tak lain adalah Diva.


Reyhan menghela napas panjang dan menghembuskannya. "Hatiku yang memaksaku untuk datang ke tempat ini," ujar Reyhan.


Diva memalingkan wajahnya dari Reyhan, rasanya ia tidak sanggup untuk mengingat kejadian semalam.


Reyhan mengalihkan rambut yang menutupi wajah Diva, lalu menyelipkannya di telinga gadis itu. "Aku tahu kamu pasti terluka atas sikap mamaku semalam, maafkan mamaku atas sikap yang membuatmu terluka seperti sekarang ini! Semua hanya salah paham," ujar Reyhan meminta maaf.


"Kamu pasti kecewa, kamu pasti terluka, kamu pasti berat untuk memaafkan sikap mamaku semalam, tapi aku yakin kamu pasti bisa memaafkannya," tambah pria itu.


Sebanyak apapun Reyhan bicara, namun Diva tetap pada pendiriannya yaitu diam dan membisu. Karena ia tidak tahu harus mengatakan apa. Namun dalam kebisuannya saat ini, sebuah pertanyaan besar tiba-tiba melintas dalam pikirannya.


Diva menoleh dan menatap Reyhan dengan tatapan dalam, bahkan sangat dalam. "Nama kamu siapa?"


Sebuah pertanyaan yang terbilang membingungkan untuk Reyhan. Mengapa tiba-tiba Diva menanyakan hal yang sudah dia ketahui.


"Aku Reyhan, Diva," jawab Reyhan sambil memegang kedua lengan atas Diva dengan erat.


"Aku tanya, nama kamu siapa?" Diva mengulang pertanyaan yang sama.


"Reyhan Alertana."


ALERTANA? Nama itu membuat emosi Diva naik seketika. Rasa amarah yang selama ini ia pendam bertahun-tahun akhirnya bangkit kembali dan tidak dapat ia kendalikan.

__ADS_1


Diva bangkit dari duduknya dengan menepis tangan Reyhan secara kasar.


"Kamu? Jadi selama ini kamu dan keluarga kamu itu yang membuat kakakku menderita di balik sel jeruji besi? Jadi kamu yang merenggut hak hidup dan kebahagiaan kakakku selama ini? Jadi kamu dan keluarga kamu yang membuat orang tuaku hampir kehilangan nyawa?" Diva memaki Reyhan tanpa henti, dengan menunjuk-nujuk wajah Reyhan.


Reyhan langsung berdiri dan mendekap tubuh Diva dengan sekuat tenaga untuk meredamkan amarahnya. Diva terus berontak, Reyhan sampai kewalahan untuk itu.


"Tenang, Diva! Aku bisa jelaskan semuanya!"


"Jangan sentuh aku! Hiks.. Pergi!" Diva memukuli dada bidang Reyhan dengan kekuatan yang ia punya.


"Aku bisa jelaskan semuanya, kamu tenang, ya!"


"Aku bilang pergi! PERGIIII! Hiks.." Diva terus saja berontak, namun itu tidak membuat Reyhan menyerah sebelum ia menjelaskan semuanya pada Diva tentang kebenarannya.


"Aku sayang kamu, Diva! Aku mohon dengarkan aku!"


Seketika ucapan Reyhan barusan membuat Diva sedikit luluh, tenaganya serasa sudah habis juga jika ia gunakan untuk terus berontak. Akhirnya ia memilih untuk mengalah dan menangis dengan membenakan wajah di dada Reyhan.


"Kamu dengarkan penjelasan aku, ya!" Reyhan membelai rambut Diva dengan lembut, mencium pangkal rambut Diva sekilas dengan tipis.


"Aku bisa jelaskan semuanya!" Reyhan juga mengusap air mata Diva menggunakan kedua ibu jarinya.


"Kamu mau kan dengar penjelasan aku?" tanya Reyhan untuk memastikan apakah Diva sudah bisa sedikit tenang, Diva pun mengangguk. Itu artinya ini waktu yang tepat untuk segera menjelaskan semuanya pada diva secara detail, agar tidak ada lagi kesalahpahaman lainnya.


"Yang akan pertama aku ucapkan adalah maaf. Karena aku sadar, semua kesalahanku dan keluargaku," ucap Reyhan mengawali pembicaraan.


"Maaf, kalau dulu aku tidak begitu menyukaimu! Karena wajahmu yang mirip sekali dengan gadis yang aku kira pembunuh Papaku, yang ternyata itu adalah kakakmu, yang membuat aku tidak bisa menyukaimu."


"Maaf, kalau selama ini aku mengira kalau kakakmu yang bernama Devi itu yang sudah membunuh Papaku! Aku benar-benar merasa berasalah dalam masalah ini, karena aku tidak mencari kebenarannya sejak awal." tambah pria itu.


"Andai saja waktu bisa ku ulang, aku pasti akan memperbaiki semuanya. Agar semuanya tidak jadi begini. Agar aku dan keluargaku tidak akan merenggut kebahagiaan kakakmu setelah Papaku merenggut kehormatannya. Aku tidak tahu harus mengatakan apa selain kata maaf, karena kata maaf saja tidak akan pernah bisa menebus kesalahan ini." Reyhan mengerjapkan matanya beberapa kali, agar air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya tidak sampai jatuh.


"Maaf atas perbuatan mamaku semalam, mamaku pikir kamu adalah kakakmu. Tapi kamu tenang saja, aku sudah menjelaskan semuanya sama mama tentang kebenarannya! Walaupun mamaku belum percaya sepenuhnya sebelum ada bukti yang benar-benar menguatkan," jelas Reyhan panjang lebar.


Diva masih diam, ia mencoba mencerna ucapan Reyhan. Kesalahpahaman ini telah fatal, yang membuat kakaknya menghabiskan waktu dengan tersiksa berada di dalam sel tahanan. Namun Devi masih bisa berlapang dada, dengan status nara pidana.


Diva menghela napas panjang lalu menghembuskannya. "Jadi apa yang membuat kamu tiba-tiba baik sama aku, perduli sama aku? Apa karena kamu juga suka sama aku, atau itu semua kamu lakukan hanya untuk menutupi rasa bersalah kamu selama ini?"

__ADS_1


"Tidak, Diva! Apa yang kamu pikirkan itu sama sekali tidak benar," bantah Reyhan. "Aku bisa berubah seperti ini karena--"


"Karena apa? Karena kak Devi yang meminta kamu bersikap baik sama aku? Selama ini kamu berusaha baik sama aku dengan rasa terpaksa, kan? Karena kamu sedang berusaha menebus kesalahan kamu dan keluarga kamu, kan?" tanya Diva berbondong-bondong.


Awalnya Reyhan bisa berubah baik seperti sekarang ini memang permintaan dari Devi. Namun seiring berjalannya waktu, perlahan Reyhan bisa membalas perasaan Diva.


"Kamu kenapa diam, Reyhan? Jawab! Benar kan apa yang aku katakan barusan? Jadi sekarang aku tidak tahu lagi perasaan apa yang aku rasakan untuk kamu. Perlahan perasaanku mulai terkikis oleh rasa benci yang aku tidak tahu kapan datangnya," ujar Diva dengan raut wajah yang amat, amat sedih.


"Tapi kamu tenang saja, Reyhan! Aku sudah memaafkan kejadian semalam, tidak usah khawatirkan aku lagi! Aku baik-baik saja!" Diva bangkit dari duduknya, ia nyaris pergi dari sana jika Reyhan tidak mencegahnya dengan menarik lengan milik gadis itu.


"Tunggu! Aku sadar, apa yang kamu katakan itu benar. Kalau kakak kamu yang minta agar aku bisa berubah. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaan aku sendiri, kalau sekarang aku sudah mulai suka sama kamu. Bahkan saat ini aku sedang berusaha, agar tidak ada lagi kesalahpaman lainnya di antara kita, antara keluarga kita," ucap Reyhan, tulus.


Reyhan memegangi kedua tangan kecil dan halus milik Diva, serta mengunci kembali kontak mata mereka dan mengatakan:


"Aku sayang kamu. Aku mohon beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya!" ucap Reyhan begitu lembut dengan menatap sayup pada wajah Diva.


Tanpa basa-basi atau mengharapkan balasan kata dari mulut Diva, Reyhan langsung menarik tubuh Diva dalam pelukannya. Entah dari mana Reyhan mendapat kekuatan untuk bicara dan melakukan hal yang seperti sedang ia lakukan saat ini. Yang terpenting ia sudah mengungkapkan apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Itu sudah membuatnya sangat lega.


Reyhan melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap kedua manik mata indah Diva. "Kita jenguk kakakmu, ya!" ajak Reyhan.


Diva mengangguk, karena ia sudah tidak mempunyai kekuatan lagi bahkan hanya untuk mengatakan iya saja rasanya sudah tidak sanggup.


Reyhan merengkuh bahu Diva untuk membawanya ke dalam mobilnya.


Semoga saja apa yang kalian rencanakan bisa terwujud. Dan masalah yang kalian hadapi ini segera selesai sampai tuntas ke akar-akarnya. Mudah-mudahan.


.


.


.


Coretan Author:


Follow ig: wind.rahma


Klik Vote di layar depan, lalu vote menggunakan poin ataupun koin. Vote sebanyak-banyaknya, ya!

__ADS_1


__ADS_2