Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Geser


__ADS_3

Siang harinya, bu Sari berjalan tergesa-gesa setelah turun dari taksi online yang Nadira pesan menuju rumah sakit tempat Rania di rawat. Nadira dan pak Burhan sampai kewalahan mengejar bu Sari yang ketinggalan cukup jauh. Namun tiba-tiba bu Sari menghentikan langkahnya ketika ia tidak tahu di mana ruang kamar Rania, dari belakang Nadira dan pak Burhan berlari dengan napas tersengal-sengal.


"Bu, tunggu! Ibu jangan lari-lari, nanti ibu kenapa-napa!" ujar Nadira setelah mengatur napasnya.


"Iya, ibu ini. Kayak yang tahu kamarnya yang mana saja," timpal pak Burhan dengan napas yang tersengal-sengal juga.


"Iya, maaf. Ibu sudah tidak sabar mau ketemu Rania. Ayo Nadira, cepat!"


"Iya, bu. Sebentar ya, aku tanya suster dulu!" Nadira menghampiri suster yang tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini.


"Sus, kamar anggrek nomer 12 sebelah mana, ya?"


"Dari sini lurus, nanti belok kiri, nah di sana kamar anggrek nomer 12," suster menjawab dengan sopan dan ramah.


"Terima kasih, sus!" suster itu menjawab sama-sama, dan Nadira kembali menghampiri ibu dan ayahnya.


"Ayo, bu. Katanya kamar Rania tidak jauh dari sini." Nadira merengkuh bahu ibunya yang nampak sudah lelah akibat lari tadi.


Kini mereka sudah sampai di depan kamar anggrek nomer 12, di sana ada sekretaris Frans duduk di bangku besi untuk tetap stay di sana. Sekretaris Frans langsung berdiri ketika melihat keluarga Rania datang. Sebelumnya Nadira sudah sempat mengabarinya pergi ke sana, jadi sekretaris Frans tidak langsung pulang karena ini menjadi kesempatan untuk bertemu dengan Nadira.


"Nak, Frans. Nak Bagas ada di dalam, kan?" tanya bu Sari.


"Iya, bu. Tuan ada di dalam, mari saya antar!" sekretaris Frans segera membuka pintu dan mempersilahkannya untuk masuk.


"Terima kasih, nak Frans!"

__ADS_1


Sampai di dalam, bu Sari dan yang lainnya mendapati Bagas dengan setianya menemani sang istri walaupun saat ini Rania sedang tidur. Bu Sari seketika kembali meneteskan air matanya ketika melihat puri bungsunya juga terbaring dia atas ranjang pasien rumah sakit. Rasanya sakit sekali, andai saja rasa sakit yang sedang di rasakan purtinya itu bisa di pindahkan pada dirinya. Bu Sari dengan sepenuh hati akan siap menggantikan posisi putrinya saat ini.


Bagas langsung bangun dari duduknya ketika melihat bu Sari sudah datang, ia mempersilahkan ibu mertuanya untuk duduk di kursi yang barusan ia duduki. Bagas juga langsung menyalaminya, menyalami ketiga anggota keluarga tersebut.


"Rania, sayang. Ini ibu, nak. Maaf ya, ibu baru bisa jenguk kamu!" bu Sari membelai lembut rambut putrinya, juga mengecup keningnya secara perlahan.


"Ibu tidak perlu khawatir, Rania baik-baik saja. Dan alhamdulillaah, kandungannya pun baik-baik saja." ujar Bagas, setidaknya menyurutkan kesedihan bu bu Sari.


Bu Sari mengusap perut Rania, yang di dalamnya ada calon cucunya nanti. Ia membenamkan kepalanya di sana sekilas. Bu Sari menyeka air matanya yang mulai jarang, namun seketika ia mengingat sesuatu yang akan ia tanyakan sebelumnya. Bu Sari menoleh pada menantunya, ia menatap Bagas dengan lekat.


"Nak Bagas, memangnya siapa orang yang tega melakukan ini semua pada Rania? Memangnya Rania punya salah apa sama mereka? Sampai mereka berani melakukan hal seperti ini," bu Sari bertanya dengan penasaran yang begitu besar. Seingatnya, dari dulu Rania tidak pernah mencari gara-gara pada siapapun yang akan menimbulkan masalah.


"Iya, nak Bagas. Memangnya siapa orang itu? Berani-beraninya dia melakukan ini semua pada putri ayah. Kalau ayah tahu siapa dia, ayah tidak akan segan-segan untuk mengahajar dan menghabisinya," pak Burhan ikut menimpali, ia mengepalkan tangan dan memukulkannya pada telapak tangannya sendiri.


Semua orang menoleh pada pak Burhan, tidak menyangka kalau pak Burhan juga ikut tersakiti atas apa yang menimpa pada Rania. Ya karena bagaimanapun, Rania ini putrinya. Dan pak Burhan ini ayahnya, tentu saja pak Burhan tidak akan tinggal diam jika ada orang lain yang berani menyakitinya. Walaupun pak Burhan memiliki watak yang keras, tapi pak Burhan juga masih memliki perasaan sayang terhadap keluarga. Seperti yang pernah saya ceritakan di bagian awal cerita.


"Ibu dan ayah tenang saja! Saat ini pelakunya sudah di proses oleh hukum," Bagas berusaha untuk menutupinya saat ini, karena keadaan saat ini tidak memungkinkan untuknya memberitahu pelaku yang sebenarnya.


Keheningan kembali menyelinap di antara mereka semua, yang hanya mereka bisa lakukan adalah menatap Rania dengan iba. Nadira pamit untuk keluar sebentar, dan masih ada sekretaris Frans di sana.


Nadira menatap sekretaris Frans yang sedang duduk dengan wajah menunduk, di tutupi oleh kedua telapak tangannya.


"Ehem.." Nadira berdeham, lalu duduk di sampingnya. Sekretaris Frans terkejut, tiba-tiba dia kelihatan gugup dan salah tingkah.


"Kenapa duduk di sini?" sekretaris sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Tidak boleh? Ini bukan kantor atau rumah sakit milik tuanmu, ini tempat umum. Jadi aku bebas untuk duduk di manapun," protes Nadira.


"Bisa geser sedikit, kan?" titah sekretaris Frans.


Nadira mengernyit, ia melihat ke sampingnya sudah tidak ada lagi deretan kursi, justru yang harus menggeser duduknya sekreatris Frans, bukan dirinya. "Tidak bisa!"


"Geser!" sekretaris Frans sedikit menyeret tubuh Nadira, tentu saja Nadira tidak mau kalah.


"Anda yang harusnya geser, sekretaris Frans!" Nadira menyeret tubuh sekretaris Frans, sehingga terjadi gesekan-gesekan di antara tubuh keduanya.


"Aku bilang geser, ini perintah yang tidak bisa kau bantah!" lagi-lagi sekretaris Frans menggunakan kata-kata andalannya.


"Tidak mau, anda yang harus geser, sekretaris gesrek!" Nadira memelototi sekretaris Frans


"Apa kau bilang? Kau mengataiku gesrek? Mulai berani ya kau ini, sekarang juga, GESER!" sekretaris Frans menyeretkan tubuh Nadira lebih keras lagi, sehingga Nadira nyaris terjatuh jika sekretaris Frans tidak segera menarik tubuhnya.


Kini kedua pasang mata mereka saling menatap dan seakan di kunci kotak matanya. Lagi-lagi sekretaris Frans harus merasakan jantung yang berdegup kencang dan perasaannya yang tidak karuan. Ia menatap bibir lembab Nadira, mengingatkannya pada waktu itu. Seketika bola matanya membulat sempurna, ketika ia baru sadar kalau dada bidangnya kini tengah menempel pada bagian dada yang menonjol milik gadis itu. Sekretarais Frans menelan salivanya dengan susah. Lagi lagi dan lagi, ia di buat gugup, gelisah, panik, dan perasaannya campur aduk, apalagi si Jon miliknya yang ikut-ikutan bangun. Bahaya.


.


.


.


Coretan Author:

__ADS_1


Hallo readers Wind yang manis-manis, sepertinya visual Reyhan akan segera hadir di channel youtube saya. Yuk segera subsctibe agar mendapat notifikasi.


Follow ig: @wind.rahma


__ADS_2