
Rania berlari menuju kamar mandi, ia takut kalau ia sampah muntah sebelum sampai di sana.
Nadira, ia sedang berada di dapur sedang membuat gorengan di buat heran karena ia melihat ada sosok Rania lewat sepagi ini di rumah.
"Rania? Kenapa dia sudah ada di sini sepagi ini? Apa Rania menginap, ya? Ah, rasanya tidak mungkin. Apa aku salah lihat, ya? Ini kan masih pagi sekali, apa jangan-jangan dia..." Nadira bertanya-tanya pada dirinya sendiri, ia juga bergidik ketika ia berpikir kalau yang ia lihat bukanlah Rania. Ia akan menanyakannya nanti.
Setelah keluar dari kamar mandi, Rania mencoba untuk keluar dan melihat belakang rumahnya. Ia merasakan udara yang sangat sejuk. Sudah lama ia tidak pernah main ke belakang rumahnya, biasanya dulu sebelum mandi untuk berangkat sekolah, ia selalu menghirup udara pagi dahulu di sana.
Matahari sudah mulai terbit, langit juga sudah mulai terang. Rupanya waktu sudah hampir menunjukkan pukul enam. Rania harus segera kembali, karena Bagas juga harus pergi bekerja. Tetapi langkahnya terhenti, ketika ia melihat pohon besar yang menjulang tinggi. Setiap rantingnya memiliki buah yang amat lebat. Buah yang pas sekali untuk orang yang sedang hamil, yaitu mangga.
Rania berjalan mendekat dan menatap pohon mangga itu, ia menelan ludahnya sendiri dan terasa susah sekali.
"Rania, kamu mau mangga?" tanya seseorang terdengar ramah, sebut saja dia pak Samsul. Dia adalah tetangga bu Sari, yang rumahnya persis di samping rumah. Kebetulan pohon mangga itu juga miliknya, dan tumbuh tepat di belakang rumahnya.
"Mau, pak. Boleh?" jawab Rania tanpa memalingkan tatapannya dari pohon mangga.
"Kebetulan, ibu masih punya banyak di kulkas hasil panen minggu lalu. Tunggu sebentar, ya! Saya ambil dulu" ucap pak Samsul bersiap untuk pergi, namun Rania menghentikan langkahnya. Dan yang di maksud ibu oleh pak Samsul adalah bu Retno, istrinya.
"Tidak usah, pak. Terima kasih! Saya maunya mangga yang itu." Rania menujuk mangga yang masih menggantung di pohonnya.
"Kamu mau mangga muda? Saya ambilkan yang di rumah saja, ya. Kebetulan itu sudah matang dan Rasanya manis sekali" tanya dan usul pak Samsul.
"Tapi saya mau mangga muda, pak. Saya sedang hamil, dan mau makan buah masam secama mangga, pasti rasanya segar," Rania terkekeh, ia tifak menginginkan buah mangga yang sudah matang.
"Oh, kamu lagi hamil? Ya sudah kamu tunggu, ya! Saya ambilkan tangga dan bambu, alat untuk mengambilnya"
"Tunggu, pak! Saya mau mangga yang di petik langsung menggunakan tangan" ujar Rania lagi-lagi menghentikan langkah pak Samsul yang akan pergi.
__ADS_1
"Maksudnya di panjat ke pohonnya?" tanya pak Samsul dan Rania membenarkannya.
"Ya sudah, buat orang hamil apalagi buat anak tetangga, saya akan petik langsung dari pohonnya" balas pak Samsul dengan berbaik hati.
"Tapi pak, saya mau suami saya yang petik buah mangga-nya. Masa iya saya ngerepotin pak Samsul suami orang, hehe." Rania memperlihatkan deretan gigi sehingga nampak gigi ginsul manisnya itu.
"Oh, baiklah," pak Samsul mengangguk, "sukur deh kalau ada lakinya, saya gak jadi naik pohon mangga-nya. Masa iya menuhin ngidam istri orang," umpat pak Samsul dan Rania tentunya tidak dapat mendengar.
Nadira yang sedang di dapur mendengar suara orang yang sedang mengobrol di belakang rumah, kebetulan ia sudah selesai membuat gorengannya. Nadira segera mematikan kompor dan menghampiri orang yang sedang mengobrol di belakang rumahnya, ia penasaran juga siapakah mereka?
Di sana terdapat dua orang sedang berdiri di dekat pohon mangga. Nadira menyipitkan matanya, ternyata benar yang ia lihat adalah Rania, adiknya. Bukan set*an atau yang lainnya.
Nadira bergegas menghampiri Rania yang tampak sedang mengobrol dengan pak Samsul, tetangganya.
"Rania," panggil Nadira dan Rania menoleh.
"Oh, jadi yang tadi lewat itu kamu? Kak Nad kira siapa" Nadira menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena sempat mengira adiknya itu set*an.
"Iya"
"Kamu lagi apa di sini?" tanya Nadira bingung, ada pak Samsul pula di sana.
"Rania mau mangga, kak Nad. Pak Samsul sudah menawarkan mangga matang, tapi Rania mau mangga muda itu yang masih di pohonnya" rengek Rania mulai lagi seperti anak kecil sambil menujuk pada mangga yang masih menggantung di pohonnya.
"Pak Samsul kan ada alat buat ambil mangga-nya, Rania. Kalau pak Samsul udah ngebolehin buat ambil, tinggal langsung ambil aja," jawab Nadira dengan gampang.
"Iya, Nadira. Tapi masalahnya, Rania ini mau hasil dari yang di petik langsung, saya sudah menawarkan untuk mengambilkannya. Tetapi Rania mau suaminya saja yang memanjatnya," sahut pak Samsul.
__ADS_1
"Hah?" Nadira merasa tidak percaya. Bukan ia tidak percaya pada pak Samsul Rania yang bicara seperti itu, namun ia tidak percaya kalau Bagas akan melakukan hal itu.
"Ya sudah, suami kamu ada, kan? Kak Nad panggilkan dulu kalau begitu," ucap Nadira kamudian pergi untuk menjemput Bagas di ruang tamu.
"Rania, Rania. Kamu ngidamnya ada-ada aja, deh. Kasihan Bagas, sepagi ini akan di buat repot, haha," gumam Rania dalam hati dan tertawa kecil. Ia tidak bisa membayangkan seorang tuan tajir Bagas Ardinata Kusuma akan memanjat pohon. Sepertinya akan seru.
_ _ _
IKLAN AUTHOR
Reader: Thor lama banget sih up nya.
Author:
Positive thingking: Mungkin mereka tertarik penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
Negative thingking: Yaelah, sabar kenapa. Perasaan saya update tiap hari, deh. Lamanya dimananya coba? Saya juga punya banyak kerjaan kali, gak cuma nulis naskah, huhu.
Reader: Thor, kok cuma satu bab, sih? Yang banyak dong!
Author: Haduh bund, mbak, de, kak, satu bab aja udah bikin kepala puyeng mata merah, yang penting bisa up biar kalian gak protes lama mulu. Kalian mah enak tinggal bilang next/lanjut. Lah saya? Mikirin ide cerita, alurnya, dialognya, PUEBI, dan kawan-kawannya.
Reader: Thor, kok konflik lagi sih? Yang jahat lagi, pelakor lagi. Malas aku bacanya.
Author: Kalau suatu cerita di kasih yang uwu-uwu mulu, nanti yang bacanya jadi manja. Penginnya selalu di zona yang sama. Enggak akan bisa belajar bahwa jatuh cinta dalam Novel pun butuh perjuangan.
Reader: Thor, kok ceritanya mirip cerita sebelah ya?
__ADS_1
Author: Nah kalau pertanyaan yang ini, terserah deh mau bilang apa aja! Jawaban saya, itu mungkin karena di sini hampir seluruh Novel jalan ceritanya tentang perjodohan, nikah kontrak, terjebak, dan masih banyak lagi yang kayak begitu. Makanya kalian bisa bilang kayak begitu. Yang penting saya gak ngerasa aja, ya. Kalian gak usah tahu betapa susahnya saya merangkai setiap kata menjadi sebuah kalimat yang menarik. Kalian cukup nikmati saja ceritanya. Like, tambahkan ke favorit dan VOTE, ya!