Terpaksa Menikahi Tuan Tajir

Terpaksa Menikahi Tuan Tajir
Kontrak Berakhir


__ADS_3

Malam gelap gulita membuat bumi dan seisinya tampak tidak terlihat, tapi cahaya rembulan yang bersinar menggantikan matahari membuat bumi terlihat terang. Jalananpun tampak ramai dan di padati kendaraan, tapi untunglah Bagas sudah sampai di rumah sebelum jalanan di buat macet.


Di kamar, setelah makan malam, Bagas dan Rania membaringkan tubuhnya masing-masing di atas tempat tidur. Rania bersyukur karena ia tidak lagi di landa kedinginan setiap malam karena tidur di karpet dengan suhu ruangan yang amat dingin itu.


Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Rania, memecah keheningan yang cukup lama terjadi di antara mereka. Rania langsung mengambil ponsel yang ia letakan di sampingnya, di sana tertera nama bang Radit, mengirimkan pesan. Rania langsung membuka kunci layar dan membacanya, yang isinya:


Rania, bilangin sama suami kamu lain kali kalau niat ngasih gak usah tanggung-tanggung, langsung rumah baru aja yang mewah! Jangan lupa mobilnya juga!


Deggg..


Setelah membaca pesan dari abangnya, Rania merasa heran dengan apa maksudnya. Karena ia tidak tahu apa-apa juga soal apa yang sudah suaminya kasih buat keluarganya. Rania melirik Bagas yang sedang menatap langit-langit kamar, bibirnya tidak lepas dari senyum. Tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan, gak mau tahu juga, sih.


"Tuan" panggil Rania ragu


"Hem?" Bagas yang semula menatap langit-langit mengalihkan pandangannya ke wajah istrinya.


"Jangan panggil aku tuan! Aku bukan bosmu. Panggil saja namaku! Dan kau jangan menyebut namamu dengan saya, aku saja!" pintanya


"Baiklah, Bagas" angguk Rania dengan mencoba memanggil nama suaminya penuh kehati-hatian.


"Ada apa?" sekarang bukan hanya wajahnya saja yang ia miringkan ke arah istrinya, tubuhnya juga.


"Kau tadi ke rumah ibuku?"


"Tidak!" Bagas sudah bisa menduga kalau istrinya pasti akan menanyakan soal barang yang di kirim ke rumah ibunya.


"Frans yang ku suruh ke rumah ibumu untuk mengantar barang untuk isi rumahmu" jawab Bagas seadanya.


"Apa?" wajah Rania berubah menjadi panik, entah kenapa.


"Memangnya kenapa?" merasa tidak bersalah dan tidak ada kesalahan yang ia lakukan, Bagas terlihat santai.


"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelum kau melakukannya?! Aku tidak mau kalau aku harus membayar semuanya, lagian aku tidak tahu!"

__ADS_1


Tiba-tiba saja Bagas tertawa terbahak mendengar istrinya ngomong begitu, sementara Rania memasang wajah yang semakin kebingungan.


"Hey, kenapa kau malah tertawa? Kau mau membuat aku menderita lagi, dan ini penderitaan baru untukku?" Rania memukul bantal yang sedang ia pakai ke tubuh Bagas, sementara Bagas malah tertawa geli ulah istrinya.


"Stop! Dengarkan aku dulu!" Raniapun berhenti memukul Bagas dan menggunakan bantalnya untuk alas kepalanya.


"Jadi begini, aku itu kasihan mendengar ayah kamu kerja jadi kuli panggul di pasar. Bukan niat untuk menghina keluargamu, tapi aku rasa dengan penghasilan yang tidak seberapa hanya mampu untuk makan saja. Dan sia-sia juga kan mereka mempunyai menantu tajir melintir kalau kehidupan mereka begitu-begitu saja. Nanti apa kata orang lain, di sangkanya aku yang pelit. Jadi itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan dirimu yang harus membayar apalah itulah. Lagian aku sudah bilang, aku mencintaimu. Berarti tidak ada alasan lagi untukku membuatmu menderita. Paham?!" jelas Bagas panjang lebar. Rania menyimak seluruh yang di katakan suaminya. Ya meskipun dengan alasan apapun tetap saja sifat sombongnya masih melekat dalam diri Bagas.


"Jadi paham tidak dengan yang aku bicarakan barusan?" tanya Bagas lagi karena Rania masih saja diam.


"Iya, paham" sahutnya.


Kemudian Bagas bangun dari tidur, berjalan ke arah lemari besar khusus bajunya, yang di sana juga ada tempat khusus menyimpan data dan berkas pribadinya. Bagas mengambil sebuah berkas berwarna biru, setelah itu ia kembali duduk di tempat tidurnya.


"Kau ingat ini?" Bagas mengacungkan berkas itu memperlihatkan pada istrinya. Tentunya Rania mengingat berkas berwarna biru itu, ia langsung ikut duduk juga.


"Ini adalah surat perjanjian kita, ketika harus menikah denganku, kau harus tunduk dengan semua perintahku. Dan belum sempat kau baca juga karena aku tidak mengizinkannya"


Rania mengingat jelas kejadian itu, ketika ia memohon dan berlutut kepada Bagas. Isak tangis yang keras, air mata yang menderas di pipi, tidak dapat merubah apapun. Saat itulah penderitaannya di mulai. Dimana ia mengalami nasib buruk yang tidak tahu sampai kapan itu akan berakhir. Penderitaan yang begitu menyayat hati, tajam menghujam dan menikam. Namun ia tidak dapat melakukan apapun selain diam, berdo'a dan menunggu waktu ia akan memanen kurma sebagai buah kesabarannya yang manis.


Hari demi hari ia jalani sampai akhirnya Bagas sendiri yang mengubah keadaan menjadi sebaliknya.


"Hey, kau kenapa lagi?" Bagas menggibas-gibaskan tanganya di depan wajah Rania untuk menyadarkannya dari lamunan. Tubuh Rania tersentak, lalu menghapus air mata yang sudah mengalir di pipinya. Bagas membantunya mengusap air mata.


"Aku tidak apa-apa" alibi Rania, seolah-olah ia sedang baik-baik saja. Tapi Bagas tentunya tahu apa yang sedang di pikirkan istrinya.


"Tidak perlu mengingat kejadian itu lagi! Buang seluruh kenangan buruk yang mengganggu pikiranmu itu! Lihatlah!"


Bagas merobek berkas berisi perjanjian antara dirinya dengan Rania. Rania yang melihatnya tidak menyangka kalau Bagas akan melakukan itu. Sebelumnya ia berpikir kalau Bagas akan terus menggunakan surat perjanjian itu.


"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi! Semua penderitaanmu telah berakhir. Dan semisalnya kau menerima makian dari siapapun itu, aku akan ada di garda terdepan untuk membelamu. Kau istriku, kau pantas aku lindungi!" begitu kata Bagas yang membuat Rania meneteskan air mata haru, karena ia tidak menyangka kalau perubahan Bagas akan sejauh itu. Ia hanya meminta kepada Tuhan agar merubah Bagas menjadi lebih baik saja, tapi ini mungkin buah dari kesabarannya.


Sebuah dorongan keras untuk Bagas memeluk tubuh Rania untuk menenangkannya. Tanpa di minta, Rania membalas pelukan Bagas dengan cukup erat. Di sana mereka saling merasakan energi yang begitu kuat. Bagas mengelus pangkal rambut istrinya dengan lembut dan membisikan sebuah kalimat.

__ADS_1


"Jangan anggap kau sendiri, ada aku di sini!" bisiknya membuat Rania semakin mengeratkan pelukannya. Tentunya Bagas tidak menyianyiakan keadaan.


Mata Rania bertemu dengan jam dinding, waktu sudah menunjukan jam 10 malam. Ia melepaskan pelukannya.


"Aku sudah ngantuk" ucap Rania.


"Ya sudah, kau istirihat saja! Aku juga sudah mengantuk"


Rania mengangguk, Rania membaringkan tubuhnya dan Bagas menyelimuti tubuh Rania agar ia tidak kedinginan lagi, setelah sekian lama dirinya membuat sang istri kedinginan di setiap malamnya.


Bagaspun ikut membaringkan tubuhnya, menarik selimut yang sama di gunakan oleh Rania. Ia kembali menatap langit-langit dan mengingat sesuatu. Melirik istrinya yang sepertinya belum lelap tidur, akhirnya Bagas kembali mengajaknya bicara.


"Kau besok akan datang ke acara perpisahan di sekolahmu?" tanya Bagas tanpa memandang wajah istrinya.


Rania membuka matanya kembali ketika suaminya mengajaknya bicara.


"Hem, tentu saja" jawab Rania yakin.


"Apa aku boleh ikut?"


Seketika Rania diam, ia tidak tahu apakah ia harus pergi bersama suaminya? Itu yang sudah ia pikirkan sejak kemarin. Dulu ketika ia keluar dari sekolah, tidak meninggalkan alasan apapun selain tidak memiliki biaya lagi. Tidak ada yang tahu kalau alasan sebenarnya itu menikah, selain Diva, teman terdekat. Ia juga percaya kalau Diva pasti tidak akan membetitahu soal itu kepada siapapun.


Rania berpikir lagi, sepandai-pandainya ia menyembunyikan rahasia, lama kelamaan pasti akan ketahuan juga. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi bersama suaminya saja. Karena jika ia tidak mengizinkan Bagas untuk ikut, Bagas pasti akan terus menerus menanyakan alasannya yang tidak ingin Rania katakan.


"Terserah kau! Kalau mau ya ayo, kalau tidak ya aku tidak memaksamu" ucapnya kemudian kembali memejamkan mata.


"Sungguh?" Bagas meyakinkan, namun Rania tidak menjawab lagi pertanyaan Bagas. Rupanya istrinya itu ngantuk berat, tapi Bagas sudah sangat senang karena ia bisa ikut besok bersama istrinya ke acara di sekolah.


Bagas memutuskan untuk memejamkan matanya. Senyuman masih ia tinggalkan di bibirnya. Dan hanya detik jarum jam yang masih terdengar di sana.


Bersambung...


#CUAP-CUAP_AUTHOR

__ADS_1


Kalau kalian suka dengan cerita TUAN TAJIR. Silahkan tinggalkan like, vote menggunakan poin ataupun koin.


__ADS_2